Menyikapi Hasil Valuasi Saham

Pada tulisan sebelumnya saya berbagi mengenai brief result of my valuation spreadsheet yang mengabil PT ACE Hardware Tbk sebagai contohnya. Sebenarnya ada banyak data yang mau saya share juga sekaligus, namun saat itu saya hanya fokus pada fair value saham tersebut.

Berdasarkan hitungan yang saya buat dengan data terakhir tanggal 13 April 2016, ACES mempunyai fair value sebesar Rp 724 per saham atau sedikit overvalued dibandingkan dengan harga pasar pada saat itu.

Mudah untuk menyimpulkan bahwa harga ACES sudah cukup mahal untuk dibeli. Meski begitu, apakah semua keputusan investasi hanya berdasarkan penghitungan fair value?

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi hasil dari valuasi tersebut, atau bahkan valuasi dari analis-analis profesional lainnya?

Dalam membaca hasil valuasi saham, tentunya sangat penting untuk memperhatikan metode apa yang digunakan. Karena setiap metode valuasi mempunyai keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Dan, yang terpenting, satu metode valuasi itu tidak bisa digunakan untuk menilai semua industri.

ACES misalnya, pada hitungan valuasi sebelumnya saya menggunakan Discounted Cash Flow dengan FCFE sebagai valuation based. Saya menggunakan DCF karena secara historis, ACES sebagai perusahaan di industri ritel, memiliki earning growth yang stabil dan cash flow yang mudah untuk di estimasi.

Hal itu tentunya akan berbeda lagi kondisinya jika kita mencoba untuk menilai fair value dari industri lain seperti manufaktur atau perbankan yang memiliki model bisnis lebih rumit. Butuh metode dan asumsi yang lebih komprehensif tentunya.

Terlebih lagi, meskipun data yang digunakan diambil langsung dari laporan keuangan namun tetap saja butuh asumsi yang sifatnya sangat subjektif.

Pernah kah kamu melihat hasil valuasi dari beberapa analis menunjukan nilai dan kesimpulan yang berbeda-beda? Sedikit-banyak karena mereka menggunakan asumsi yang juga berbeda, dan masing-masing tentunya punya alasan yang kuat untuk itu.

Asumsi yang dimaksud adalah tingkat keyakinan dalam membuat proyeksi bisnis di masa mendatang baik dari faktor perusahaan maupun ekonomi makro. Bagaimana para analis melihat kedua hal itu tentunya memiliki pendekatan yang berbeda-beda.

Pada kasus ACES yang saya hitung menggunakan DCF, ada dua asumsi paling krusial dalam menentukan hasil harga wajar saham yaitu growth rate untuk menilai pengembalian bisnis ACES  dimasa mendatang dan discount rate yang digunakan untuk  mengkonversi nilai dimasa depan menjadi present value.

Perlu diketahui bahwa sedikit perubahan pada discount rate mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap harga wajar suatu saham. Saya menggunakan Cost of Equity sebagai discount rate sebesar 14.78% menghasilkan harga wajar ACES menjadi 724. Jika Cost of Equity tersebut diturunkan menjadi 13.82% maka harga wajar saham ACES akan naik menjadi 899.

Begitu pula dengan growth rate. Perbandingan nilai wajar saham ACES juga sangat berbeda jika kita melihat pada hitungan sebelumnya pada asumsi pertumbuhan moderate dan aggresive meskipun perbedaannya hanya 10% dan 11%. Selisih 1% pada asumsi pertumbuhan saja sudah membuat perbedaan yang cukup jauh pada hasil nilai harga wajar dengan perbandingan 724 dan 916.

See? Little change on discount rate and growth rate could give you the other option, or problem. This could differ your final decision on one single stock.

Jadi, poin yang akan saya tekankan disini adalah: valuasi harga saham itu penting, namun ada yang lebih penting untuk dilakukan sebelumnya: memahami bisnis model perusahaan. Itu lah mengapa dalam valuasi saham sebaiknya kita tahu betul industri dan perusahaan yang akan kita nilai demi mendapatkan asumsi yang pas.

Karena pada dasarnya valuasi harga wajar saham itu merupakan quantitative analysis yang menggunakan actual data dari financial statement. Nah, financial statement itu kan sifatnya historical. Tentunya tidak akan cukup membuat asumsi dan proyeksi bisnis suatu perusahaan hanya dengan menyimpulkan dari data historis saja.

Stock Projection

Kita tidak bisa semata-mata membuat proyeksi penjualan hanya dengan average growth tahun-tahun sebelumnya, apalagi free cash flow yang tentunya membutuhkan analisa lebih dalam lagi mengenai kebutuhan biaya untuk ekspansi perusahaan.

Cara terbaik dalam menghitung proyeksi dimasa mendatang, menurut saya, tentu saja harus membaca bisnis model dari perusahaan itu sendiri. Penjualan misalnya, kita harus tau berapa banyak jumlah barang yang akan dijual untuk tahun berikutnya, ditambah dengan adakah kenaikan harga barang setiap tahunnya, karena tanpa tau quantity dan price sama aja hanya menebak-nebak tanpa dasar yang jelas.

Dalam mendukung justifikasi proyeksi tahun berikutnya pun kita tidak bisa mengesampingkan dimana posisi life cycle perusahaan saat ini. Pada dasarnya terdapat empat cycle utama dalam bisnis; introduction, growth, mature, decline. ACES misalnya, memang lima tahun terakhir perusahaan ini membukukan pertumbuhan yang bagus dan stabil, karena cycle mereka sedang ada di tahap growing.

Meski begitu, kita tidak akan pernah tau bagaimana bisnis ACES lima tahun kedepan hanya dengan melihat financial statement kan? That is. Once again, understanding company business model is the most important thing to do before calculating its fair value.

Bottom line, jika ingin melakukan valuasi saham sebaiknya paham betul seperti apa bisnis perusahaan tersebut. Karena valuasi harga merupakan hal yang terakhir dilakukan setelah kita yakin bahwa perusahaan tersebut layak dibeli secara prospek bisnisnya. Valuasi hanya untuk menentukan pada harga berapa saham tersebut layak dibeli, sementara memahami bisnis perusahaan itu berbeda lagi analisanya. Think like a business man instead of just investor.

Pun juga begitu dalam melihat hasil analisis dari sekuritas, sebaiknya kita paham dengan data-data asumsi yang mereka gunakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.