Pura-Pura Menjadi Investment Analyst

Setelah beberapa bulan lalu aku nulis sedikit ulasan tentang PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, sejak saat itu juga lah aku merasa nggak lebih pinter dari anak TK yang mau nukerin selembar uang Rp 5,000 dengan recehan Rp 500 dengan alasan uang koin Rp 500 nggak bisa sobek. Pokonya ngerasa polos dan too fast to make conclusions. Ya gitu deh.

Meski begitu, dengan menjunjung semangat ala trader pemula yang nggak pernah kapok ngikutin kemana arah bandar saham, aku mencoba kembali ke pokok permasalahan awal. Apa sih? Pertanyaan yang mendasar sekali. Apa sih yang perlu diperhatikan ketika kita mau menganalisa sebuah perusahaan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita berpura-pura menjadi seorang investment analyst.

Perlu diketahui bahwa seorang investment analyst (mostly buy-side analyst) punya jadwal tersendiri untuk mengunjungi beberapa perusahaan demi mencari data dan update tentang perusahaan tersebut sebagai acuan membuat investment analysis mereka.

Refer to above statement, disini lah awal mulanya kita mencoba berpura-pura menjadi investment analyst. Sebelum menganalisa, coba lah untuk ‘ngepoin’ perusahaan yang kamu mau dengan bergaya seperti seorang analyst ketika mereka sedang melakukan company visit.

Setiap analyst pastinya udah menyusun pertanyaan-pertanyaan yang nantinya bakal diajukan kepada manajemen perusahaan. Nah, dalam pertanyaan itu lah seorang analyst akan mencoba menggali sedalam-dalamnya info dari perusahaan tadi. Tapi apa aja sih yang biasanya ditanyakan para analyst saat company visit?

Dikutip dari beberapa sumber, plus kata temenku yang bekerja sebagai investor relation, berikut adalah F.A.Q (Frequently Asked Questions) dari seorang analyst ketika mengunjungi sebuah perusahaan.

Awali dengan pertanyaan yang ringan

  1. Ceritakan tentang sejarah perusahaan anda.
  2. Apa strategi anda untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
  3. Apa yang menjadi key drivers dalam bisnis perusahaan anda.

Tanyakan tentang kompetitor

  1. Siapakah kompetitor utama perusahaan anda.
  2. Apa kah yang membuat bisnis anda berbeda dengan kompetitor
  3. Kondisi seperti apakah yang paling mempengaruhi industri bisnis anda.

Mulai mendetail yang menuju pada laporan keuangan

  1. Bisa kah anda menjelaskan tentang sales mix, product mix, rerata harga jual, segmentasi bisnis.
  2. Berapakah capital expenditure yang anda anggarkan dalam beberapa tahun kedepan.
  3. Seperti apakah cost structure (fix cost dan variable cost) dalam bisnis anda
  4. Berapakah ekspektasi profit margin yang anda inginkan untuk beberapa tahun kedepan.
  5. Apakah ada siklus atau musim tersendiri dalam industri bisnis perusahaan ini.
  6. Berapakah standar normal debt ratio di perusahaan ini.
  7. Bagaimana cara perusahaan mendapatkan modal tambahan.
  8. Bagaimana kebijakan pembagian dividen di perusahaan ini.

Beralihlah ke pertanyaan yang lebih berat

  1. Resiko seperti apa yang biasanya (akan) dihadapi perusahaan.
  2. Ada kah pengaruh dari kebijakan pemerintah tertentu terhadap bisnis perusahaan.
  3. Seperti apakah pandangan customers pada products (or services) anda.
  4. Kenapa media pernah memberitakan perusahaan ini mengenai hal-hal tersebut.

Tanyakan tentang gaya manajemen perusahaan

  1. Seperti apa rencana perusahaan terkait GCG dan tranparansi atau keterbukaan informasi.
  2. Apa pendapat manajemen tentang “say on pay”
  3. Bagaimana pandangan manajemen terkait performa saham dan pasar modal.

Beberapa list diatas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang biasanya diajukan ketika seorang analyst berkunjung ke perusahaan. Meski sebenarnya ada banyak hal yang lebih detail lagi tergantung industri dan dimana sektor bisnis perusahaan tersebut berada.

Namun setidaknya, dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut udah bisa memudahkan kita dalam menganalisis perusahaan. Faktor-faktor apa saja yang penting untuk diketahui, bagian-bagian mana saja yang perlu diperhatikan. Bagaimana cara memetakan dan mengaitkan beberapa data menjadi saling berhubungan.

Jadi, inti dari mengikuti gaya investment analyst saat berkunjung ke perusahaan tertentu selain yang udah aku sebutkan diatas, sebenarnya juga berguna untuk membuat ‘jalur’ analisa supaya tidak mudah terjebak apalagi tersesat dalam banyaknya informasi yang bertebaran di media masa.

Lalu apakah kita juga harus mengunjungi perusahaan untuk mendapatkan data-data seperti diatas? Beberapa pertanyaan tersebut memang cukup susah untuk dicari datanya tanpa melakukan company visit, but nope, satu hal yang penting adalah kita sebenarnya bisa menggunakan annual report dan financial statement yang ada di dalamnya guna mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan tadi.

Seperti kata beberapa mentor, tantangan bagi seorang investor pemula dalam melakukan analisis adalah; mampukah kita membuat data dan informasi yang udah tersedia (annual report) berbicara layaknya dia menceritakan kondisi bisnis yang sebenarnya?

I dare you to analyse by your own style!

One thought on “Pura-Pura Menjadi Investment Analyst”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *