Membaca Perekonomian Indonesia dari Komponen Penyusun PDB

Bulan Februari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2017 dengan pencapaian 5.07%, naik tipis dari tahun lalu yaitu 5.02%. Meski begitu angka tersebut masih dibawah target pemerintah yang dituangkan dalam asumsi dasar ekonomi makro pada anggaran dasar APBN 2017 sebesar 5.10%, bahkan beberapa institusi international seperti ADB dan IMF pun punya prediksi yang lebih tinggi yaitu 5.20%. Jadi, secara pribadi tentunya saya kurang puas dengan hasil tersebut.

PDB sendiri sampai saat ini masih menjadi indikator utama untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika dilihat dari beberapa tahun terakhir memang pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu dibawah ekspektasi. Berbagai macam spekulasi dan analisa pun muncul untuk mencoba menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Melalui tulisan ini, saya mencoba memaparkan faktor apa saja yang berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, sehingga kita mampu melihat beberapa masalah dan peluang yang masih bisa dikembangkan untuk mencapai perumbuhan yang lebih optimal.

BPS sebagai penyedia data utama membagi penghitungan PDB menjadi dua macam yaitu PDB menurut lapangan usaha dan menurut pengeluaran. PDB menurut lapangan usaha adalah nilai akhir yang dihasilkan menurut beberapa lapangan usaha atau sektor ekonomi yang telah ditetapkan. Sedangkan PDB menurut pengeluaran adalah besaran nilai produk dan jasa yang direalisasikan dalam bentuk konsumsi akhir masyarakat.

Saya mengambil data PDB Harga Konstan Seri 2010, yang berarti angka diambil berdasarkan pertumbuhan tiap tahun yang mengacu pada data pertama tahun 2010. Ada beberapa temuan menarik, diantaranya adalah dari beberapa Lapangan Usaha yang ditetapkan, ada tiga sektor yang paling dominan memberi kontribusi terhadap PDB negara yaitu (1) Industri Pengolahan, (2) Perdagangan, dan (3) Pertanian. Ketiganya mempunyai proporsi 47.13% terhadap total PDB. Jadi, bisa dibilang hampir setengah perekonomian Indonesia bertumpu pada tiga sektor tersebut.

Nah sekarang kita bisa mengerucutkan bahasan perekonomian kita pada sektor tersebut. Secara, ketiganya paling berpengaruh ke bentuk perekonomian Indonesia dibanding sektor lain. Lalu bagaimana dengan pertumbuhannya? Berikut saya coba tampilkan data pertumbuhan ketiga sektor tersebut mulai dari tahun 2011

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Dari grafik tersebut kita bisa bercerita banyak hal. Misalnya, ketiga sektor yang paling besar dan berpengaruh di perekonomian Indonesia ternyata pada tahun 2017 hanya mencatatkan angka pertumbuhan dibawah PDB nasional: Industri Pengolahan (4.27%), Perdagangan (4.44%), Pertanian (3.81%). Lebih miris lagi pertumbuhan ketiganya stagnan dengan kecenderungan menurun. Apalagi jika dibandingkan dengan tahun 2011 dimana sektor perdagangan bisa tumbuh hingga 9.66%. Perlu diketahui juga bahwa pertumbuhan PDB pada tahun itu mencapai 6.17%.

Lalu bagaimana dengan industri yang lainnya? Ternyata saya juga menemukan sesuatu yang menarik lagi.

Ada dua sub-sektor yang pertumbuhannya mencapai double digit. Sepertinya kalau kita mengamati tren perekonomian Indonesia (dan sepertinya berlaku juga bagi ekonomi global), maka akan mudah menebaknya, sektor tersebut adalah Transportasi dan Pergudangan. Sub-sektor yang menjadi pendorongnya adalah Angkutan Rel dengan pertumbuhan sebesar 19.00% dan Angkutan Udara sebesar 11.93%.

Kenaikan signifikan pada dua lapangan usaha tersebut yang dijadikan patokan untuk menyimpulkan bahwa masyarakat di Indonesia benar-benar sedang mengalami pergeseran cara konsumsi, yang sebelumnya product oriented menuju ke experience oriented. Simpelnya, lebih milih beli tiket liburan daripada laptop mahal. Selain itu, bisa diartikan juga dengan tingginya kenaikan pada Transportasi itu karena distribusi barang dari hasil penjualan online yang meningkat.

Masalahnya adalah meski kedua sektor tersebut mencatatkan pertumbuhan yang paling tinggi, keduanya hampir tidak berpengaruh ke PDB nasional karena Trasportasi dan Pergudangan hanya menyumbang proporsi 4.27% di tahun 2017 lalu.

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Sampai disini kita bisa menyimpulkan dua hal. Pertama, jika ekonomi kita masih bergantung kepada tiga sektor dominan tadi. Jika ingin kembali mencapai pertumbuhan yang diharapkan maka secara teori kita harus lebih fokus untuk memperbaiki sektor tersebut. Kedua, ada peluang pertumbuhan di sektor baru yaitu transportasi dan pergudangan, sektor informasi dan komunikasi juga tercatat memiliki pertumbuhan diatas rata-rata. Jadi, bisa juga kita mengoptimalkan sektor tersebut agar memiliki proporsi yang lebih pada GDP Indonesia.

Disisi lain sebenarnya kita bisa juga melihat efektifitas penggunaan APBN dan pengeluaran pemerintah yang lain melalui data PDB menurut pengeluaran. PDB menurut pengeluaran dibagi dalam beberapa hal yang pada dasarnya mengikuti teori perhitungan Aggregate Demand yaitu C+G+I+(X-M). C = Household consumptions, G = Government Spending, I = Investment, X = Export, I = Import.

Pada data ini ternayata tingkat konsumsi masyarakat jauh lebih signifikan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah. Ini wajar, dan logis, mengingat jumlah rakyat sipil yang begitu besar. Proporsi pada konsumsi masyarakat pada PDB lebih dari 50%, dan ini bertahan sejak 2010. Meski begitu, pertumbuhan konsumsi pada tahun ini melambat dibawah 5.00%. Tiga tahun terakhir, pertumbuhan tahunan pada konsumsi masyarakat hanya sebesar 4.96%, 5.01%, dan 4.95%. Pada sisi PDB Pengeluaran, konsumsi masyarakat ini lah yang “bertanggung jawab” atas rendahnya PDB Indonesia.

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Komponen yang paling utama pada PDB pengeluaran menurut diagram diatas adalah Konsumsi Rumahtangga dan Pembentukan Modal Bruto (PMTB) yang mewakili hampir 90% dari total pengeluaran orang Indonesia. PMTB adalah jumlah investasi yang masuk di Indonesia dalam bentuk investasi langsung seperti pembangunan pabrik, infrastruktur, dan pembangunan fisik lainnya.

PMTB pada tahun 2017 lah yang menurut saya sedikit menyelamatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tetap tumbuh diatas 5.00% karena pada periode tersebut PMTB naik mencapai 6.15% yang disumbangkan oleh kenaikan direct investment dan pasar saham kita.

Klik Gambar Untuk Memperbesar

Dari data diatas, kita bisa fokus kepada hal-hal yang dominan mulai dari sektor perdangangan dan pengolahan serta tingkat konsumsi masyarakat Indonesia untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ekonomi lokal.

Meski begitu, pembahasan kenapa beberapa sektor itu naik atau turun jelas membutuhkan analisa yang lebih mendalam lagi. Apalagi, seperti yang saya tulis sebelumnya, setiap komponen penyusun ekonomi negara pasti selalu akan selalu berkaitan (entah linear atau kontradiktif). Namun setidaknya dari mengetahui komponen yang dominan pada perekonomian, kita mampu memfokuskan analisa kita pada hal tersebut.

Memang jika melihat data diatas masih sangat menjelaskan bahwa Indonesia masih mempunyai ekonomi ciri khas dari negara berkembang seperti yang lain yaitu menggantungkan ekonomi mereka dari sektor manufaktur dan konsumsi masyarakat

Jadi, kenapa konsumsi masyarakat Indonesia melemah? Kenapa pertumbuhan industri perdagangan, pengolahan, dan pertanian tidak setinggi beberapa tahun sebelumnya?

Lampiran

  1. PDB Menurut Lapangan Usaha
  2. PDB Menurut Pengeluaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.