Papan Akselerasi, Upaya BEI Membantu UMKM Melantai di Bursa

Hari Rabu, 8 Januari 2019 menjadi salah satu hari bersejarah di BEI dimana perusahaan pertama akhirnya melantai di bursa melalui Papan Akselerasi. Adalah PT Tourindo Guide Indonesia Tbk, bergerak dalam bisnis penyedia layanan pariwisata, yang mencatatkan sahamnya dengan kode PGJO. Emiten ini melepas 48.98% kepemilikannya atau setara 150 juta lembar saham pada masyarakat dengan harga 80 rupiah per lembarnya.

Pencatatan saham ini menjadi menarik karena jika kita melihat perusahaan yang memiliki website dengan nama brand Pigijo masih tergolong sebagai perusahaan rintisan. Dengan kata lain, Pigijo adalah perusahaan kecil yang baru memulai operasinya. Tercatat pada rangkuman laporan laba rugi mereka, Pigijo baru membukukan penjualan sebesar Rp 36 juta selama enam bulan pertama di tahun 2019. Kecil kan? Kecil banget. Mungkin mbak-mbak pedagang skin care di Shopee pun bisa mendapatkan omzet yang setara.

Tahun ini, BEI mencoba memfasilitasi perusahaan-perusahaan dengan size imut seperti Pigijo diatas untuk mendapatkan pendanaan dari pasar modal sesuai dengan POJK 53 melalui Papan Akselerasi sebagai medianya.

Perlu diketahui jika sebelumnya BEI mengklasifikasikan ukuran perusahaan saat mencatatkan namanya di bursa menjadi dua bagian yaitu Papan Utama dan Papan Pengembangan. Papan Utama diisi oleh perusahaan dengan size besar yang telah beroperasi lebih dari tiga tahun dan telah membukukan keuntungan dengan aset bersih minimal 100 miliar. Sementara Papan Pengembangan berisi perusahaan lebih kecil yang baru beroperasi kurang dari dua tahun dengan aset bersih sedikitnya 5 miliar dan cenderung belum memiliki keuntungan positif namun masih prospektif.

BEI mengkategorikan berdasarkan ukuran karena pada dasarnya setiap jenis perusahaan membutuhkan jumlah pendanaan yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang ketika IPO menargetkan dana segar ratusan miliar hingga triliunan, namun ada juga perusahaan lebih kecil yang kemampuannya hanya bisa raising capital puluhan miliar.

Meski begitu, pembagian berdasarkan ukuran tersebut sama sekali tidak bisa digunakan sebagai jastifikasi untuk menilai kualitas dan prospek bisnis dari masing-masing perusahaan. Karena, mengutip dari Liputan6, Bank BCA (BBCA) pun dulu ketika listing berada pada papan pengembangan. Saat ini Bank BCA telah escalate ke papan utama karena ukurannya yang tumbuh semakin besar bahkan menjadi perusahaan yang paling besar kapitalisasinya di Bursa Indonesia.

Sebenarnya sudah ada beberapa startup di bidang tekfin yang lebih dulu IPO melalui papan pengembangan seperti MCAS, KIOS, dan NFCX. Namun untuk mendukung efisiensi biaya, dan tentunya mendorong lebih banyak perusahaan rintisan dan UMKM untuk menggalang dana di Bursa, BEI akhirnya membuat Papan Akselerasi yang peraturannya telah disahkan Juli 2019 lalu. Perusahaan yang telah listing tersebut nantinya akan dievaluasi kembali apakah tetap berada di Papan Pengembangan atau pindah ke Papan Akselerasi.

Sumber: BEI, diolah

Tabel diatas menjelaskan secara singkat beberapa syarat yang diperlukan perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di bursa. Terlihat bahwa perbedaan yang mencolok antara Papan Pengembangan dan Papan Akselerasi terdapat pada permodalan dan status laba usahanya dimana perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya di Papan Akselerasi boleh memiliki Net Tangible Asset dibawah Rp 5 Miliar serta diberi keleluasaan untuk mencatatkan kerugian hingga maksimal tahun keenam berdasarkan proyeksi.

Meski size perusahaan mini, tapi sebenarnya saham yang akan listing di Papan Akselerasi ini lebih menargetkan investor institusional karena sifatnya perusahaan rintisan yang akan IPO cenderung untuk fund raising. Menurut beberapa sumber, hingga tulisan ini dirilis telah ada puluhan perusahaan rintisan yang telah masuk pipeline BEI untuk IPO di 2020.

Selain syarat untuk calon perusahaan, BEI juga membedakan mekanisme perdagangan saham yang ada di papan akselerasi. Saham di papan akselerasi mempunyai batas 10% kenaikan atau penurunan, berbeda dengan papan pengembangan dan papan utama yang memiliki batas pergerakan harga 25% setiap harinya. Hal ini, menurut BEI, difungsikan untuk menjaga volatilitas pergerakan harga saham agar tidak mudah digerakan oleh para manipulator, dan tentunya melindungi investor dari aksi goreng-menggoreng saham.

Meski begitu, papan akselerasi tidak menerapkan batas minimal harga Rp 50, jadi ada kemungkinan saham perusahaan yang listing di papan akselerasi akan meluncur tajam ke Rp 1 jika memang performanya terus memburuk. Jadi bagimana, siap berkembang bersama start-up?

Saya pribadi mengapresiasi langkah BEI yang memberi perlakuan khusus bagi perusahaan-perusahaan baru yang ingin mendapatkan modal, meski jika saya membagi stakeholder di pasar modal menjadi; 1) BEI, 2) Perusahaan Terbuka, 3) Anggota Bursa, dan 4) Investor, maka BEI sebagai Self Regulatory Organization (SRO) lah yang lebih banyak mendapatkan keuntungan karena semakin banyak perusahaan yang mencatatkan sahamnya, semakin banyak pula exposure yang dimiliki, dan tentunya memperbaiki KPI mereka. Lalu bagaimana dengan investor? Tentu saja mereka mendapatkan lebih banyak pilihan untuk berinvestasi, namun mengingat Papan Akselerasi ini berisi perusahaan rintisan yang belum jelas masa depannya, tentu harus ada cost yang lebih juga untuk mengedukasi mereka dalam menentukan saham apa yang cocok dengan profil risiko masing-masing.

Saya sempat bertemu rekan saya yang bekerja sebagai Analis Ekuitas di salah satu Anggota Bursa, menanggapi rilisnya Papan Akselerasi ini beliau bercanda, “Mendingan kita bikin PT Nasi Uduk aja cuy, asal udah jalan setahun, nyusun proyeksi usaha dibikin mentereng, terus IPO deh. Lumayan kan bisa raising Rp 1 Miliar, nanti duitnya buat jajan”. Hehe, ya memang sepertinya semudah itu, meskipun secara administratif tentu jauh lebih banyak yang harus dipersiapkan.

Tapi intinya adalah, dengan kelonggaran peraturan BEI yang mengkhusukan tempat bagi para UMKM untuk mencari dana dari masyarakat lewat Pasar Modal sudah menjadi nilai tambah tersendiri bagi dunia usaha. Mereka jadi mempunyai akses yang lebih beragam untuk mendapatkan dana selain dari perbankan.

Sekarang, infrastuktur pendanaan baru sudah mulai dibentuk. Apakah anda, sebagai pemilik UMKM, siap untuk mengupgrade bisnis anda menjadi lebih profesional? The choice is yours.

Berita Hoax dan Cognitive Bias

Bersamaan dengan deklarasi pemilu damai yang diadakan di Tugu Proklamasi hari Minggu lalu (23/9), maka rangkaian acara pesta demokrasi terbesar di Indonesia telah resmi dibuka yang juga ditandai dengan mulai berlakunya jadwal kampanye bagi masing-masing pasangan Capres-Cawapres. Para elit partai mulai menyusun strategi, masyarakat pun siap bereaksi. Berita politik siap membanjiri setiap media yang tersedia.

Selain visi-misi setiap pasangan Capres-Cawapres, banyaknya model pemberitaan mengenai pemilu kali ini juga layak untuk dibahas. Mengingat berita dan informasi tentang pemilu justru jauh lebih mudah menyebar melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga grup Whatsapp. Lebih dari itu, media sosial yang di era sekarang ini pun sifatnya bukan hanya untuk menyebarkan berita namun juga difungsikan sebagai alat politik guna menggiring opini (dalam konteks positif maupun negatif) netizen. Menanggapi hal ini, beberapa waktu lalu salah satu stasiun televisi mulai membahas, apakah kita bisa menjalani periode pemilu dari masa kampanye hingga hari pencoblosan tanpa informasi-informasi hoax yang cenderung mengintimidasi? Well… Continue reading “Berita Hoax dan Cognitive Bias”

Membaca Perekonomian Indonesia dari Komponen Penyusun PDB

Bulan Februari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2017 dengan pencapaian 5.07%, naik tipis dari tahun lalu yaitu 5.02%. Meski begitu angka tersebut masih dibawah target pemerintah yang dituangkan dalam asumsi dasar ekonomi makro pada anggaran dasar APBN 2017 sebesar 5.10%, bahkan beberapa institusi international seperti ADB dan IMF pun punya prediksi yang lebih tinggi yaitu 5.20%. Jadi, secara pribadi tentunya saya kurang puas dengan hasil tersebut.

PDB sendiri sampai saat ini masih menjadi indikator utama untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika dilihat dari beberapa tahun terakhir memang pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu dibawah ekspektasi. Berbagai macam spekulasi dan analisa pun muncul untuk mencoba menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Melalui tulisan ini, saya mencoba memaparkan faktor apa saja yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga kita mampu melihat beberapa masalah dan peluang yang masih bisa dikembangkan untuk mencapai perumbuhan yang lebih optimal. Continue reading “Membaca Perekonomian Indonesia dari Komponen Penyusun PDB”