Investing Basic

Menyikapi Hasil Valuasi Saham

Pada tulisan sebelumnya saya berbagi mengenai brief result of my valuation spreadsheet yang mengabil PT ACE Hardware sebagai contohnya. Sebenarnya ada banyak data yang mau saya share juga sekaligus, namun saat itu saya hanya fokus pada fair value saham tersebut.

Berdasarkan hitungan yang saya buat dengan data terakhir tanggal 13 April 2016, ACES mempunyai fair value sebesar Rp 724 per saham atau sedikit overvalued dibandingkan dengan harga pasar pada saat itu.

Mudah untuk menyimpulkan bahwa harga ACES sudah cukup mahal untuk dibeli. Meski begitu, apakah semua keputusan investasi hanya berdasarkan penghitungan fair value?

Misconception Antara Investor dan Trader

Ada satu tulisan yang nggak sengaja saya temukan di timeline Twitter dan itu bisa membuat saya benar-benar pissed off. Tulisan ini membahas tentang beberapa tipe trader saham, dipublish oleh salah satu forum perkumpulan trader saham di Indonesia yang cukup terkenal. Sayangnya, sebagian besar dari isi tulisannya sangat tidak bisa digunakan untuk pembelajaran bagi para awam yang baru mengenal saham. Ini bahaya. Bisa menyesatkan.

Pada tulisan tersebut menjelaskan tentang tipe trader yang dibagi berdasarkan timeframe dalam transaksi. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Mulai dari scalper, day trader, swing trader, position trader. Dari keempat tipe trader tersebut dibedakan oleh seberapa lama mereka melakukan jual beli saham, mulai dari scalper yang rentangnya hanya dalam hitungan jam hingga position trader yang memanfaatkan trend harga (bullish atau bearish).

Tidak sampai disitu saja, penulisnya melengkapi beberapa macam trader pada tulisan tersebut dengan rentang yang lebih lama lagi dan dia menyebutnya sebagai investor. Iya, investor. Jadi menurut penulis, investor adalah trader dengan jangka waktu paling lama. Seriously?

How to Read an Annual Report

Percayalah, tulisanku kali ini nggak akan menjawab pertanyaan pada judul. Jadi jangan berharap banyak. How to read an annual report? Lah aku kan sebenernya nanya beneran, bukannya mau ngasih tau hehehe. Soalnya ini ilmu dasar bagi semua yang pengen jadi investor, entah investor di pasar modal atau investor riil sekalipun. Ilmu yang sebenarnya simpel tapi bisa jadi teramat kompleks tergantung industri dan perkembangan bisnis jaman sekarang. Jadi, bukan aku yang bakal jelasin.

Aku ngerasa masih harus membahas tentang annual report ini karena pada tulisan sebelumnya yang sok-sokan pengen jadi investment analyst menyebutkan bahwa kita sebagai investor ditantang untuk bisa membuat angka-angka yang terdapat pada financial statement, bagian penting dari annual report, berbicara. Ya, kita harus bisa membuat setiap data yang terdapat pada laporan tahunan tersebut menceritakan semua kondisi bisnis pada perusahaan pada periode tersebut.

Beruntung lah aku menemukan seseorang bernama Jane Bryant Quinn, seorang financial journalist yang sering membahas dunia keuangan entah itu marko ekonomi, mikro ekonomi, hingga personal finance. Kebetulan Ibu Jane ini pernah menulis artikel yang berjudul “How to Read Annual Report” pada tahun 1980 lalu dan cukup viral saat itu.

Pura-Pura Menjadi Investment Analyst

Setelah beberapa bulan lalu aku nulis sedikit ulasan tentang PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, sejak saat itu juga lah aku merasa nggak lebih pinter dari anak TK yang mau nukerin selembar uang Rp 5,000 dengan recehan Rp 500 dengan alasan uang koin Rp 500 nggak bisa sobek. Pokonya ngerasa polos dan too fast to make conclusions. Ya gitu deh.

Meski begitu, dengan menjunjung semangat ala trader pemula yang nggak pernah kapok ngikutin kemana arah bandar saham, aku mencoba kembali ke pokok permasalahan awal. Apa sih? Pertanyaan yang mendasar sekali. Apa sih yang perlu diperhatikan ketika kita mau menganalisa sebuah perusahaan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita berpura-pura menjadi seorang investment analyst.