Tentang Hutang dan Bagaimana Menyikapinya

Rencana Presiden Jokowi untuk relaksasi defisit APBN menjadi 5.07% dari GDP selama tiga tahun kedepan sebagai langkah untuk menghadapi pandemi Covid-19 berarti akan membuat pemerintah menambah hutang sebesar Rp 3,500 Triliun selama periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi, kira-kira seperti itu kata salah satu tokoh politik melalui twitternya. Saya sendiri tidak tahu angka tersebut darimana, meskipun memang logis jika pada akhirnya nanti pemerintah akan menambah hutang untuk menambal defisitnya.

Logis, iya, dan memang wajar jika ada yang mengkritisi, tapi apakah masyarakat akan mudah memahami konteks secara luas jika narasi yang dibangun dimulai dari kata “hutang”? Kira-kira begini, “Pemerintah akan memberikan stimulus sebesar Rp 405.1 Triliun sebagai langkah penanganan pandemi Covid-19 yang sebagian sumber dananya dari hutang”. Saya rasa tidak semudah itu, dari segi jumlah stimulusnya saja sudah muncul berbagai macam tanggapan, apalagi jika ditambah dengan informasi setengah-setengah seperti “hutang” yang disebutkan tokoh politik tadi secara gelondongan tanpa menjelaskan detail dari stimulus itu sendiri, let alone hasil yang diharapkan dari stimulusnya.

Saya anggap cerdik usaha tersebut jika dimaksudkan untuk memancing reaksi masyarakat, mengingat sebagian besar warga Indonesia hingga saat ini selalu punya pandangan dari satu sisi saja tentang hutang, baik itu hutang secara perseorangan maupun hutang negara. Hutang itu buruk dan memberatkan, setidaknya itu lah yang selalu terfikirkan oleh masyarakat.

Well, apa pun itu, mari kita kesampingkan diskusi tentang langkah pemerintah dalam menghadapi wabah Corona ini terlebih dahulu. Karena, tidak kah kalian penasaran dengan sikap masyarakat Indonesia pada umumnya yang selalu antipati terhadap hutang? Atau, jangan-jangan kalian termasuk salah satunya?

Saya punya beberapa teori mengenai hal ini, yang saya anggap sebagai salah satu kesalahpahaman masyarakat Indonesia tentang uang, tapi sebelum itu saya ingin menyampaikan disclaimer dulu bahwa pengalaman saya sebagai banker dan financial analyst tidak pernah mendasari atas apa yang akan saya sampaikan, serta saya juga tidak pernah menganggap saya sudah menguasai banyak hal tentang keuangan.

Jadi, kenapa hutang selalu dianggap buruk?

Salah satu akarnya mungkin berasal dari pola pikir yang ditanamkan oleh para orang tua kita dimana kebanyakan dari cara mereka berinteraksi dengan hutang adalah untuk menyempurnakan kebutuhan hidup. Beli handphone, dari hutang. Beli motor, dari hutang. Beli mobil, dari hutang. Biaya anak sekolah, dari hutang. Hutang merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersier. Hutang adalah untuk kebutuhan konsumtif.

Belum lagi ditambah dengan seringnya pemberitaan orang-orang yang kesulitan membayar hutang, bangkrut karena gagal bayar hutang, bahkan banyak juga yang bunuh diri karena dikejar-kejar debt collector. Dari perilaku dan pemberitaan tersebut maka terbawa lah sampai ke alam bawah sadar seseorang jika hutang merupakan salah satu indikator kesulitan ekonomi. Hutang = kesulitan ekonomi.

Apalagi sekarang juga mulai banyak muncul jokes di sosial media tentang sulitnya menagih hutang kepada teman sendiri. Meskipun jokes tersebut valid, tetapi secara tidak langsung hal tersebut semakin membawa reputasi hutang itu buruk kedalam alam bawah sadar kita. Hutang itu selain nyusahin juga merusak pertamanan, begitu outcome yang didapat.

Kondisi masyarakat Indonesia yang financial literacy-nya masih sangat rendah membuat pengetahuan tentang institusi keuangan hanya terbatas pada bank saja, ditambah dengan karakter religiusitas masyarakat lokal semakin memperburuk konsep hutang itu sendiri yang menganggap bahwa jika hutang itu pasti dari bank dan mengandung riba. Jadi, hutang itu adalah salah satu perbuatan dosa.

Keburukan hutang yang tadinya hanya sebagai urusan personal, karena sudah terpatri pada alam bawah sadarnya, akan terbawa ke cakupan yang lebih luas; misalnya dalam hal berwirausaha, atau seperti contoh diatas tadi, hutang negara. Makanya jangan heran jika pemberitaan tentang hutang negara yang bertambah akan menjadi salah satu berita yang laku dan sering dibagikan ulang oleh pembacanya.

Perlu diingat bahwa demografi masyarakat Indonesia saat ini mulai didominasi oleh kaum kelas menengah bawah yang baru mulai naik ke kelas menengah atas. Kelas menengah atas baru mulai banyak, meski begitu saya cukup yakin bahwa mindset tentang uang masih terbawa dari bagaimana cara orang tua kita dan lingkungan dalam mengatur keuangannya. Pada akhirnya, masih banyak masyarakat yang gagal paham bahwa semua hutang itu buruk. Padahal seperti kehidupan pada umumnya, pasti ada yang namanya hutang baik dan hutang buruk.

Konsep hutang pada kaum kelas menengah atas biasanya lebih sering diartikan sebagaimana tujuan awalnya. Hutang sebagai leverage, atau daya ungkit. Dengan kata lain, hutang berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan aset produktif lebih cepat sehingga diharapkan adanya eskalasi kesejahteraan.

Ada salah satu ahli yang berpendapat bahwa sebenarnya jika kita berhutang, sebenarnya kita tidak meminjam kepada orang lain, melainkan kita meminjam kepada diri kita sendiri dimasa depan. Konsep ini jarang dijelaskan oleh orang-orang, tapi sebenarnya sangat mudah untuk dipahami. Karena pada dasarnya meminjam dari diri sendiri di masa depan adalah lawan dari konsep menabung, yang mana, menabung adalah menyimpan kelebihan uang kita dimasa sekarang untuk kebutuhan dimasa depan. Kondisi ini menjadi net-off, bahasa kerennya, karena meminjam dan menabung bisa dianggap sebagai dua sisi dalam satu koin.

Nah, sampai pada poin ini harusnya bisa lebih memahami kenapa menanamkan konsep investasi pada masyarakat Indonesia masih sangat sulit, kan? Karena pada dasarnya konsep yang paling dasar saja sudah tidak berimbang cara pandangnya. Tapi pada tulisan ini tidak akan saya bahas lebih dalam lagi. Saya hanya ingin menekankan bahwa ada yang namanya hutang baik diantara banyaknya misconception yang menganggap hutang itu selalu buruk.

Lalu bagaimana kita sebaiknya menyikapi hal ini? Saya hanya akan bercerita sedikit.

Di daerah asal saya, ada salah satu pengusaha yang cukup terkenal, bisa dibilang sebagai influencer di dunia kewirausahaan. Saya cukup menghormati beliau bukan hanya dari berbagai macam tips berwirausaha namun juga beberapa prinsip untuk menjalani kehidupan. Dari beberapa ilmu yang disampaikan melalui akun Facebook-nya, terlihat bahwa beliau sangat anti dengan yang namanya hutang baik itu untuk pribadi maupun untuk usaha. Terlihat juga ada beberapa yang menceritakan susahnya seseorang jika memiliki hutang di bank. Apakah itu salah? Oh tentu tidak, karena saya mencoba memahami bahwa yang coba disampaikan beliau adalah mengenai hutang ribawi. Hutang yang tidak mengandung keadilan bagi peminjam dan terpinjam.

Sementara di daerah yang lain, beberapa minggu lalu sebelum Jakarta menerapkan PSBB (atau apapun istilah yang kamu yakini), saya sempat meeting dengan salah satu perusahaan yang bergerak pada jasa kontraktor dan penerbangan. Mereka sedang membutuhkan dana tambahan untuk menginisiasi salah satu proyek pemerintah di Kalimantan. Saya baru tau kalau salah satu direksi mereka ternyata menjabat lumayan tinggi di HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Meeting berjalan dengan normal tanpa ada sesuatu yang mengganjal. Namun ada yang menarik ketika saya menanyakan pertanyaan dasar pada seseorang atau korporasi yang sedang membutuhkan dana, apakah mereka mempunyai pinjaman lainnya di bank? Petinggi HIPMI tersebut menjawab, “Sekarang nggak ada, justru ini lagi mau belajar ngutang mas”. Sambil ketawa tapi serius beliau melanjutkan, “Bapak belum dianggap sebagai pengusaha sejati kalau belum pernah mengelola duit pinjaman”. Well, oke. Good point.

Dua-duanya pengusaha, tetapi memiliki pendekatan yang berbeda tentang hutang, yang sebenarnya tetap bisa menjadi sama jika semua orang bisa membedakan antara konsep hutang dan hutang sebagai alat.

Konsep hutang yang mengandung riba itu berpotensi merugikan salah satu pihak, dan dilarang keras dalam agama Islam. Meski begitu, Islam sebenarnya tidak pernah melarang untuk berhutang. Maka dari itu muncul solusi berbentuk bank syariah. Jadi, seharusnya yang lebih valid untuk disimpulkan sebagai sesuatu yang buruk itu adalah hutang yang mengandung ribawi, bukan kegiatan berhutangnya.

Pada akhirnya, hutang adalah hutang. Dia hanya sebuah alat, sebagaimana alat-alat yang lain, tidak pernah tertempel pada dirinya sebuah makna apakah itu baik atau buruk melainkan oleh siapa dan bagaimana cara menggunakannya. Seperti salah satu pengurus HIPMI tadi, yang mana, melalui perusahaannya, mereka mencoba menggunakan hutang -sebagai alat- untuk mendanai kontrak yang telah dipegang perusahaannya.

Saya rasa bapak, atau lebih cocok dipanggil mas karena wajahnya terlihat lebih muda dari saya, pengurus HIPMI tadi juga akan setuju bahwa hutang itu buruk jika tidak mengandung prinsip berimbang dan keadilan sebagaimana yang sering digaungkan oleh pengusaha di kota saya tadi. Begitu juga pengusaha di kota saya tersebut pasti juga tidak akan masalah jika seseorang ingin menggunakan hutang untuk memulai usahanya, atau bahasa lebih membuminya “mitra”, saling bekerja sama dalam bentuk barang maupun uang.

Jangan langsung judgemental dulu, memulai usaha dengan hutang itu juga tidak selamanya buruk.

Ada salah satu pengusaha di Indonesia dalam satu kisahnya pernah diceritakan pernah mengalami kebangkrutan hingga tidak punya uang sama sekali. Meski begitu, beliau tetap gigih ingin berjualan. Gula menjadi komoditas yang ingin diperdagangkan selanjutnya. Pada saat itu masa jaman pendudukan Jepang. Beliau ijin mengambil gula terlebih dahulu pada pemasok dengan janji akan dibayar kemudian jika gula tersebut sudah laku terjual. Beliau menjalankan usahanya sampai berkembang pesat hingga bisa mendirikan konglomerasi besar yang masih berdiri sampai saat ini. Beliau adalah Eka Tjipta Widjaja, pemilik Grup Sinarmas.

Bukan kah awal usaha menjual gula tersebut juga termasuk hutang? Hutang modal kerja, kita mengenalnya sekarang. Kita mendapatkan barang (atau jasa) terlebih dahulu dan akan dibayarkan kemudian jika barang tersebut sudah laku terjual. Praktek tersebut sudah mulai lazim dijalankan, saya yakin disemua perusahaan tempat kita bekerja juga menggunakan sistem seperti ini.

Jadi, hal yang sebenarnya ditanamkan pada alam bawah sadar kita adalah hutang sebagai alat. Baik buruknya tergantung pada siapa dan bagaimana cara menggunakannya. Bukan hanya selalu menitik beratkan pada konsep ribawi pada hutang yang selalu berujung pada kesengsaraan yang kemudian menyimpulkan bahwa semua hutang itu buruk dan mengundang kesengsaraan.

Mungkin sampai pada titik ini masih ada yang berargumen jika hutang tetap lah buruk meskipun tidak mengandung riba karena pada dasarnya hutang adalah beban kewajiban yang harus dibayarkan dikemudian hari. Ini juga valid, tentu saja.

Tapi, ambil contoh hutang KPR untuk membeli rumah pribadi, jelas jika dilihat dari sisi cicilan itu merupakan beban yang harus ditanggung selama tenor pinjaman. Misal contoh kasus begini, pendapatan keluarga setiap bulan 10 juta, biaya bulanan 4 juta, cicilan KPR 5 juta, sisanya 1 juta bisa untuk investasi atau dana cadangan. Mungkin concern yang akan muncul berikutnya adalah; Apa mungkin pendapatan tersebut bakal stabil selama masa tenor KPR untuk menutupi cicilannya, dan, sebenarnya bisa saja lebih fleksibel jika cicilan 5 juta tadi disimpan aja setiap bulannya dalam bentuk tabungan daripada digunakan untuk mencicil KPR yang sifatnya lebih mengikat.

Kembali lagi, itu pilihan. Membeli rumah dengan KPR, kita bisa mendapatkan rumahnya hari ini, maka ini lah yang disebut mengakumulasikan kekayaaan dengan leverage. Ya, sebenarnya bisa saja jika kita tidak mau terbebani dan tidak ingin menggunakan hutang, kita mengalokasikan saja angka yang sama dengan nilai cicilan KPR tadi guna membeli rumah dikemudian hari sampai uangnya tercukupi terlebih dahulu. Tidak ada yang salah dengan keduanya, namun jika melihat mana yang lebih bijak jika memperhatikan nilai harga rumah dan kebutuhan akan rumah itu sendiri, mana yang sebaiknya dipilih? Dari sini kita tidak bisa menyimpulkan bahwa hutang itu buruk karena membuat sesorang menjadi terbebani. Karena, pada dasarnya, hutang merupakan pilihan.

Lalu bagaimana mengenai beban hutang dalam berwirausaha? Masih mengenai KPR, anggap saja kita meminjam untuk membeli rumah kos-kosan. Pasti concern yang muncul adalah mampu tidak pendapatan sewa nantinya dapat menutupi cicilan KPR setiap periodenya? Namun tentu saja kekhawatiran tersebut juga gagal dianggap sebagai argumen untuk menyatakan bahwa hutang itu buruk karena termasuk beban yang memberatkan, karena kita juga punya pilihan; Punya pendapatan tambahan dari sewa kos-kosan yang dikurangin dengan biaya hutang, atau tidak punya pendapatan sama sekali. Pilihan yang sama juga berlaku bagi bisnis-bisnis yang lainnya.

Ah, paling nantinya akan tetap dilanjut dengan argumen “Bagaimana jika nantinya pendapatan dari bisnis saya tidak mencukupi untuk menutupi biaya dari hutang yang didapat? Sama aja buat susah juga kan akhirnya”. Well, saya harus katakan lagi, ini valid. Meski begitu, bahkan dalam kondisi normal pun yang namanya bisnis selalu ada kemungkinan bahwa pendapatan kita tidak mampu menutupi biaya yang dikeluarkan. Itu wajar, jadi bukan serta-merta tentang hutang yang buruk. Makanya, itu lah pentingnya sebuah perencanaan dalam berbisnis, bahasa kerennya, kita harus paham bagaimana cara menghitung Business Feasibility Study.

Kuncinya adalah tata kelola keuangan, dalam konteks ini, bukan hanya melulu tentang darimana sumber dana yang digunakan dan seberapa besar leverage yang dimiliki baik untuk seluruh kegiatan kita sehari-hari maupun untuk mendirikan usaha. Makanya ada ilmu yang namanya Personal Finance untuk mempelajari bagaimana caranya mengelola uang pribadi, termasuk hutang. Ada pula yang namanya Project Finance, sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana cara mencari hutang yang paling efisien untuk membuat sebuah proyek.

Itu lah mengapa pendidikan literasi keuangan di Indonesia itu sangat penting, terlebih literasi keuangan itu juga tidak hanya mengenai konsep investasi saja, tapi juga mengenai dasar-dasar sumber pendanaan, termasuk hutang.

Namun, sebagai catatan penting. Meski hutang sudah dipandang sebagai alat -leverage-, pun kita harus tetap mengelola ini dengan hati-hati. Saya, sebagai investor, pun juga selalu memberi nilai tambah kepada perusahaan dengan hutang yang sedikit atau masih dalam batas wajar sesuai nature bisnisnya. Perusahaan yang mampu mengelola hutang dengan baik akan jauh lebih mudah bertahan di kondisi sulit seperti sekarang ini. Itu lah kenapa saya selalu mengatakan valid kepada alasan-alasan yang menganggap bahwa hutang itu buruk. Karena pada dasarnya tulisan ini tidak mengglorifikasi tentang hutang, melainkan, hanya menjelaskan sudut pandang yang sebenarnya harus dipahami bahwa hutang adalah sebagai alat yang tidak memiliki sifat.

Bottom line, hutang itu bisa menjadi bagus jika digunakan untuk mengakumulasi aset terlebih jika kita mampu mengelolanya dengan baik. Namun, hutang juga bisa menjadi buruk jika kita tidak tau bagaimana cara kerjanya. Para pengusaha yang memiliki cerita buruk dengan hutang pun saya yakin bukan sepenuhnya karena aktivitas hutangnya itu yang salah, tapi lebih kepada kegagalan dalam mengkalkulasi proyeksi pendapatan dan biaya dimasa mendatang. Business Feasibility Study tadi contohnya.

Yah, pada akhirnya mungkin hutang itu hanya untuk orang kelas menengah atas saja yang paham bagaimana cara kerjanya dan cara mengelolanya, terlebih berani mengeksekusinya. Atau, memang hanya kita saja yang malas belajar sambil berteriak “Kapitalisme membuat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin”?

Sebuah catatan untuk diri saya sendiri, jika kita tidak tau tentang sesuatu, maka lebih bijaknya pelajari lah terlebih dahulu sebelum menyimpulkan baik-buruknya dan perlu tidaknya menerapkan hal tersebut pada kehidupan kita sendiri.


Terakhir, saya ingin menyampaikan kabar buruk mengenai hutang negara bagi kalian yang selalu suka dengan berita ini, bahwa Indonesia akan selalu menambah hutang setiap tahunnya. Karena, pada saat kondisi ekonomi sedang buruk, tentu negara butuh anggaran lebih banyak untuk memberi perlindungan sosial bagi rakyatnya dalam bentuk stimulus dan kebijakan lainnya. Jika kondisi ekonomi sedang baik, tentu Indonesia masih akan menambah hutangnya dengan tujuan restrukturisasi guna mendapatkan rate bunga yang lebih baik.

Jadi, bagi yang selalu menganggap pemerintah itu tidak becus dalam mengurusi ekonomi negara hanya karena hutang Indonesia bertambah, saya tunggu sampai Indonesia mendapatkan presiden sesuai yang kalian pilih supaya saya dapat gantian bertanya: Jadi?

Oh, iya. Jangan kaget setelah pandemi corona ini rasio hutang Indonesia juga akan jauh bertambah. Bisa juga sih tidak bertambah banyak, tapi dengan catatan pemerintah tidak mengeluarkan stimulus perlindungan sosial bagi rakyat. Jadi silakan pilih, mau mengkritik hutang yang bertambah atau keabaian pemerintah menangani rakyat miskin akibat pandemi. Tenang saja, kritikus akan selalu ada pilihan kok. Hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *