Misconception Antara Investor dan Trader

Ada satu tulisan yang nggak sengaja saya temukan di timeline Twitter dan itu bisa membuat saya benar-benar pissed off. Tulisan ini membahas tentang beberapa tipe trader saham, dipublish oleh salah satu forum perkumpulan trader saham di Indonesia yang cukup terkenal. Sayangnya, sebagian besar dari isi tulisannya sangat tidak bisa digunakan untuk pembelajaran bagi para awam yang baru mengenal saham. Ini bahaya. Bisa menyesatkan.

Pada tulisan tersebut menjelaskan tentang tipe trader yang dibagi berdasarkan timeframe dalam transaksi. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Mulai dari scalper, day trader, swing trader, position trader. Dari keempat tipe trader tersebut dibedakan oleh seberapa lama mereka melakukan jual beli saham, mulai dari scalper yang rentangnya hanya dalam hitungan jam hingga position trader yang memanfaatkan trend harga (bullish atau bearish).

Tidak sampai disitu saja, penulisnya melengkapi beberapa macam trader pada tulisan tersebut dengan rentang yang lebih lama lagi dan dia menyebutnya sebagai investor. Iya, investor. Jadi menurut penulis, investor adalah trader dengan jangka waktu paling lama. Seriously?

Hanya sebatas itu saja dia mendefinisikan seorang investor. Ini salah kaprah.

Saya sangat menyayangkan sudut pandang jika yang membedakan trader dan investor itu hanya mengenai rentang waktu dalam mengambil keputusan. Saya membeli saham hari ini dan dijual besok, maka saya adalah trader. Namun jika saham yang saya beli ternyata nyangkut maka saya akan menunggu sampai tahun depan hingga harganya lebih tinggi dari harga beli, maka saya adalah investor. Ini sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Menjadi trader atau investor memang jadi pilihan masing-masing, tapi jika salah mengartikan diantara keduanya berarti sama saja kita belum tau tujuan sebenarnya dalam investasi di pasar modal.

Maka dari itu saya akan mencoba menyampaikan pandangan saya sendiri mengenai perbedaan antara investor dan trader yang paling mendasar dan alasan kenapa dua tipe ini tidak bisa dicapuradukkan.

Trader vs Investor

Trader vs InvestorJangka waktu memang satu hal yang paling terlihat dalam membedakan antara Trader dan Investor, namun apa yang menyebabkan jangka waktu menjadi pembeda itu lah yang perlu diperhatikan. Kenapa trader cenderung jangka pendek dan investor termasuk jangka panjang? Tabel disamping mungkin udah cukup menjelaskan beberapa poin yang membedakan keduanya, terlepas dari sekedar rentang. Namun, yang paling mendasar adalah…

Jadi gini, satu hal yang membedakan diantara keduanya adalah fokus mereka dalam menilai dan menganalisis. Kamu boleh mencatat ini dimanapun: Trader fokus pada harga, sedangkan Investor fokus pada nilai.  Sedangkan harga dan nilai adalah dua hal yang nggak bisa disatukan. Kenapa?

Harga saham memang sebagai angka yang menunjukan nilai perusahaan, namun pembentuk harga tersebut tetaplah pelaku pasar yang menggunakan hukum supply and demand. Jika udah menggunakan hukum tersebut, maka nilai dari perusahaan sedikit dapat terabaikan. Bukankah satu Tamiya dengan model dan kualitas yang sama bisa mempunyai harga yang berbeda pada beberapa toko dan tetap menemukan pembeli?

Saya ambil contoh mudah dengan maraknya pedagang online shop saat ini, khususnya tentang fashion dan baju-baju wanita. Mereka tau mana barang yang bagus, mana yang jelek. Namun dalam hal menjual, bukan disitu poin pentingnya. Dalam hal supply barang, entah itu barang bagus atau jelek, penjual tentunya akan lebih memilih untuk supply pada jenis baju-baju yang mudah dijual dengan margin yang reasonable. Ini pedagang, sama halnya dengan Trader. Dan mereka sama sekali tidak bisa disebut sebagai investor.

Dengan adanya hukum supply and demand tersebut otomatis akan membuat harga menjadi fluktuatif dalam waktu yang relatif singkat. Makanya hal ini dimanfaatkan oleh mereka yang mengambil posisi pada saat harga rendah dan akan menjual kembali saat harganya berfluktuasi naik ke level yang lebih tinggi. Mereka ini yang disebut Trader.

Berbeda lagi dengan Investor, seperti yang saya bilang tadi bahwa investor selalu fokus pada nilai. Nilai yang dimaksud adalah bagaimana dan seperti apa bisnis perusahaan yang akan dibeli, entah itu dari segi menghasilkan profit, kesehatan perusahaan, atau dari sisi manajemennya sendiri. Dari beberapa aspek tersebut dikemas dengan hasil justifikasi untuk menyatakan apakah saham dari perusahaan tersebut layak dibeli atau tidak. Dari nilai bisnis yang selalu berbicara mengenai prospek otomatis akan membuat investor menahan saham dengan rentang waktu yang cukup lama hingga sewaktu-waktu ada perubahaan kualitas perusahaan yang tidak selaras dengan analisa dan perkiraan investor.

Intinya adalah, rentang waktu memang yang membedakan keputusan dari investor dan trader. Namun jangan sekali-kali mengatakan bahwa investor adalah trader jangka panjang, karena fokus mereka bukan harga melainkan bisnis. Begitu juga dengan trader, jangan mengatakan kalau mereka adalah investor jangka pendek karena orientasi mereka adalah memanfaatkan fluktuasi harga. Saya nggak bosan-bosan untuk menekankan pada poin yang satu ini.

Berbicara masalah strategi, ini juga lain lagi. Trader bisanya mempunyai frekuensi jual beli yang tinggi dengan mengambil selisih harga beli dan jual yang cenderung tipis, karena fokus mereka mencari capital gain. Sedangkan seorang Investor sudah pasti fokus pada seberapa besar uang yang mereka invest ke perusahaan dapat menghasilkan keuntungan, dengan kata lain investor berharap memetik keuntungan dari keuntungan perusahaan berbentuk deviden, yang ini hanya dibagikan setahun sekali.

Perilaku mereka juga akan sangat berbeda saat market bullish atau bearish. Saat kondisi sedang bullish, seorang Trader biasanya sibuk mencari saham yang paling mungkin bisa naik lebih tinggi dari yang lain, sedangkan seorang Investor cenderung menahan posisi mereka. Investor baru akan bersiap-siap ambil posisi justru ketika harga jatuh atau pada saat market bearish karena mereka beranggapan bahwa semakin murah mereka membeli saham akan memperbesar dividend yield yang mereka dapatkan.

Ada satu hal yang menarik, salah satu teman pernah beranggapan bahwa sebenarnya Investor itu lebih bersifat spekulatif daripada Trader. Karena dia berpandangan bahwa seberapa jauh harga akan jatuh seorang Investor tetap akan bertahan dengan posisinya sehingga keputusannya cenderung terlihat sebagai spekulasi tanpa strategi. Lagi-lagi saya tegaskan, seorang investor mengacu pada nilai bukan harga. Kurang tepat jika mengatakan investor cenderung spekulatif daripada trader dengan argumen seperti itu.

Bicara mengenai resiko seperti diatas, kembali lagi startegi exit position dari Trader dan Investor pun mempunyai acuan tersendiri. Trader dengan kecenderungan memanfaatkan fluktuasi harga mempunyai exit plan dari melihat historical price, dari sini mereka akan menentukan batas bawah kerugian untuk mencegah kerugian lebih lanjut melalui pattern harga yang telah lalu. Investor, lain lagi, mereka mempunyai exit plan mengacu pada standar pencapaian bisnis yang dibawah rata-rata. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan prospek awal yang sudah diprediksi atau manajemen membuat blunder dengan strategi yang buruk maka seorang investor baru akan mengurangi kepemilikan atau malah menjual keseluruhan saham yang dimilikinya, regardless how much of its price.

Dari situ makanya muncul opini tentang analisa teknikal yang digunakan para Trader dan analisa fundamental sebagai senjata para Investor. Kedua analisa itu pun sama sekali tidak bisa disatukan. Alasannya sudah jelas saya jabarkan diatas. Makanya sampai saat ini saya merasa tidak setuju dengan kalimat “Gunakan analisa fundamental untuk mencari saham mana yang bagus, dan gunakan analisa teknikal untuk mengetahui kapan membeli saham tersebut”. Lah, sebenarnya mereka yang bilang seperti itu pengen jadi investor atau trader? Jangan dicampur jadi satu dong.

Yes, analisa teknikal dan analisa fundamental pun sebenarnya tidak bisa disatukan. Ini bukan substitusi. Ini masalah prinsip, salah satu aja cukup. Namun tentukan dulu kamu mau jadi investor atau trader. Jika keduanya, bedakan portofolionya.

Ada satu saham yang saya tidak suka dengan nilai fundamentalnya, tapi dilihat dari pattern harga setiap harinya masih mungkin untuk mengambil untung dari situ dengan short term trading. Jadi, kenapa harus mempermasalahkan fundamental?

Ada juga lebih banyak lagi saham yang nilai fundamentalnya teramat bagus, namun harga di pasar cenderung diam seakan tak laku. Jika sudah yakin kalau saham perusahaan itu bagus, kenapa harus mempermasalahkan chart teknikal yang tidak berbentuk?

Kembali pada contoh online shop diatas, jika saya menemukan baju yang murah dan bisa dijual lagi dengan harga tinggi kenapa harus repot-repot menilai kualitasnya? Hajar aja bleh, kan tetep bisa untung juga.

Sekali lagi saya katakan, kamu boleh memilih untuk menjadi salah satu atau bahkan menjadi keduanya. Namun ingat untuk tetap memegang prinsip dari masing-masing tipe tersebut, karena mereka mempunyai keunikan dan tujuannya masing-masing yang nggak bisa disamakan.

26143770132_13b0d4e9b8_o1Hingga tulisan ini ditulis, saya menemukan buku yang cukup menarik dari Ryan Filbert yang bahkan belum rilis di pasaran namun sudah diperkenalkan oleh beliau sendiri pada acara talk show dalam acara The 2nd Capital Market Week oleh FE UII, alumni saya, pada hari Senin 4 April lalu. Judulnya mirip dengan tulisan ini; Trading vs InvestingMungkin akan jadi salah satu buku yang akan saya baca nanti.

Harusnya pak Ryan ngasih komisi nih, udah dibantu ngiklanin hehehe

2 thoughts on “Misconception Antara Investor dan Trader

  1. michael

    salam kenal sebelumnya…sesama orang jogja juga nih.
    Saya sangat setuju dengan pendapat bapak tentang investor vs trader.

    kebetulan juga kayanya saya tahu forum yang anda maksud, saya jd makin merasa aneh, katanya isinya orang2 yang sudah ahli di bidang saham tapi kenapa membedakan antara investor & trader aja menjadi sangat bias. Mungkin pengaruh jaman sekarang orang maunya serba instant, masuk di dunia saham ju maunya profitnya langsung keliatan dalam hitungan hari.

    Btw tulisan2 anda cukup bagus dan patut diacungi jempol, akhirnya ada lagi orang fundamental yg bikin web.
    semoga makin sukses dan banyak pengalaman yang bisa dibagikan buat sesama rekan investor.

    1. Rizan Post author

      Salam kenal juga pak Michael.

      Terimakasih atas komennya. Sebenernya saya juga masih newbie pak, hanya berbagi pendapat aja hehe. Tapi memang sepertinya butuh pendekatan yang lain buat mengenalkan “investasi” ke masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.