Hemat Pangkal Kaya, Benar kah?

Sejak punya ponakan yang mulai beranjak bisa diajari sedikit demi sedikit tentang ilmu pengetahuan, entah apa pun itu (bahkan sama ayahnya sendiri udah mulai diajari beberapa kata dalam Bahasa Inggris) aku jadi mulai sedikit concern juga terhadap perkembangannya.

Bukan hanya ponakanku sendiri, tapi semua anak-anak dibawah lima tahun yang mulai diajari berbagai macam istilah juga pengertian peribahasa semacam ‘rajin pangkal pandai’, ‘hemat pangkal kaya’, dan sebagainya. Walaupun aku nggak tau juga sebenernya ponakanku udah Cost-of-raising-a-childpernah diajari pepatah gituan atau belum. Namun dalam kasus ini, aku sangat tergangggu dengan kalimat yang kedua, hemat pangkal kaya. Why?

Hemat pangkal kaya. Apakah dengan berhemat bisa jadi key driver kita untuk jadi kaya? Sebelumnya mari kita menyelaraskan makna dulu jika kaya yang aku maksud disini adalah materi atau kasarnya uang karena jelas dari kata sebabnya adalah hemat. So I repeat, benarkah untuk menjadi kaya, atau paling tidak serba kecukupan kita harus berhemat? Bisa saja, tapi aku melihat kesalahan yang cukup fatal disini.

Untuk mencapai financial glory (bahasaku sendiri untuk menyebut kaya atau kecukupan), ada dua hal yang paling utama. Pertama adalah sumber pemasukan (income), kedua adalah pengeluaran (expenses). Jadi bisa ditulis seperti ini, untuk mencapai financial glory kita harus mempunyai income yang jauh lebih tinggi dari expenses. Atau bisa juga, financial glory tercapai jika kita hanya memiliki expenses yang jauh dibawah income. Jika ditulis rumus matematika, Financial Glory = Income – Expenses. Tentunya Financial Glory sendiri harus bernilai positif.

Kembali ke pepatah hemat pangkal kaya. Jika kita menghubungkan hemat dengan formula diatas, ini akan lebih cenderung berkaitan tentang lajur expenses atau pengeluaran. Tujuan hemat adalah mengurangi sebanyak mungkin pengeluaran kita sehingga income yang didapatkan nggak terlalu tergerus untuk memenuhi expenses. It works, income menjadi lebih besar karena pemotongan expenses dengan cara berhemat. Lalu masalahnya dimana?

Alam bawah sadar itu lebih berperan daripada alam sadar untuk mencipatakan perilaku seseorang selanjutnya. Unconsious mind is the key driver to build people behavior, Bahasa Inggrisnya gitu yang lebih simpel. Apa yang tertanam pada pikiran anak sejak kecil akan membentuk karakter dan perilaku mereka ketika besar nanti. Jika anak dibiasakan untuk ibadah (misalnya sholat) sejak kecil sehingga sedikit demi sedikit ibadah akan mengisi alam bawah sadar mereka untuk terus melakukannya, maka besar nanti mereka akan merasa jika ibadah adalah bagian dari hidupnya. Contoh yang tepat, tapi agak sedikit melebar dari topik. Mungkin akan dibahas ditulisan yang lain.

Bagaimana dengan hemat? Jika anak dari kecil ditanamkan untuk hemat itu memang bagus, tapi ada efek sampingnya. Ketika anak diajari berhemat, besar nanti apa yang dipikirkan adalah bagaimana caranya mereka memangkas pengeluaran sehingga ditakutkan akan mengeliminasi pengeluaran yang memang seharusnya tetap ada. Kenapa? Karena unconsious mind anak befikir jika berhemat akan memberikan sisa uang dalam kas mereka. Bisa saja nanti anak-anak jadi malas sedekah, atau juga enggan mengambil resiko untuk memulai usaha karena takut kehilangan uang.  Intinya, pepatah tadi efek sampingnya justru akan membuat anak menjadi pelit. Menurutku, pepatah yang tepat itu sebenarnya HEMAT PANGKAL PELIT. Trust me, it really is.

Loh, bukankah hemat itu juga mengajarkan anak untuk menabung? Benar sekali, tapi kurang tepat. Karena dalam pepatah tersebut sama sekali tidak berhubungan tentang kebutuhan sekarang dan kebutuhan mendatang karena yang mereka ingat hanya ‘hemat’ yang artinya hanya fokus mengurangi pengeluaran.

Jika memang ingin mengajarkan menabung, harus memahami kebutuhan sekarang dan mendatang dulu dan itu tidak terdapat pada lajur expenses dalam rumus matematika tadi, tapi justru ada pada pada lajur income. Karena esensi menabung adalah menyisihkan sebagian pemasukan atau income sebagai bentuk reserved income untuk masa mendatang, jadi tidak ada hubungannya sama expenses. Dengan kata lain mengajari anak untuk menabung tidak bisa melalui pepatah ‘hemat pangkal kaya’, karena hemat dan menabung berasal dari lajur yang berbeda berdasae rumus Financial Glory tadi.

Lalu, apakah hemat pangkal kaya sepenuhnya salah? Tidak juga. Menurutku, pepatah yang tepat itu sebenarnya SEDEKAH PANGKAL KAYA. Trust me, it really is.

SEDEKAH-2Bagaimana mungkin dengan sedekah yang berada di lajur expenses bisa menambah kaya, padahal jika sedekah bertambah maka otomatis expenses juga akan makin bertambah? Disini lah uniknya.

Seorang anak harusnya mulai diajarkan tentang kehidupan orang diluar sana. Biarkan mereka sadar sejak dini jika nggak semua orang memiliki nasib seperti dia. Sehingga unconsious mind mereka nantinya akan membiasakan diri untuk saling menyetarakan dan berbagi lewat sedekah. Nah, sifat berbagi pada sesama ini lah yang nantinya akan membuat seorang anak menjadi qona’ah atau merasa kecukupan. Tanpa harus menghitung berapa yang udah jadi expenses dan berapa yang jadi income, pada akhirnya seorang anak nantinya akan tetap mencapai financial glory karena udah merasa cukup dengan apa yang dia dapat mengingat sedekah yang selalu diberikan pada orang yang masih belum memiliki nasib seperti mereka.

In short, sedekah membuat seseorang menjadi ingat orang lain yang kurang mampu dan akan lebih mensyukuri apa yang dimiliki. Disitu lah financial glory pada level tertinggi karena tidak memperdulikan harus mempunyai income seberapa banyak juga tanpa takut kehilangan berapa banyak untuk sedekah.

sedekahBelum berhenti sampai disini, jika anak kecil dibiasakan sedekah maka nantinya justru tidak takut untuk memulai usaha atau bisnis karena udah biasa mengeluarkan uang. Dalam hal ini, mengeluarkan uang untuk modal usaha bukan lah hal yang berat secara niat. Tujuan usahanya pun akan lebih baik tanpa harus fokus ke income karena mereka udah merasa qona’ah. Pure doing business for society welfare. Terlebih, berawal dari sedekah bisa juga nanti muncul kemandirian dan tanggung jawab.

Jadi, mana yang lebih benar. Sedekah pangkal kaya? Sedekah pangkal mandiri? Sedekah pangkal tanggung jawab? Apapun itu masih jauh lebih bagus dari HEMAT PANGKAL KAYA.




2 thoughts on “Hemat Pangkal Kaya, Benar kah?

  1. anonim

    Mungkin financial education ke Ibu harus diperhatikan terlebih dahulu. Orang tua khususnya Ibu itu mentri keuangan sekaligus guru ekonomi bagi keluarganya 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.