AISA: Blunder Fatal Dari Salah Satu Primadona BEI

Minggu ini saya dikejutkan oleh pergerakan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) yang dua hari berturut-turut turun lebih dari 9%, bahkan pada tanggal 20 Januari kemarin sempat auto reject kiri yang berarti penurunan harga saham sudah mencapai batas maksimal. Sudah mentok. Nggak bisa turun lagi.

Sebenarnya sejak pertengahan tahun lalu harga saham AISA secara perlahan sudah mulai menunjukan penurunan dari harga tertingginya di level 2,125 yang berlanjut hingga penutupan akhir tahun 2015 harganya jatuh pada angka 1,120. Sampai pada akhirnya menarik banyak perhatian investor pada tanggal 20 dan 21 Januari lalu yang harganya menyentuh level terendah pada angka 935. Sesuatu yang sangat mengherankan ketika harga saham turun hingga separuh harga dalam rentang kurang dari satu tahun.

Perlu diketahui bahwa diantara 500an perusahaan yang listed di BEI, AISA merupakan salah satu saham yang mempunyai nilai fundamental diatas rata-rata. Bahkan pada semester kedua tahun 2013 lalu

KKR Asset Management LLC, Private Equity asal New York, Amerika Serikat pun ikut membeli 9.5% dari total keseluruhan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food tersebut. Ketika saya mengikuti investor gathering dengan pak Teguh Hidayat, beliau juga mengakui bahwa saham ini merupakan salah satu saham yang sering ditanyakan kabarnya oleh fund manager asing. Banyak pula yang mengatakan bahwa AISA ini adalah the next Unilever.

1457097277490Bahkan yang lebih menarik lagi, pada saat Mandiri Sekuritas mengeluarkan kompilasi riset mereka terhadap beberapa saham, AISA muncul dengan target harga yang diperkirakan hingga menyentuh level 2,500 per saham, dan laporan tersebut muncul tanggal 15 Januari 2016. Tepat lima hari sebelum AISA dilanda Auto Reject bawah yang ketika saat itu harga AISA masih berada pada 1,145.

Well then, lalu apa yang mendasari anjloknya sang diva BEI itu?

Sedikitnya ada lima berita buruk yang bertanggung jawab menenggelamkan AISA. Pertama, pihak manajemen berencana ngerem ekspansi divisi penjualan beras. Kedua, anak perusahaan AISA, PT Golden Plantation, Tbk (GOLL), yang juga listed di BEI dikabarkan default karena gagal memenuhi kewajiban yang jatuh tempo. Ketiga, AISA mengalami kesulitan likuiditas karena efek liabilitas yang membengkak, sebagian besar sumbangan dari GOLL. Keempat, manajemen AISA berencana melepas anak usaha GOLL dalam bentuk dividen kepada pemegang saham AISA. Kelima, Ada salah satu sekuritas yang menurunkan capping AISA menjadi 0%, yang berarti saham AISA nggak bisa dipakai sebagai jaminan untuk transaksi dengan margin.

Meskipun pada akhirnya rumor bahwa PT Golden Plantation Tbk dinyatakan default sudah dibantah langsung oleh pihak investor relation dari PT Tiga Pilar Sejahtera Food, karena memang dari laporan keuangannya pun tidak ada utang yang jatuh tempo dalam waktu dekat ini.

Setelah munculnya peristiwa yang cukup mengagetkan tersebut, saya mencoba memahami lebih dalam tentang perusahaan ini. Ternyata memang ada satu hal yang membuat saya kurang begitu cocok ketika melihat bisnisnya.

Bagi yang belum tau, PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk adalah salah satu penghasil makanan olahan yang produknya cukup terkenal seperti Taro dan Mie Kremez. Mereka juga memproduksi beras premium dengan merk Ayam Jago. Jadi bisa dikatakan bahwa perusahaan ini jelas berada pada sektor consumer goods.

AISA BusinessSecara garis besar, AISA memang punya tiga lini bisnis utama yaitu Divisi Makanan, Divisi Beras, dan Divisi Kelapa Sawit. Satu hal yang paling membuat saya nggak nyaman yaitu divisi Kelapa Sawit yang bergerak menghasilkan palm oil tersebut.

Sebagai perusahaan yang bisnisnya fokus dengan sektor consumer goods, akan sangat aneh bila mereka menginjakkan kaki pada sektor yang cukup awam bagi mereka. Saya bilang awam karena berdasarkan Annual Report 2014, AISA baru saja masuk ke industri palm oil pada tahun 1993 lewat anak perusahaannya PT Bumiraya Investindo.

Belum lagi status palm oil sebagai salah satu komoditas penting namun harganya sangat fragile terhadap perkembangan ekonomi makro, tentunya butuh treatment dan strategi khusus untuk menjalani bisnis di sektor ini.

Selain itu, Divisi Kelapa Sawit juga sama sekali tidak berhubungan dengan dua divisi bisnis yang lain, sehingga bisa dikatakan bahwa diversifikasi bisnis yang dimiliki AISA kurang bisa memberi nilai tambah bagi setiap lini bisnis yang lain.

Meski begitu, Manajemen AISA tetap berusaha mengembangkan lini bisnis ini ditandai dengan langkah mereka yang telah mengakuisisi sebagian besar saham PT Golden Plantation, Tbk (GOLL) pada Maret 2014.

Sebagai gambaran efektifitas Divisi Palm Oil, coba kita lihat seberapa besar sumbangan dari divisi ini terhadap keseluruhan penjualan PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk.

AISA Revenue Breakdown

Berdasarkan laporan keuangan terakhir periode quarter ketiga tahun 2015, terlihat jelas bahwa sebenarnya bagian Agribusiness atau Palm Oil hanya menyumbang dibawah 3% dari total keseluruhan penjualan AISA. Buruknya lagi, penjualan bidang Agribusiness justru malah turun pada quarter ketiga tahun 2015 jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jadi bisa dikatakan bahwa keputusan manajemen untuk mengakuisisi GOLL pada saat itu malah cenderung memberatkan kinerja bisnis mereka.

Nah, menuju kepada GOLL. Saham ini pun sebenarnya juga mempunyai banyak masalah yang berpotensi mengganjal pertumbuhan PT Tiga Pilar Sejahtera Food. Jumlah liabilities yang dimiliki GOLL ternyata mempunyai exposure yang cukup besar terhadap total liabilities AISA. Saya coba cek ke laporan keuangan GOLL dengan periode yang sama, ternyata total long term liabilities mereka  sebesar 27% dari total keseluruhan long term liabilities yang dimiliki ASIA.

Sampai disini sebenarnya sudah cukup memberikan konklusi jika langkah manajemen AISA mengakuisisi GOLL pada tahun 2014 lalu tergolong keputusan investasi yang buruk. Belum genap dua tahun, akhirnya AISA langsung ingin mengurangi porsi investasinya tersebut.

Ini lah salah satu contoh blunder fatal dari perusahaan yang sebenarnya punya prospek cerah lewat bisnis utamanya sebagai penghasil makanan olahan dan beras premium. Salah diversifikasi bisnis ke sektor yang tidak berhubungan dengan bisnis utama membuat kinerja perusahaan justru menjadi turun.

Meski begitu, mencoba mengesampingkan dari blunder akuisisi terhadap GOLL, sebenarnya AISA tetaplah salah satu saham second liner yang jelas tidak boleh dilupakan. Saat ini pun manajemen baru berusaha mencari jalan untuk melepas GOLL sehingga tidak lagi terkonsolidasi dengan laporan keuangan AISA.

Jika masih ada GOLL dalam tubuh AISA, saya perkirakan saham ini sebenarnya masih layak untuk tumbuh ke harga 1,400-1,600. Namun jika akhirnya GOLL berhasil terlepas yang akan membuat beban utang AISA semakin ringan maka diperkirakan harga sahamnya pun akan mampu melonjak lebih tinggi lagi kembali ke arah 2,100. Kita tunggu saja perkembangannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.