SMBR: Kecil-Kecil Cabe Rawit?

Jika disuruh milih satu dari beberapa perusahaan yang dianggap layak untuk investasi jangka panjang, maka salah satu pilihanku tentu bakal jatuh pada PT Semen Baturaja (SMBR). Masalahnya, industri semen di Indonesia tahun ini cukup meredup karena beberapa faktor diantaranya economic slowdown dan juga ditambah saat awal tahun lalu ketika intervensi pemerintah menurunkan harga semen sebesar maksimal Rp 3,000 per sak. Nah, situasi seperti ini lah yang membuatku semakin pengen buat melihat lebih jauh tentang SMBR.

Salah satu perusahaan semen plat merah ini berkantor pusat di Palembang dan mempunyai tiga pabrik utama di Baturaja, Panjang, dan Palembang itu sendiri dengan total kapasitas sekitar 2,000,000 ton per tahun. Saat ini pun SMBR sedang dalam tahap ekspansi membangun prabrik Baturaja II dengan ekspektasi dapat menambah volume produksi sebesar 1.85 ribu ton per tahun. Pabrik baru tersebut ditargetkan selesai pada awal tahun 2017.

Meski begitu, jika melihat utilisasi pabriknya ternyata masih ada pada kisaran sekitar 64% dengan total produksi 1.26 juta ton pada tahun 2014 lalu. Masih jauh dari kata efektif tapi secara positif dapat diartikan jika SMBR masih ada ruang untuk memaksimalkan produksi semennya.

Sebenernya jika kita melihat total produksi semen nasional, pabrik Semen Baturaja ini hanya mewakili kurang dari 5% dari keseluruhan produksi di Indonesia. Ya, sangat kecil untuk ukuran perusahaan BUMN mengingat pangsa pasar yang dicapai dari SMBR hanya pada sekitaran Sumatra Selatan aja. Makanya wajar jika akhir-akhir ini banyak isu tentang PT Semen Indonesia (SMGR) yang mau mengakuisisi SMBR.

Terlepas dari market share SMBR yang mini dan kondisi makro ekonomi yang kurang mendukung bagi produsen semen, ternyata SMBR masih mampu membukukan pertumbuhan penjualan pada semester pertama tahun ini dengan total 635 milyar, naik 26.43%% pada periode yang sama tahun lalu.

ProfitabilityBahkan jika kita melihat highlight profitability, SMBR mampu tumbuh dengan cukup meyakinkan ditandai dengan laba bersih yang juga tumbuh 33.65% yoy. Selain itu, kemampuan SMBR dalam meminimalisir biaya produksi juga terlihat dalam kenaikan gross profit yang cukup signifikan dan mungkin menurutku akan berlanjut pada semester kedua ini seiring dengan keputusan PLN untuk menurunkan tarif dasar listrik.

Disini bisa dikatakan bahwa kecilnya market share SMBR bukan berarti bahwa perusahaan ini kalah bersaing dalam hal efektifitas penjualan. Justru sebaliknya, SMBR mampu memaksimalkan penjualan pada area pemasaran yang dimiliki.

FRLalu bagaimana dengan performa sahamnya? Perlu dilihat dulu tentang beberapa major financial ratios, dengan EPS sebesar 33.38 maka SMBR memiliki PER (annualized) 7.96x berdasarkan harga saham 266 rupiah pada penutupan hari jumat (7/9) lalu. Masih sangat murah jika dibandingkan dengan SMGR yang memiliki PER belasan kali.

Hutang SMBR juga masih terbilang kecil dengan rasio sebesar 0.08 yang menandakan bahwa perusahaan ini masih teramat sehat jika dilihat dari struktur solvency-nya. Satu hal yang masih dibilang kurang adalah bagian ROE yang hanya ada di angka 11.65 menandakan bahwa SMBR masih belum terlalu memaksimalkan modal yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan.

Perlu diketahui jika return saham SMBR tahun ini turun dalam hingga mencapai minus 28.51% menyusul imbas dari global economic slowdown, tapi apakah harga 266 per lembar saham pada closing kemarin udah cukup mencerminkan nilai fundamentalnya?

Mari bermain-main dengan angka. Sedikit berbeda dengan data yang sebelumnya, stock highlight yang disajikan oleh Reuters menandakan bahwa PER (ttm) SMBR sebesar 7.02x, sedangkan PER (ttm) industri semen ada di angka 12.96x. Maka secara logika PER industri tersebut akan menjadi standar tingkat kewajaran harga saham perusahaan semen, jadi itungannya bisa seperti ini (12.96/7.02)*256=491. Ya, harga 491 dianggap sebagai harga wajar SMBR menurut market yang diambil dari rata-rata PER industri. Jadi dengan harga yang sekarang masih 266 maka bisa dikatakan saham SMBR termasuk undervalued.

Menggunakan acuan PER industri termasuk hitungan relatif dengan asumsi bahwa semua saham di industri semen memiliki PER yang tidak jauh berbeda. Namun tentu saja akurasi dari hitungan tersebut sangat bergantung pada pasar yang belum tentu menggambarkan kondisi beberapa kondisi perusahaan semen pembanding.

AsumsiMari menghitung lebih jauh dengan menggunakan net profit SMBR sebagai main driver untuk mengukur harga saham. Net profit akan diproyeksikan selama lima tahun kedepan dan didiskonto sebagai present value menggunakan asumsi yang ada digambar berikut. Ternyata oh ternyata, fair value SMBR menggunakan metode valuasi seperti ini ada pada angka 342. Lebih rendah dari value dengan hitungan berdasarkan PER industri meskipun masih sama-sama mendeskripsikan bahwa harga saham SMBR saat ini masih undervalued. Hitungan secara lengkapnya ada dalam file excel tapi untuk detail formulanya masih dalam pengembangan, makanya agak belum rapi.

Dua model valuasi yang berbeda tersebut setidaknya sedikit memberikan gambaran kemana arah harga saham SMBR akan bergerak terlepas dari sentimen-sentimen pasar yang masih cukup memberatkan.

But then, the most important thing is that…

PT Semen Baturaja memang kecil, tapi kembali lagi justru dengan market share kecil dan life cycle yang masih ada dalam tahap growth mampu memberi ruang bagi perusahaan untuk tetap memperluas bisnis. Selain itu meski masih dalam tahap growth yang termasuk rawan dengan ketatnya kompetisi pasar, sebagai perusahaan BUMN maka SMBR tetap memiliki keuntungan tersendiri dengan beberapa proyek ambisius dari pemerintah. MP3EI maybe?

Jadi, kemungkinan terbesarnya cuma dua; SMBR sedikit demi sedikit mengembangkan bisnisnya, atau justru malah diakuisisi SMGR hehehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.