Konspirasi Wahyudi itu Bernama Analisa Teknikal

Pagi-pagi sekitar jam 7.30 setelah selesai sarapan aku biasanya lanjut duduk di teras rumah menikmati kopi yang udah disediakan istri sambil sesekali membagi fokus kepada koran langganan bulanan dan Twitter untuk sekedar update berita kondisi bursa saham lokal dan dunia khususnya stock pick pada hari itu.

Ya, seperti itu pagi yang selalu aku dambakan, meski saat ini masih jauh dari kondisi seperti itu. Memang begitu lah seharusnya kehidupan sebagai full time investor yang, kata motivator, udah mencapai kebebasan finansial dengan passive income yang mereka dapatkan.

Meskipun sebenarnya seorang investor sungguhan akan cenderung mengabaikan stock pick yang muncul dengan liarnya di Twitter dan juga grup chatting, atau lebih tepatnya, tersenyum sinis terhadap rekomendasi-rekomendasi harian tersebut.

Rekomendasi saham harian, berarti jelas bahwa itu adalah saham-saham yang dipilih dan dijagokan untuk diperjual-belikan dalam rentang satu-dua hari aja (atau kalau nyangkut dikit, ya seminggu lah, kalau nyangkut banyak, yaudah deh pura-pura jadi investor jangka panjang). Rekomendasi tersebut dibuat berdasarkan dengan pengamatan analisa teknikal yaitu historical price yang ditarik kebelakang menjadi sebuah trend line.

Nah dari trend line tersebut biasanya pelaku pasar, broker, trader, atau juga yang jualan stock pick rekomendasi harian mencoba menyimpulkan kemana arah pergerakan saham (atau indeks) untuk beberapa periode kedepannya. Jadi bisa dibilang mereka menggunakan data historis untuk mencoba memprediksi masa depan.

Sama sekali nggak ada yang salah sebenarnya, karena ini scientifically backed. Dasarnya pun jelas, dari market maker yang membentuk supply and demand itu ada karakternya sendiri setiap harga menyentuh titik tertentu. Ketika permintaan naik, otomatis akan mengerek harga saham sampai harga tersebut mencapai puncak yang disebut sebagai resistance, begitu pula sebaliknya ketika penawaran jauh lebih tinggi dari permintaan yang membuat harga turun hingga level terendahnya yang disebut support.

Dengan bantuan beberapa indikator, level support dan resistance tersebut bisa diketahui. Ditambah dengan volume yang menandakan kekuatan pasar maka bisa sedikit menyimpulkan kemana arah pasar selanjutnya.

2016Jan-Wijaya Karya Beton Tbk.-800x385

Seperti gambar diatas, chart candlestick dari PT Wijaya Karya Beton (WTON) yang aku ambil pada penutupan bursa pada tanggal 8 Januari kemarin, bisa aja untuk menjadi dasar analisa teknikal untuk menentukan kemana arah saham WTON selanjutnya.

Oke, ehem.. Let me try

“Dalam empat hari berturut-turut WTON berhasil mencatat kenaikan 7.42% hingga mencapai level resistance pada harga 940. Dengan demikian rekomendasi pada hari Senin depan diharapkan untuk profit taking pada area 930-950. Jika harga breakout 950 maka WTON akan melanjutkan kenaikannya hingga level 980”

Secara tidak langsung, ada dua rekomendasi dalam pernyataan tersebut. Yaitu jual saham ketika mencapai area 930-950 karena area tersebut adalah resistance dimana biasanya terjadi ‘peperangan’ antara supply side dan demand side. Kemudian beli lagi sahamnya jika naik lebih tinggi dari 950 yang berarti demand power lebih gede.

Dari jenis rekomendasi yang menggunakan timeframe cukup singkat, selisih harga beli dan harga jual yang juga termasuk tipis, membuat seorang trader untuk bertindak cepat dalam mengambil keputusan. Hari ini beli, besok jual. Pagi beli, sore jual. Karena dengan selisih perubahan yang sedikit tersebut seorang trader sebenernya udah bisa meraup keuntungan.

Iya kalau analisanya bener. Kalau salah ya rugi juga kan. Ini masalahnya.

Sepakat jika historical price itu bisa menggambarkan kondisi market pada umumnya dengan teori supply and demand dari pelaku pasar atau market maker tadi. Namun market maker pun juga memliki key driver seperti kondisi ekonomi, politik, dan sosial. Sesuatu yang kadang membuat para pelaku pasar mengeluarkan perilaku yang kadang berlebihan dalam mengapresiasi pasar. Hal ini bisa menyebabkan pergerakan yang bias. Misalnya ketika harga saham udah dikatakan break out resistance, namun kemudian muncul bad news. Tadinya yang udah diyakini bahwa saham akan naik, justru berbalik arah sebaliknya.

Nah, dengan adanya key driver seperti yang aku bilang tadi, yang efeknya ke pelaku pasar terlalu susah untuk diprediksi membuat analisa teknikal menjadi lebih banyak mempunyai unsur spekulasi. Karena sebenarnya analisa teknikal ini acuannya adalah harga, tanpa melihat apa underlying yang menyusun harga tersebut.

Dari sini aku bisa menyimpulkan kalau mudahnya membuat keputusan dari melihat historical price yang dinamakan analisa teknikal tadi membuat kita cenderung kepengen untuk melakukan trading dalam frekuensi yang cukup tinggi yang sering disebut HFT Man (High Frequency Trading). HFT Man yang bergantung pada analisa teknikal tanpa melihat underlying pada saham yang dibeli.

asQUAgy

Aku cukup tergelitik dengan ilustrasi disamping, the evolution of Wall Street digambarkan dengan seorang Jesse Livermore, investor teguh dengan analisanya yang mendetail tentang bisnisnya, semakin kesini semakin berkembang menjadi seorang HFT Man karena semakin mudahnya dalam menyimpulkan data-data yang tersedia.

Meski begitu, karena proses yang cepat dalam short term trading untuk menghasilkan keuntungan tetep aja diminati oleh kebanyakan trader. Lha gimana, wong dua-tiga poin aja udah untung kan? Analisisnya simpel lagi, hanya grafik. Kadang ditambahin perilaku bid-offer.

Itu lah kenapa stock pick recommendation tiap harinya selalu laku. Karena banyak newbie yang selalu bertanya “saham apa yang layak dibeli hari ini”. Dari beberapa grup investasi yang aku ikuti, ini benar-benar fakta adanya.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya yang paling diuntungkan dengan trend trading seperti ini adalah broker mereka. Kalau trader, untungnya kan dari menjual sahamnya lebih tinggi dari harga beli. Nah kalau broker mah, nggak peduli nasabahnya untung atau rugi, mereka tetap bisa untung dari komisi atau fee hasil jual beli saham tersebut. Makanya semakin banyak bertransaki, broker akan semakin kaya.

20160109011918Hal itu dibuktikan oleh sebuah riset yang diterbitkan dalam Journal of Finance Tahun 2000 menyatakan bahwa semakin sering trading, semakin rendah profit yang didapatkan.

Ilustrasi yang dibuat oleh Duitto & Co. ini menjelaskan semuanya. Pada kolom berwarna hijau itu tertulis, “Penelitian Prof. Barber dan Prof. Odean (Journal of Finance, 2000) mengindikasikan semakin sering trading, semakin rendah imbal hasil yang diperoleh investor. Mereka bilang: ‘Trading is hazardous for your wealth’. Yang pasti: Semakin sering trading, fee yang diterima broker saham semakin besar”

Satu hal yang paling aku nggak suka ketika beberapa orang bilang, jangan terlalu fanatik dengan satu analisa; teknikal maupun fundamental, karena keduanya bisa saling melengkapi. Hellow, aku belum pernah dengar seorang Warren Buffet menggunakan chart yang berisi historical price tersebut sebagai acuan dalam menentukan portofolio investasinya.

Aku jadi ingat oleh salah satu quote dari Warren Buffet yang berbunyi, “Price is what you pay, Value is what you get”. Bagaimanapun kamu mengartikannya, tapi buatku ini berlaku bahwa harga hanya digunakan sebagai tolok ukur pembayaran dalam mendapatkan suatu saham, tidak lebih. Bukan untuk disusun kebelakang dan dijadikan sebagai trend line untuk memprediksi harga yang akan muncul selanjutnya.

Sebenarnya sampai sekarang pun aku juga masih menggunakan analisa teknikal, namun porsinya udah cukup berkurang. Aku nulis begini pun bukan condemn technical analysis, tapi hanya pengen menjelaskan fakta bahwa sebenarnya kita hanya dituntun oleh keadaan supaya menjadi medioker sementara itu pihak diluar sana bisa meraup keuntungan dari our mediocrity.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.