Terjebak Dalam Job Hunting Paralysis

Barusan blog walking dan ketemu sama tulisannya adek angkatan dari kampus yang cerita pengalamannya masuk job fair. Oke, aku juga mau sekedar berbagi pengalaman tentang susahnya menantangnya nyari kerja biar nggak ada lagi yang punya kisah suram kayak yang aku alami. Kebetulan bulan ini adalah tepat setahun setelah aku dinyatakan lulus pendadaran dan setengah resmi menjadi Sarjana Ekonomi, udah setahun coy. Namun sama juga dengan cerita yang aku baca, sebelum lulus pun aku juga udah mulai iseng-iseng apply kerjaan.

Pengalamanku dalam mencari kerja udah mulai saat skripsi bahkan belum menemukan titik terang, karena semuanya hanya berawal dari rasa penasaran tentang “Kira-kira kalau mahasiswa lulusan Ekonomi dengan background pengalaman yang aku miliki itu paling sesuai kerja dimana?”. Iya, dulu masih polos banget sama yang namanya nyari kerjaan. Meskipun sebenarnya udah punya cita-cita pengen jadi financial analyst atau lsukur-sukur jadi fund manager, tapi kan ya tetep belum paham kalau cita-cita seperti itu bagusnya masuk ke perusahaan apa sebagai awalan atau setidaknya batu loncatan.

Mulai lah googling sana-sini nyari lowongan kerja yang sesuai dengan cita-cita atau sekedar nyari perusahaan yang nantinya bakal buka posisi yang diinginkan. Akhirnya ketemu beberapa perusahaan yang menurutku menjadi tempat impian untuk belajar demi menggapai cita-citaku, yaitu; JP Morgan, Schroder, Standard Chartered, Citibank, Danareksa, Accenture, dll. Banyak sih, yang jelas semuanya termasuk perusahaan yang bergerak di Financial Institution dan Consulting Firm.

Nah, itu yang pertama kali aku lakukan. Aku menentukan dulu batasan perusahaan yang nantinya bakal berjodoh dan berkembang bersamaku haha. Seperti yang aku bilang tadi, aku pengen jadi financial analyst maka batasanku ada dua macam yaitu beberapa posisi dari perusahaan yang bergerak dibidang financial institution, atau semua perusahaan sektor apapun dengan posisi sebagai finance staff. Intinya, pokoknya dalam pekerjaanku nanti aku harus dealing with financial issues.

Perburuan dimulai dengan membuat profil online di Jobstreet dan JobsDB, meski belum lulus yang penting hajar aja bleh. Akhirnya apply sana-sini bermodal ‘yang penting asique’. Niatnya kan cuma iseng-iseng doang, nyari pengalaman gitu. Sampai pada akhirnya dapat panggilan pertama untuk interview ke Jakarta, tapi nggak datang. Soalnya perusahaannya nggak jelas. Beberapa hari kemudian muncul lagi undangan interview dari salah satu perusahaan sekuritas di Semarang, nah kali ini aku datang. Bener-bener pengalaman pertama ngadepin interview pekerjaan, padahal pendadaran aja belum.

Pengalaman pertama nothing special sih, cuma ditanyain pengalaman sama pengetahuan tentang pasar modal gitu. Akhirnya karena blablabla aku escape close pada saat ditanya sama interviewernya “Kamu berani nggak saya kasih target transaksi blablabla?”. Waw, ngeri. Aku bilang aja jujur karena posisinya juga nggak terlalu menarik perhatian. Jadi ya pada saat itu juga aku bilang nggak siap dan prefer ke posisi yang satunya lagi, tapi karena posisi lain membutuhkan requirement yang lebih tinggi ya akhirnya nggak jadi juga.

Dari situ aku berfikir, loh ternyata nyari kerja itu asik ya. Akhirnya lanjut lah perjuanganku yang asal apply sana-sini demi sekedar nyari pengalaman doang, karena ya faktanta memang terasa asik bersaing dengan orang lain.

Perlu diketahui meskipun aku cukup keras dalam menentukan tujuan hidup, tapi aku juga apply ke perusahaan yang jauh dari cita-citaku, bahkan aku sempat daftar CPNS juga. Hal yang perlu diingat adalah, kamu berencana Tuhan yang menentukan. Aku nggak mungkin memungkiri itu, jadi aku ambil aja semua kesempatan. Meskipun, you know, aku sama sekali nggak pernah niat kalau lagi proses rekrutmen di instansi yang nggak aku sukai dengan maksud kalau memang jodoh, ya nggal bakal kemana meski nggak niat. Pokoknya idealis tapi tetep konservatif.

Perjuangan berlanjut sampai setelah pendadaran dinyatakan lulus, kali ini pun lebih merasa pede menghadapi rekrutmen. Karena, ya udah lulus meski belum punya Ijazah. Mei 2014 dinyatakan yudisium, tapi wisuda terdekat waktu itu diundur jadi bulan Agustus 2014 sesudah lebaran. Nah, karena jeda antara lulus dan wisuda cukup lama jadi ya masih santai aja apply sana-sini yang penting asique. Pokoknya sebelum wisuda, nikmatin dulu aja nyari kerjanya.

Berbagai macam perusahaan udah pernah aku ikuti proses rekrutmennya. Dari mulai bank, sekuritas, asuransi, otomotif, fmcg, infrastruktur, bahkan oil company juga. Hampir semua sektor aku pernah merasakan proses rekrutmennya. Dari proses seleksi yang niat banget sampai yang cuma bercanda doang, dari mulai yang prosesnya di Jogja sampai ke luar kota. Banyak lah lika-liku selama perjuangan job hunting.

Hasilnya? Paling kalau nggak gagal di psikotes ya hanya berakhir di seleksi administrasi. Lha ini, lampu kuning mulai menyala! Sampai setelah wisuda pun progresku dalam job hunting gitu-gitu aja. Bahkan dua bulan setelah wisuda pun rasanya kok kalau mengikuti proses rekrutmen cuma berhenti disitu-situ aja, nggak lebih dari sekedar seleksi administrasi dan psikotes.

Akhirnya setelah mencoba berkaca, ngobrol dengan temen, dan beberapa kali percobaan bunuh diri (haha, ini bercanda), aku mulai menemukan masalahku sebenarnya. Saat itu aku diajak, “Ayo nanti malam belajar buat psikotes Bank XXX besok pagi”. Memang saat itu aku lagi mau ada proses rekrutmen di bank tersebut. Aku tertawa kecil, haha emang perlu belajar ya? JENG JENG!

Nah ini nih, selama ini aku selalu berfikir bahwa dalam setiap rekrutmen itu pasti yang dicari lebih ke ability dan personality kandidat. Apalagi kalau masalah personality, menurutku nggak perlu belajar lah ya, just be yourself. Sehingga kalau udah paham dengan apa yang akan dilakukan pada posisi yang dilamar, dan visi hidup kandidat sesuai dengan kultur yang dimiliki perusahaan ya oke lah pasti akan sangat dipertimbangkan untuk masuk ke perusahaan oleh recruiter. Makanya setiap proses rekrutmen aku cuma bermodal diriku yang polos ini. Here I am. Seperti ini lah aku, pengalamanku, pengetahuanku, visiku. Cocok nggak sama perusahaanmu? Terkesan terlalu percaya diri dan sombong memang.

Makanya selama berbulan-bulan aku nggak pernah mempersiapkan secara khusus dalam menghadapi setiap rekrutmen, akhirnya ya emang kebanyakan mentok di psikotes aja. Apalagi psikotes itu kan tes yang lebih fokus untuk mengukur seperti apa karakter kita, jadi nggak perlu belajar sih. Padahal, faktanya, psikotes atau tes tertulis dalam semua rekrutmen itu ternyata butuh dilatih. Butuh dibiasakan. Karena hasilnya akan sangat berbeda sekali antara yang udah beberapa kali ikut tes tersebut sama yang masih pertama kali ikutan. Masalahnya aku udah sering ikutan tapi nggak pernah melatih tes-tes macam tersebut. Ini yang aku pikir jadi masalah utama kenapa aku nggak pernah melaju lebih dari psikotes ini, tapi kalau aku tmenerawang lebih jauh lagi ternyata ada yang lebih mendasari kenapa aku menjadi seperti ini.

Job hunting paralysis. Begitu aku menyebutnya, keadaan dimana aku masih nyaman dengan nyari pekerjaan yang hanya berniat nambah pengalaman doang tanpa ada pertimbangan untuk lolos ke fase selanjutnya. Kenapa? Because I started too early. Because I was blinded by curiosity. Ternyata terlalu asik mencoba job hunting karena lebih penasaran dan pengen tau prosesnya doang daripada pengen dan berniat untuk lolos menjadikanku teramat polos dan bodoh untuk menjadi sadar bahwa sebenarnya proses rekrutmen itu butuh persiapan ekstra keras. Bagaimana tidak, masuk universitas ternama aja butuh belajar banyak banget apalagi seleksi masuk ke perusahaan yang nantinya bakal bayar jasa kamu. Mana ada perusahaan yang rela bayarin orang yang nggak ada usaha sama sekali kan? Duh. Ternyata selama ini aku hanya terjebak dalam job hunting paralysis, nggak ada progres, nggak ada hasil. Kelumpuhan pola pikir. Mentok.

Akhirnya aku sadar, meski udah cukup terlambat karena baru tiga bulan aku menyadari kebodohanku tersebut. Ya setidaknya aku mengakui kalau aku bodoh dan berusaha memperbaikinya. Setelah itu I don’t wanna loose any other chance, karena pada masa job hunting paralysis tersebut aku udah melewatkan beberapa perusahaan yang menurutku cukup lumayan sebagai tempat belajar untuk menuju cita-citaku. Mulai dah segala sesuatunya dipersiapkan matang-matang mulai dari tipe psikotes, interview, bahkan rajin jogging biar sehat pas tes kesehatan. Lol.

Namun ya harus diakui setelah aku menyadari kesalahanku, aku juga nggak langsung mendapatkan pekerjaan karena beberapa masalah lain. Biasanya karena interview yang hasilnya nggak terlalu cocok antara visiku dan visinya perusahaan, tapi aku nggak terlalu mempermasalahkan karena kalau udah menyangkut hal tersebut ya wajar aja karena pada akhirnya nanti cocok-cocokan aja antara kandidat dan perusahaan. Istilahnya tinggal tunggu aja perusahaan yang benar-benar cocok dengan visi, kultur, jenjang karir, dan *ehm* gaji.

Sekedar info tambahan untuk semua yang masih awam dalam hal mencari pekerjaan, biasanya secara umum urutan proses rekrutmen itu seperti ini:

  1. Seleksi Administrasi (Screening requirement yang dibutuhkan perusahaan)
  2. Psikotes/Tes Tertulis (Screening kemampuan logika dan personality)
  3. Focus Group Discussion (Diskusi pemecahan kasus. Opsional, nggak semuanya ada beginian)
  4. Interview HRD (Konfirmasi apakah personality sesuai dengan hasil psikotes dan sesuai dengan perusahaan)
  5. Interview User (Interview tentang kemampuan khusus apakah mampu menjalanjan pekerjaan sesuai job desc)
  6. Medical Check Up (Tes kesehatan apakah dinyatakan fit untuk bekerja atau tidak)
  7. Contract Offering (Nothing to worry, tinggal tanda tangan aja kalau udah merasa cocok)

Well, aku nggak ada tips khusus untuk menghadapi setiap proses rekrutmen. Hanya saja yang perlu aku sampaikan disini adalah; BE YOURSELF. Simple words yet it has big meaning. Menurutku, kesalahan mendasar beberapa applicant adalah berusaha menyesuaikan dirinya dengan apa yang diminta oleh perusahaan yang sedang buka lowongan. Artinya mereka berusaha menjadi orang lain, yang penting cocok dengan apa yang dibutuhkan perusahaan.

Misalnya aku pernah interview di salah satu perusahaan otomotif, ditanyain apakah menguasai atau setidaknya mengikuti tentang info dunia otomotif ya aku jawab aja iya karena aku pengen terlihat tau dengan otomotif padahal aslinya nggak suka sama sekali tentang otomotif. Nah, ini yang salah.

Makanya sebisa mungkin kalau dalam mencari pekerjaan awal itu sebaiknya menunjukan apa sebenarnya kelebihanmu tanpa dibuat-buat, tanpa harus menyesuaikan apa yang dibutuhkan perusahaan. Karena orang HRD nantinya juga bakal tau kamu bohong apa nggak, kalaupun kamu lolos dan dapat job desc yang nggak sesuai dengan kemampuanmu nantinya juga bakal stres sendiri.

Jadi pertimbangan tersebut udah harus dimulai dari sejak awal apply ke perusahaan. Seperti yang pernah aku tulis pada tulisanku sebelumnya, kalau bisa fokus dengan cita-citamu sendiri jangan terlalu terbuai dengan perspektif yang dibentuk orang lain. Apply aja yang kira-kira dapat menuntunmu menuju cita-citamu yang sebenarnya. Sukur-sukur ke perusahaan yang bisa menjadikanmu berfikir mandiri dan bekerja independent yang akhirnya menuntunmu untuk membuat startup sendiri.

Sekali lagi, aku nulis ginian bukan karena merasa hebat justru merasa sebaliknya karena aku pernah banyak sekali gagal dalam job hunting dan itu cukup membuat stres. Anggap aja ini sebagai curhatan pengalamanku doang, sehingga nggak ada lagi yang bakal terjebak dalam job hunting paralysis. Selamat berjuang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.