Ketika Agama dan Ilmu Pengetahuan Saling Bersinggungan

Pada TV Series The Big Bang Theory Season 8, Episode 12 terdapat satu scene yang menarik untuk dibahas. Ketika itu Howard mempertanyakan niat Raj yang berencana untuk beribadah ke pura karena kekhawatiran akan space probe yang diluncurkan ke Pluto sejak sembilan tahun yang lalu menemui kendala.religion-vs-science-1

Ditengah perjalanan Howard bilang pada Raj, “So, as a scientist you believe the way to understand the universe is trough facts and evidence, and now you’re counting on some blue chick with hundred arms to help you?”

Yeah, I hear you. That was so rude and offensive.

In case you miss it, mereka berdua termasuk scientist yang sebenarnya beragama. Howard seorang Yahudi, dan Raj seorang Hindu. Namun dalam Serial ini mereka terlalu passionate terhadap science sehingga mereka mengesampingkan agama dan berfikir the way as scientist does: Understand the universe through facts and evidence.

Apakah kondisi orang-orang jaman sekarang memang seperti yang digambarkan pada serial komedi tersebut?

Stephen Hawking salah satu ilmuan paling berpengaruh pada abad ini pernah membuat pernyataan yang kontroversial lewat bukunya The Grand Design. Dia menyimpulkan bahwa peristiwa Big Bang sebagai awal terbentuknya jagat raya tidak memerlukan campur tangan Tuhan.

Neil deGrasse Tyson seorang astrophysicist yang cukup digandrungi anak jaman sekarang pun pernah bilang, “I don’t have an issue with you do in church, but I’m going to be up in your face if you’re going to knock on my science classroom and tell me they’ve got to teach what you’re teaching in your Sunday school. Because that’s when we’re gonna fight”

Bill Nye yang mendapatkan predikat “The Science Guy” karena profesinya sebagai science educator untuk anak-anak pun dikenal sebagai agnostik seperti yang dikutip Huffington Post pada videonya disini.

Ada lagi pakar primata dari Emory University, Frans de Wall, menyatakan bahwa manusia tak memerlukan agama untuk mempunyai moral.¬†Bahkan salah satu akun Twitter yang berbasis tentang science pun pernah mengutip, “If you feel difficult to understand science, try religion”

Masih banyak lagi contoh ilmuan jaman sekarang atau orang ateis sekalipun yang memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama sebagai dua hal yang bertentangan.

Jika ditinjau dari segi filsafat pun sebenarnya ilmu pengetahuan dan agama memiliki dasar dan tujuan yang berbeda. Ilmu pengetahuan berfungsi sebagai kerangka konseptual yang saling berkaitan dan berkembang melalui percobaan serta pengamatan segala peristiwa di dunia melalui fakta dan bukti. Sedangkan agama yang berasal dari Tuhan berisikan aturan dan tatanan kehidupan yang sudah bersifat mutlak sebagai pegangan hidup manusia.

Dari segi tujuannya memang ilmu pengetahuan dan agama itu berbeda, tapi bukan kah perbedaan itu tidak harus bertentangan satu sama lain kan? Mengingat keduanya mampu saling melengkapi dan berjalan beriringan.

Jika bicara tentang pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama, maka perlu dilihat darimana dan sejak kapan kedua dasar paling penting dalam kehidupan manusia tersebut mulai berkembang saling membelakangi, terutama dalam dunia barat.

Pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama yang paling bersejarah terjadi pada tahun 1616 ketika Galilleo mengeluarkan statemen yang dikenal sebagai heliosentris, atau Matahari sebagai pusat tata surya dan Bumi bergerak mengelilingi matahari.

Statemen tersebut sangat bertentangan dengan kepercayaan gereja yang pada waktu itu dipimpin oleh Paus Paul V. Galilleo dianggap menghina keyakinan masyarakat setempat yang sudah berkembang sejak lama.

Baru sekitar 350 tahun setelah peristiwa itu, Gereja mengakui kesalahannya dan membenarkan teori Galilleo. Meskipun sudah mulai sejalan, tapi pertentangan dari Gereja pada teori Heliosentris membuat perkembangan ilmu pengetahuan sedikit-demi sedikit menjauh dari konsep Agama. Kenapa ajaran Gereja yang notabene berasal dari bibel pada waktu itu justru malah bisa salah dalam menerjemahkan peristiwa alam? Mungkin pertanyaan itu menjadi salah satu alasan kenapa banyak scientist jaman sekarang yang nggak percaya dengan agama.

Selain itu, muncul juga peristiwa yang nggak kalah kontroversial bahkan perdebatannya pun masih berlangsung sampai sekarang. Adalah seorang Charles Darwin melalui bukunya The Origin of Speies yang diterbitkan pada tahun 1859 menyatakan bahwa semua makhluk hidup di dunia ini termasuk manusia berevolusi dari satu bentuk sehingga memiliki common ancestor atau garis keturunan yang sama.

Kontroversi terjadi melalui perbedaan yang diyakini oleh penganut agama samawi termasuk Islam yang menyatakan dengan teori “sudden creation” yaitu makhluk hidup berasal dan diciptakan oleh Tuhan, bukan melalui proses evolusi. Sehingga sampai saat ini terbentuk dua kubu yang saling memperdebatkan teori tersebut yaitu Creationist vs Evolusionist.

Perlu diketahui bahwa Charles Darwin pada mulanya adalah calon pendeta, namun karena pemikiran teorinya tersebut kepercayaan Charles Darwin mulai memudar.

Dari perbedaan teori yang memakai dasar agama dan berdasarkan penelitian secara langsung tersebut bisa dibilang juga sebagi salah satu penyebab ilmu pengetahuan dan agama pada jaman modern sekarang berjalan saling menjauhi. Jadi mana yang benar, creationist atau evolutionist? Daripada sibuk mencari jawaban tersebut, akan lebih baik jika berusaha kembali membuat keduanya saling bersanding.

Peristiwa yang dialami Galilleo dan Darwin merupakan titik awal yang digunakan untuk mencari banyaknya misteri yang belum terungkap di dunia ini. Karena dari Galilleo tersebut, muncul cabang ilmu astronomi yang lain termasuk penciptaan alam semesta. Sedangkan Darwin, mewakili ilmu yang selama ini mencari asal-usul adanya kehidupan disebuah planet. Ya, benar-benar dasar dari segala keingintahuan manusia.

a-new-deal-for-religion-and-science-e1342897019158-640x360Dalam setiap agama samawi baik Islam, Kristen, Yahudi sebenarnya sudah dijelaskan mengenai asal usul alam semesta, meski dengan beberapa perbedaan. Dari situ lah kebanyakan ilmuan mempertanyakan kebenaran agama yang bersifat mutlak dan muncul dengan cara yang susah diterima secara logika. Ketika sejarah dari keduanya saling bertentangan dengan kepercayaan spiritual, maka seperti saat ini lah jadinya. Non-believer dan believer saling menyerang mengatasnamakan agama dan ilmu pengetahuan demi melindungi pendapat masing-masing.

Memang nggak semua ilmuan itu ateis atau sama sekali nggak percaya agama. Isaac Newton misalnya, ilmuan yang terkenal dengan karyanya tentang gravitasi dijuluki sebagai “Man of Science, Man of Religion” karena keseimbangannya dalam memaknai agama dan ilmu pengetahuan.

Albert Einstein pun termasuk orang yang percaya dengan Tuhan meskipun masih kontroversi dengan adanya kabar bahwa dia sempat berpindah-pindah keyakinan, tapi quote yang bisa mendasari jika dia seorang believer adalah ketika diabilang “The more I study science, the more I understand about God”.

Khususnya dari pihak ilmuan sendiri yang terlalu agresif menentang agama dalam proses untuk memenuhi rasa ingin tau mereka terhadap rahasia alam. Bisa kah jika kita bilang kalau kesalahan mereka ada pada cara pemahaman terhadap agama itu sendiri, atau lebih khususnya agama apakah yang menjadi acuan mereka untuk membandingkan hasil ilmu pengetahuan dengan hukum yang berlaku dari Tuhan? Mengingat kebanyakan ilmuan yang didukung dengan teknologi canggih adalah dari dunia barat.

Jika boleh menyimpulkan dari fakta yang menunjukan bahwa banyak ilmuan non-believer dan juga ilmuan believer, sebenarnya jarak yang membuat ilmu pengetahuan dan agama semakin menjauh itu didasari oleh dua hal: kurang memahami ilmu pengetahuan atau kurang memahami agama. Fanatisme terhadap salah satunya pun juga termasuk penyebab, misalnya salah satu scene percakapan Howard dan Raj pada The Big Bang Theory yang ditulis di atas.

Well, mampukah keduanya saling bersatu kembali? Seandainya para ilmuan menabikan Albert Einstein, sebenarnya nggak perlu mereka saling memusuhi hukum agama. Science without religion is lame, religion without science is blind. Begitu katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.