Ironisme UK Referendum

Setelah setahun terakhir menjadi bahan pembicaraan hangat para ekonomis, akhirnya pada tanggal 23 Juni kemarin, UK dinyatakan resmi memilih berpisah dengan European Union. Keputusan ini langsung direspon pasar dengan anjloknya mata uang poundsterling serta beberapa bursa dunia yang juga memerah.

Banyak yang menganggap bahwa lepasnya UK dari European Union justru akan berdampak buruk bagi Negara Persemakmuran Inggris itu sendiri, sehingga beberapa ekonomis menganggap bahwa kemungkinan untuk remain dalam EU jauh lebih besar ketimbang exit. Yet, the result of referendum proved that they were wrong.

Jujur, saya masih belum punya kapasitas untuk memberi pandangan tentang efek ke ekonomi makro dari peristiwa Brexit ini. Namun saya tertarik ketika melihat breakdown usia voter di referendum kemarin.

ClxuvhoUYAASZP9Seperti gambar disamping, terlihat bahwa dari persebaran usia memperlihatkan generasi muda lebih ingin remain to EU dibandingkan dengan generasi lanjut. Bahkan pada usia antara 18-24 tahun cenderung sangat dominan dengan 73% suara memilih remain. Sebaliknya, voter dengan usia lanjut juga paling dominan memilih exit dengan 60% suara.

Meski pada akhirnya secara keseluruhan voting dimenangkan oleh pihak exit dengan prosentasi 51.89%. Dari chart tersebut kita bisa sedikit menyimpulkan bahwa struktur kependudukan yang dimiliki oleh UK memang lebih banyak didominasi oleh penduduk dengan usia lanjut. Tipikal negara maju, jika digambar dengan piramida akan membentuk tipe constructive.

OlderIni akan semakin terasa ironis jika membaca twit dari Lloyd Webber yang kurang lebih menyatakan bahwa orang yang lebih tua telah menentukan nasib generasi muda namun tidak akan merasakan pilihannya sendiri.

Hal tersebut cukup disayangkan karena voter yang hampir mencapai usia life expectancy (atau bahasa kasarnya: perkiraan umur maksimal) cukup tinggi. Padahal proses untuk benar-benar lepas dari European Union ini memakan waktu setidaknya minimal dua tahun. Bisa dibilang, belum benar-benar lepas dari EU, bisa aja voternya udah mati duluan. Padahal siapa yang masih ingin tetep remain? Generasi muda. Dan mereka justru kalah suara dalam referendum tersebut karena struktur yang tidak imbang.

Salah satu alasan kenapa banyak yang memperkirakan bahwa UK akan tetep remain as EU adalah, seperti yang saya bilang di awal tadi, akan lebih banyak ruginya untuk UK. Penduduk yang usia produktif pun aware dengan hal tersebut. Namun apa mau dikata, generasi tua tetap lah generasi tua, mereka mendominasi dengan gayanya sendiri.

Poin yang saya ambil disini hanya satu, kadang demokrasi itu nggak terlalu demokratif. Harusnya dengan fakta diatas bisa dipertimbangkan lagi untuk mengkategorikan penduduknya supaya bisa memberikan hak pilih kepada kalangan yang benar-benar dianggap mewakili keseluruhan stakeholder.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.