Rasionalitas Investor: Benarkah Lebih Takut Mendapat Keuntungan?

Saya masih ingat ketika dulu ikut The 12th ICMSS, salah satu event terbesar tentang pasar modal untuk mahasiswa, yang diadakan oleh Universitas Indonesia, ada satu topik seminar yang berjudul “Being Rational Investor in Facing the Expanding Market” yang dibawakan (kalau nggak salah) oleh President Direrctor dari AXA Asset Management. Meskipun sebenarnya udah banyak materi yang terlupakan, namun masih ada satu hal yang cukup terpaku dalam ingatan; yaitu bagaimana cara menilai rasionalitas investor dalam mengambil keputusan investasi.

Pada saat itu, pembicara melempar dua pertanyaan simpel kepada audience yang ternyata digunakan untuk menyimpulkan seberapa rasional kah audience disitu ketika menjadi investor. Hasilnya, kebanyakan nggak rasional dalam mengambil keputusan. Bagaimana bisa?

Nah, dalam beberapa hari terakhir ini saya mencoba menduplikat simple testing tersebut dalam sebuah survey iseng-iseng berhadiah. Itung-itung juga sebagai bukti bahwa saya masih belum puas dengan pekerjaan utama saya saat ini hehehe.

Perlu diketahui sebelumnya, teori yang dipakai disini adalah teori prospek yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman mengenai framing terhadap pengambilan keputusan khususnya tentang nilai yang berkaitan tentang laba dan rugi. Jika suatu referensi didefinisikan sebagai pengeluaran yang terlihat seperti sebuah keuntungan maka hasil fungsi akan membuat keputusan cenderung untuk menolak mengambil resiko. Sedangkan jika referensi didefinisikan sebagai suatu pengeluaran yang terlihat seperti kerugian maka hasil fungsi akan membuat keputusan cenderung untuk mengambil resiko.

Jadi dengan mencoba menggunakan teori tersebut, dalam survey yang saya lakukan, terdapat dua macam pertanyaan guna melihat reaksi investor terhadap dua macam kemungkinan, yaitu;

  1. Jika anda menang hadiah undian sebesar Rp 10,000,000 kemudian ditawari satu kali lagi mengambil undian dalam kotak yang berisi; satu voucher tambahan hadiah menjadi Rp 20,000,000 dan satu kertas zonk yang berarti hadiah hangus. Apa pilihan anda?
  2. Anda diwajibkan untuk membayar cicilan rumah sebesar Rp 5,000,000. Namun lagi-lagi anda diberi kesempatan untuk mengambil undian yang berisi; satu voucher diskon cicilan 100% dan satu invoice tambahan penalty cicilan menjadi sebesar Rp 10,000,000. Pilihan anda?

Survey ini saya sebarkan ke teman-teman saya baik yang sudah mempunyai exposure di dunia investasi dan yang belum sama sekali. Dari total semua responden, 51.9% sudah menjadi investor dan sisanya masih belum menjadi investor di pasar modal (saham, reksadana, obligasi, sukuk). Mayoritas responden masih memiliki pengetahuan dasar tentang dunia investasi sebanyak 63%, 22.2% mempunyai pemahaman menengah, dan sisanya 14.8% sudah pada tingkat lanjut.

Oke, mari kita bahas..

Pertanyaan pertama adalah analogi yang digunakan untuk menilai investor ketika mereka sedang mendapatkan keuntungan. Seseorang mendapatkan hadiah sebesar Rp 10,000,000 kemudian mempunyai kesempatan 50% untuk menggandakan keuntungannya sebesar dua kali lipat dan 50% kemungkinan sisanya lagi adalah membuat hadiah tersebut hangus.

Jadi implikasinya gini, misalkan investor pada saat ini sedang mempunyai saham TARA dan saham tersebut dalam posisi positif atau untung 10% dari total investasinya. Namun ketika dihadapkan dengan kondisi pasar yang sedang fluktuatif sehingga membuat kemungkinan untuk memperbesar keuntungan (katakan lah menjadi 15%) dan menghapus semua keuntungannya itu sama besar yaitu 50% banding 50%. Tanpa memperhatikan faktor fundamental, bagaimana sikap investor tersebut?2016Jan-Sitara Propertindo Tbk.-800x385

Pertanyaan kedua digunakan sebagai analogi ketika investor sedang mengalami kerugian. Mereka harus kehilangan uang sebesar Rp 5,000,000 untuk membayar cicilan rumah, sedangkan mereka punya kemungkinan 50% untuk mendapatkan diskon yang artinya tidak jadi membayar sama sekali padahal ada 50% kemungkinan lain yang membuat harus membayar dua kali lipatnya.

Kebalikan dengan pertanyaan pertama, misalkan investor sedang memegang saham PWON dan saham tersebut dalam posisi negatif atau rugi 10% dari total investasinya. Dengan kondisi yang sama pada pertanyaan pertama, dimana fluktuasi pasar membuat kemungkinan untuk lebih rugi lagi dan menghilangkan kerugian tersebut adalah sama yaitu 50:50. Tanpa memperhatikan faktor fundamental, bagaimana sikap investor tersebut?2016Jan-Pakuwon Jati Tbk.-800x385

Selanjutnya, responden dikatakan sebagai investor rasional ketika menjawab dua pertanyaan dengan jawaban yang sama. Maksudnya adalah ketika pada pertanyaan pertama responden menjawab dengan ambil undian lagi maka pada pertanyaan kedua harusnya juga menjawab dengan ambil undiannya. Begitu juga sebaliknya ketika pertanyaan pertama responden memilih untuk berhenti dengan hadiahnya, pertanyaan kedua harusnya juga puas dengan biaya awal yang harus dibayarkan.

Jadi, jika jawaban dari pertanyaan pertama dan kedua berbeda maka responden bisa dikatakan tidak rasional dalam mengambil keputusan. Bisa berlaku demikian karena jika dilihat dari pertanyaan tersebut, baik pertanyaan pertama maupun kedua, semuanya mempunyai kemungkinan yang sama atas hasil yang akan dicapai yaitu 50:50. Ketika investor sedang memegang potential gain, kemungkinan untuk menambah gain dan menghilangkan semuanya adalah sama. Begitu juga saat investor dalam posisi mendapatkan potential loss, kemungkinan untuk tambah merugi dan menghapuskan kerugiannya juga sebanding. Itu lah kenapa investor yang rasional akan berlaku equal dengan kedua pertanyaan pada survey tersebut.

Menariknya adalah pada riset yang dilakukan oleh Daniel Kahneman yang udah saya sebutkan diatas tadi menyimpilkan bahwa perilaku investor akan cenderung resisten atau tidak berani mengambil resiko terhadap kemungkinan untuk mengambil gain lebih lanjut dan justru malah mengambil resiko ketika sedang memegang instrumen investasi dalam posisi mendapatkan potential loss.

Dengan hipotesis tersebut berarti dapat disimpulkan jika investor akan cenderung take profit secepatnya ketika mereka mendapatkan potential gain karena framing mereka yang cenderung takut untuk kehilangan potential gain. Sedangkan sebaliknya adalah investor justru malah akan menunggu lebih lama ketika posisi investasi mereka mengalami potential loss atau cenderung menunda untuk cut loss dengan harapan kerugian tersebut akan berkurang.

Nah, sekarang saatnya membahas hasil survey yang sudah saya lakukan sebelumnya. Saya mencoba membagi hasilnya berdasarkan status sebagai investor dan yang belum. Cukup mengejutkan karena hasilnya ternyata sedikit diluar dugaan.

Responden belum jadi investor yang mayoritas berpengetahuan dasar tentang dunia investasi di pasar modal atau sebanyak 84.62% memiliki tingkat rasionalitas sebesar 69.23% dimana sisanya 38.46% sebanyak 5 orang dikategorikan tidak rasional. Sementara 3 dari 5 orang yang tidak rasional dalam mengambil keputusan investasi tersebut bisa dikatakan lebih takut untung daripada takut rugi, sesuai dengan teori prospek yang dirumuskan oleh Daniel Kahneman.

Belum Jadi Investor

Sedangkan responden yang sudah jadi investor sedikit bervariasi jika dilihat dari pengetahuan investasinya. Dimana 42.86% termasuk berpengetahuan dasar, 28.57% tingkat menengah, dan 28.57% juga pada tingkat lanjut. Berbeda dengan sebelumnya, tingkat rasionalitas untuk responden yang sudah jadi investor lebih tinggi yaitu sebanyak 78.57% sedangkan 21.43% termasuk investor yang tidak rasional. Menariknya adalah, hanya ada 1 dari 3 investor yang sesuai dengan teorinya Daniel Kahneman sebagai investor lebih takut untung daripada takut merugi.

Dari dua hasil diatas sebenarnya bisa dijadikan dalam beberapa kesimpulan. Misalnya jika dengan terjun langsung menjadi investor akan melatih seseorang untuk lebih rasional dalam mengambil keputusan investasi, artinya pengalaman memang diperlukan. Bisa juga disimpulkan bahwa rasionalitas dalam mengambil keputusan tidak bergantung dengan seberapa banyak pengetahuannya tentang dunia investasi, karena masih ada yang berpengetahuan lanjut tapi tetap saja tidak rasional dalam mengambil keputusan.

Namun jika mengatakan bahwa investor itu cenderung lebih takut mendapatkan keuntungan daripada mendapatkan kerugian, mungkin akan membutuhkan survey lebih lanjut mengingat data yang saya dapatkan sangat sedikit. Hal ini juga diperkuat dengan mempertimbangkan dari total 8 responden yang tidak rasional, 4 orang diantaranya atau separuhnya termasuk investor yang lebih takut mendapatkan keuntungan. Tidak ada yang dominan dari data tersebut.

Meski begitu, mengingat survey ini hanya iseng dan ditambah juga dengan penarikan data yang sama sekali tidak menggunakan metode ilmiah, saya rasa masih belum layak untuk dijadikan sebagai tolok ukur penilaian investor apalagi sebagai referensi bahan skripsi, bisa bahaya nanti hehehe. Kembali lagi saya tekankan bahwa tujuan survey ini tak lain hanyalah testing kepada teman-teman terdekat saja.

Jadi, sudah kah anda termasuk investor yang rasional?

Disclosure: Data Hasil Survey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.