Alasan Kenapa Saya Tidak Tertarik Dengan Reksadana Saham

Akhir-akhir ini saya sering ditanya tentang beberapa hal mengenai reksadana oleh teman kantor saya, mulai dari caranya hingga reksadana mana yang paling menguntungkan. Bukan tanpa sebab, soalnya dia baru saja diberi tawaran beberapa macam jenis reksadana oleh salah satu asset management yang lokasinya tidak jauh dari kantor. Cukup lengkap memang, semua jenis reksadana (saham, fixed income, campuran, syariah) tersedia. Saya pun akhirnya juga ikut cek semua fund fact sheet yang ditawarkan itu.

Meskipun pada akhirnya hal itu semakin memperkuat pandangan saya tentang reksadana, khususnya reksadana saham. Harus diakui bahwa sampai saat ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat reksadana saham itu terlihat menarik sebagai salah satu pilihan investasi untuk saya pribadi. Disclosure yang tidak terlalu ter-disclose, begitu lah yang saya rasakan.

Ketika saya mendatangi booth salah satu asset management di acara Invest Day yang diadakan Bareksa pada akhir tahun lalu, saya melihat salah satu fund fact sheet reksadana saham dan menanyakan pada petugasnya, “Mas, kenapa saham yang ditampilkan disini hanya yang mayoritas aja? Sisanya ada saham apa aja?”. “Waduh, kalau ditampilkan semua nanti dapurnya ketahuan pak”, jawabnya gitu.

Well.. Oke, benar juga sih. Saya merasa menanyakan pertanyaan yang konyol. Padahal itu wajar.

Sebenarnya tidak hanya reksadana saham, semua jenis reksadana pun juga tidak mungkin akan ditampilkan 100% aset-aset yang ada di dalamnya. Lalu kenapa saya hanya membahas reksadana saham, bukan reksadana jenis lain juga? Saya bisa katakan bahwa membeli saham sendiri itu caranya terbilang cukup mudah. Berbeda dengan reksadana jenis lain, fixed income misalnya. Membeli obligasi dan sukuk itu menurut saya prosedurnya jauh lebih ribet dari membeli saham.

Jadi jika disuruh memilih beli reksadana saham atau beli saham langsung, secara pribadi saya akan lebih memilih beli saham langsung. Kecuali untuk reksadana fixed income, karena alasan kemudahan saya masih bersedia untuk membeli reksadana jenis ini.

Jadi gini, setiap reksadana kan pasti punya fund fact sheet. Disitu lah segala informasi mengenai reksadana itu tercantum, bagian terpenting menurut saya adalah kinerja historis, umur reksadana, alokasi aset, dan komposisi portofolio. Nah, pada bagian komposisi portofolio ini yang saya maksud tadi.

Sudah sepantasnya setiap asset management mempunyai strategi masing-masing untuk mengalahkan performa pasar, atau bahkan kompetitor asset management yang lain. Dalam hal reksadana saham, pasti strategi difokuskan pada pembagian saham apa saja yang bakal dimasukan kepada portofolio reksadana tersebut. Makanya mereka tidak mungkin membuka keseluruhan “ingredients” portofolionya, karena dikhawatirkan akan sangat mudah dicontek oleh orang lain. Apakah anda pernah mendengar KFC menampilkan semua bumbu untuk menggoreng kulit ayamnya yang susah dijelaskan dengan kata-kata itu? Saya rasa tidak.

Contoh…

Reksadana Saham (1)

Gambar diatas merupakan susunan portfolio salah satu reksadana reksadana saham. Bisa diperhatikan bahwa portofolio tersebut sebagian besar diisi oleh Bank Central Asia (Financials), Bank Rakyat Indonesa (Financials), HM Sampoerna (Consumer), Unilever Indonesia (Consumer), dan Telekomunikasi Indonesia (Infrastructure). Jika dilihat lebih teliti, pada bagian others mempunyai prosentasi terbesar ketiga (17.93%) setelah financials (33.29%) dan consumer (27.91%). Bahkan lebih besar dari infrastructure yang diwakili oleh Telekomunikasi Indonesia. Jadi dari prosentase sebesar 17.93% itu sudah pasti diisi banyak saham yang jumlahnya kecil-kecil, namun pertanyaannya adalah, apa saja? So, disclosure?

Contoh lagi…

Reksadana Saham (2)

Berbeda dengan sebelumnya, reksadana ini adalah reksadana saham syariah. Kebijakan dalam alokasi industri portofolio tersebut bisa dikatakan jauh lebih luas dari contoh yang diatas, meskipun aset yang ditempatkan cenderung sama yaitu hanya pada saham dan pasar uang aja. Nah, sekarang jika kita jumlahkan prosentase lima saham terbesar yang ada di portfofolio reksadana ini ternyata hanya sebesar 41.61%, padahal total alokasi untuk saham sebesar 87.13%. Lalu pada saham apa aja sisa alokasi 45.52% dana akan ditempatkan? So, again, disclosure?

Intinya disini adalah, seperti yang saya bilang tadi, anda tidak akan pernah tahu 100% dimana dana anda itu akan diputar jika membeli produk reksadana. Manajer investasi hanya akan memberi informasi secara garis besar tentang tujuan dari portofolio reksadana tersebut beserta sebagian aset-aset yang ada didalamnya.

Jadi, investasi semacam ini sangat lah tidak cocok untuk anda yang ingin mandiri mengelola aset investasinya sendiri. Anda tidak akan bisa memonitor sebagian dana yang anda tempatkan disitu. Lupakan kata-kata mutiara atau nasehat-nasehat investasi dari seorang maestro Warren Buffet, karena anda tidak akan pernah menjadi seperti dia jika hanya berinvestasi di reksadana.

Namun setidaknya dari pandangan diatas, saya bisa memberi saran kepada anda jika tetap ingin membeli reksadana saham; pilih lah reksadana saham dimana aset-aset terbesar yang ditampilkan sudah mewakili sebagian besar portofolio tersebut.

Meskipun sampai saat ini saya tidak suka memilih investasi di reksadana saham, namun sebulan lalu saya diminta (lebih tepatnya dipaksa secara halus) untuk membeli reksadana saham oleh calon istri saya. Dari tanggal 18 Februari hingga tulisan ini dibuat, reksadana yang saya beli sudah membelikan return sebesar 5.xx%. Performa yang cukup lumayan sebenarnya.

Sebagian besar orang tidak akan peduli terbuat dari bumbu apa saja dan bagaimana makanan yang mereka makan itu dimasak, asal yang penting enak di lidah (dan halal). Namun sebagian yang lainnya selalu bercita-cita untuk menjadi seorang chef.

Your investment, your choice.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.