Ketika Batu Akik Dianggap Sebagai Investasi

Kalau ada sesuatu yang menyita perhatian kaum adam masa kini melebihi dari sepak bola, maka tidak lain hal itu adalah batu akik. Iya batu. Entah sampai sekarang aku masih belum paham apakah semua batu akik ini masuk kategori batu mulia atau hanya sekedar batu yang disenter terus bisa tembus pandang.

Sebenarnya aku nggak terlalu peduli dengan fenomena ini sampai pada beberapa waktu lalu temen kantorku bilang kira-kira begini, “Duh, gue bawa tas berat-berat ke kantor isinya cuma batu kali doang” sambil mengeluarkan beberapa bongkahan batu berwarna hijau cerah yang tak lain adalah batu sebagai bahan untuk dijadiin cincin. The mighty batu akik.

Aku ketawa geli, meskipun aku sebenarnya ngetawain logat asli Pacitan dia saat bilang ‘gue’ sih. Temenku ini memang asli Pacitan, kota yang terkenal sebagai sumber batu-batuan untuk dijadikan batu akik. “Wani piro?” katanya kepadaku. Sambil sayup-sayup terdengar “Lumayan buat koleksi, kali aja makin lama bisa dijual dengan harga lebih tinggi”.

Screenshot_2015-08-03-20-14-47Nah, pikiranku yang dulunya nggak pernah memperdulikan batu-batuan ini kemudian jadi inget lagi sama postinganku di Path kira-kira empat bulan yang lalu. Ketika aku sekedar bercandaan ngepost rumus iseng tentang harga batu akik, ada temenku yang ngomen bilang “bs jadiii… mereka beli buat investasi”. Well…, Okay then.

Ternyata orang-orang yang menganggap batu akik ini sebagai salah satu instrumen investasi memang banyak adanya. Hobby? It’s better than okay and makes sense, but as an investment? You should read more, people!

Emang apa salahnya kalau batu akik dijadikan sebagai alat investasi? Aku bisa aja langsung jawab, tapi karena aku sendiri nggak begitu paham tentang apa itu sebenarnya batu akik jadi akan jauh lebih bijak jika orang lain yang menjelaskan.

Misalnya mengutip dari tulisan disini, kalau batu akik itu sebenarnya masih belum memiliki patokan yang jelas untuk harganya. Menurut artikel tersebut harga batu akik paling dipengaruhi oleh minat dari pembeli, jadi bisa dikatakan jika pasar lah yang membuat harga tersebut, bukan dari nilai intrinsik dari batu akik. Berbeda dengan emas yang udah jelas standar harganya dan itu saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi di dunia. Singkat kata, nilai emas dapat dihitung dan diprediksi sementara batu akik tidak.

Berbeda lagi dengan tulisan yang ini, jika tadi perbandingannya dengan sesama batu maka kali ini coba dibandingkan dengan investasi surat berharga yaitu reksadana. Secara garis besar alasannya masih sama, underlying dari batu akik sama sekali tidak jelas sehingga masih jauh untuk dikatakan sebagai instrumen investasi. Berbeda dengan reksadana yang jelas nilainya bergantung dari surat berharga didalamnya seperti saham, obligasi, deposito, dan yang lainnya.

Bagaimana jika dibandingkan dengan investasi properti atau tanah dan rumah? Kutipan dari Kompas disini cukup menarik, yaitu membahas cashflow yang akan terjadi jika sebagian masyarakat Indonesia mempunyai batu akik yang tentunya akan membuat industri tersendiri yang cukup likuid. Dalam artikel tersebut, meskipun sebagian besar masih memilih investasi properti daripada batu akik, namun tetap saja mereka nggak bisa mengabaikan batu akik begitu saja. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah, investasi properti yang mempunyai nilai guna jauh lebih bisa dikatakan sebagai ‘investasi’ apalagi dapat menghasilkan cash inflow sebagai passive income jika property tersebut disewakan.

Ketika seseorang berbicara tentang investasi, harusnya yang paling dipertimbangkan adalah kalkulasi nilai yang akan didapatkan pada masa mendatang bukan hanya sekedar intuisi berdasarkan satu variabel yang relatif.

Jadi, ketika semakin banyak orang mengatakan batu akik sebagai instrumen investasi mungkin aku juga akan kepikiran untuk ikutan investasi…….. pada botol jin. “Akan ku kabulkan tiga permintaanmu!”, “Aku minta tiga permintaan lagi, jin!” Begitu seterusnya

One thought on “Ketika Batu Akik Dianggap Sebagai Investasi

  1. thegold.asia

    Tergantung batunya mungkin ya mas?

    Kata temen, batu seperti bacan, ruby, kecubung, dst.

    Ditambah ada sertifikatnya maka batu tersebut memiliki nilai standar tersendiri.

    Sehingga bisa dijadikan alat untuk investasi.

    Bener ga ya mas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.