Berita Hoax dan Cognitive Bias

Bersamaan dengan deklarasi pemilu damai yang diadakan di Tugu Proklamasi hari Minggu lalu (23/9), maka rangkaian acara pesta demokrasi terbesar di Indonesia telah resmi dibuka yang juga ditandai dengan mulai berlakunya jadwal kampanye bagi masing-masing pasangan Capres-Cawapres. Para elit partai mulai menyusun strategi, masyarakat pun siap bereaksi. Berita politik siap membanjiri setiap media yang tersedia.

Selain visi-misi setiap pasangan Capres-Cawapres, banyaknya model pemberitaan mengenai pemilu ini layak untuk dibahas. Mengingat informasi dan berita mengenai pemilu saat ini justru jauh lebih mudah menyebar melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga grup Whatsapp. Media sosial yang di era sekarang ini pun sifatnya bukan hanya untuk menyebarkan berita namun juga difungsikan sebagai alat politik guna menggiring opini (dalam konteks positif maupun negatif) netizen. Menanggapi hal ini, beberapa waktu lalu pun salah satu stasiun televisi mulai membahas, apakah kita bisa menjalani periode pemilu dari masa kampanye hingga hari pencoblosan tanpa informasi-informasi hoax yang cenderung mengintimidasi? Well…,

Membaca Perekonomian Indonesia dari Komponen Penyusun PDB

Bulan Februari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2017 dengan pencapaian 5.07%, naik tipis dari tahun lalu yaitu 5.02%. Meski begitu angka tersebut masih dibawah target pemerintah yang dituangkan dalam asumsi dasar ekonomi makro pada anggaran dasar APBN 2017 sebesar 5.10%, bahkan beberapa institusi international seperti ADB dan IMF pun punya prediksi yang lebih tinggi yaitu 5.20%. Jadi, secara pribadi tentunya saya kurang puas dengan pencapaian tersebut.

PDB sendiri sampai saat ini masih menjadi indikator utama untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika dilihat dari beberapa tahun terakhir memang pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu dibawah ekspektasi. Berbagai macam spekulasi

Memahami Pergerakan Ekonomi Untuk Pemula

Bagi kebanyakan orang awam biasanya akan begitu bergantung dengan media untuk sekedar mengetahui kondisi ekonomi saat ini atau isu-isu perkembangan pembangunan ekonomi di Indonesia. Sehingga apa yang dilihat, itu lah yang dianggap benar.

Meskipun yang disampaikan media pun bukan sebuah kebohongan, tapi akan selalu ada beberapa poin khusus untuk ditekankan sebagai penggiring opini. Seperti saat ini dimana utang pemerintah Indonesia yang terus meningkat santer diberitakan, sehingga mereka yang membaca akan menganggap itu sebagai sebuah fakta membahayakan bagi negara padahal jika dilihat lebih dalam ada poin penting lainnya yang luput dari pemberitaan, yaitu kekayaan yang dimiliki negara dan perbandingan hutang negara dengan negara lain.

PWON: Menjaga Keseimbangan Sumber Pendapatan

preview-pt_pakuwon_jati_tbkKetika salah satu sektor inti pendorong perekonomian seperti properti mulai menunjukan kelesuannya sejak tahun lalu, ada satu perusahaan yang menurut saya masih mampu menjaga performa bisnisnya yaitu PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Pada laporan Q1 2016, PWON mencatatkan penjualan sebesar Rp 1.24 triliyun atau naik 6.9% dari periode yang sama pada tahun 2015. Kenaikan tersebut juga dibarengi oleh tingginya kenaikan laba bersih yaitu tumbuh 65.3% menjadi Rp 543.22 miliyar.

Meskipun masih ada juga beberapa emiten lain yang mencatatkan kenaikan pendapatan, namun PWON dinilai masih unggul dalam menjaga stabilitas pertumbuhannya. Tercatat sejak tahun 2010, PWON mampu menjaga pertumbuhan penjualan diatas 10% termasuk pada saat industri properti sedang kurang bergairah.

Ironisme UK Referendum

Setelah setahun terakhir menjadi bahan pembicaraan hangat para ekonomis, akhirnya pada tanggal 23 Juni kemarin, UK dinyatakan resmi memilih berpisah dengan European Union. Keputusan ini langsung direspon pasar dengan anjloknya mata uang poundsterling serta beberapa bursa dunia yang juga memerah.

Banyak yang menganggap bahwa lepasnya UK dari European Union justru akan berdampak buruk bagi Negara Persemakmuran Inggris itu sendiri, sehingga beberapa ekonomis menganggap bahwa kemungkinan untuk remain dalam EU jauh lebih besar ketimbang exit. Yet, the result of referendum proved that they were wrong.