Belajar Melihat Resiko Dari Film The Big Short

movieposterSatu lagi film baru tentang dunia keuangan rilis pada akhir tahun 2015 lalu yaitu The Big Short, meski baru tayang di Indonesia sekitar akhir Januari 2016. Film ini melengkapi jejeran film yang menceritakan tentang krisis subprime mortgage tahun 2008 di US, menyusul Too Big Too Fail dan Inside Job.

Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Too Big Too Fail menceritakan tentang jatuhnya bank-bank besar di Amerika, sedangkan Inside Job mengambil sudut pandang lebih luas dari sisi pakar ekonomi hingga akademisi yang dikemas dalam bentuk film dokumenter, The Big Short lebih fokus kepada cerita bagaimana hedge fund manager menemukan sumber krisis hingga bertaruh dengan keadaan yang akan terjadi demi tetap mendapatkan gain dalam situasi tersebut.

Diadopsi dari buku The Big Short: Inside the Doomsday Machine tulisan dari Michael Lewis, kisah true story ini menceritakan bagaimana seorang dr. Michael J. Burry, seorang hedge fund manager dari Scion Asset Management, menemukan sesuatu yang tidak wajar pada kredit perumahan yang sedang gencar-gencarnya dipasarkan oleh bank-bank di Amerika.

Terlepas dari panjangnya cerita, saya cukup tertarik dengan bagaimana cara Michael Burry melihat sudut pandang yang mengerucut pada satu titik dimana pelaku pasar lain masih menganggap itu sebagai hal yang tak perlu dipermasalahkan. Bahkan dalam film tersebut, Michael Burry berani mengatakan bahwa Hank Paulson dan Alan Greenspan telah salah dalam melihat perekonomian Amerika khususnya tentang kredit perumahan yang terus tumbuh.

Jika saya mencoba membagi sumber krisis tahun 2008 menjadi dua yaitu kredit perumahan itu sendiri dan asset securitization berupa Mortgage Backed Securities (kredit perumahan yang diperjual-belikan oleh bank ke investor), maka berdasarkan filmnya, pendekatan yang dilakukan oleh Michael Burry dalam menemukan akar krisis dimulai dari point yang pertama yaitu kredit perumahan.

Mike Burry

Michael Burry mencoba menggali lebih dalam lagi tentang apa aja isi dari Mortgage Backed Securities (MBS) yang sedang menjadi primadona investasi tersebut, dan pada akhirnya menemukan fakta bahwa kredit perumahaan sebagai underlying asset MBS ternyata ditawarkan kepada mayoritas borrower yang dikategorikan tidak layak menerima kredit perumahan atau istilahnya subprime mortgage.

Dia mulai menemukan root cause ketika menyadari bahwa banyak home owner yang tak mampu membayar tagihan kredit perumahan itu secara tepat waktu, bahkan banyak yang nuggak pembayaran hingga enam bulan. Dari root cause ini, Michael Burry mencoba menggabungkan satu demi satu data yang dimilikinya hingga mencapai kesimpulan bahwa produk MBS adalah time bomb yang segera meledak hingga dapat mempengaruhi sistem perekonomian US.

Lalu bagaimana kita mencontoh kisah dari Michael Burry tersebut?

Saya bisa katakan bahwa sebagai investor kita setidaknya harus memiliki sifat “suudzon” dalam melihat asset yang ingin kita beli. Karena, pada dasarnya tujuan utama investasi sebelum untuk mencari keuntungan adalah mengamankan nilai portfolio kita sendiri. Jadi, suudzon yang dimaksud adalah mencoba mencari kemungkinan terburuk yang akan terjadi kepada setiap asset tersebut.

Maka dari itu, idealnya kita harus mengetahui seberapa besar kemungkinan kerugian yang harus ditanggung untuk setiap imbal hasil yang diharapkan. Safety number one, profit follows after.

Sebagai investor di dunia pasar modal, khususnya saham, kita bisa mengambil pelajaran penting dari strategi dan keputusan Micahel Burry pada cerita diatas yang cenderung kontrarian dengan kebanyakan pelaku pasar.

Investor

Layaknya Michael Burry yang fokus mencari dasar dari harga securities yang “terlalu menarik” hingga paling bawah, seharusnya kita juga bisa lebih memfokuskan analisa kita terhadap satu saham kepada kondisi perusahaannya daripada sekedar melihat harga saham yang naik turun. Disinilah seharusnya sifat suudzon kita ditempatkan.

Semakin dalam kita menggali info pada setiap perusahaan terbuka, semakin besar pula kemungkinan untuk menemukan resiko yang berpotensi mempengaruhi kelangsungan perusahaan tersebut. You have to dig deep and dig wide but make sure that you dig in the right hole.

Bicara tentang PT Semen Baturaja (Persero), Tbk (SMBR) misalnya, ternyata perusahaan ini punya masalah dengan listrik pada tahun 2014 lalu. Harga listrik yang cukup tinggi serta kondisi yang membuat listrik tak stabil membuat margin keuntungan saham ini berkurang karena tidak efisiennya produksi semen.

Bahkan ada juga salah satu perusahaan (saya lupa perusahaan apa) yang ternyata bergantung dengan arus sungai guna mengangkut kayu sebagai material usahanya. Ketika sungai tersebut kering, proses produksinya pun bisa tersendat. Dampaknya kemana? Jelas akan bermuara pada penjualan.

Contoh-contoh ini lah yang seharusnya diperhatikan investor sebagai bagian dalam menganalisis saham. Kadang sesuatu yang nggak terlalu signifikan bisa berpengaruh besar terhadap performa bisnis perusahaan.

Meskipun contoh diatas hanya fokus untuk mencari resiko, tapi dengan “dig deep and dig wide” tentu saja juga berpeluang dalam menemukan keunikan yang justru bisa dianggap sebagai kekuatan tersembunyi bagi perusahan tersebut.

Bagian yang paling menantang disini adalah, jika Michael Burry berani menentang arus dalam membuat keputusan investasi berdasarkan temuannya sendiri. Mampu kah kita? Seberapa percaya diri kita terhadap temuan dan analisa sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.