Papan Akselerasi, Upaya BEI Membantu UMKM Melantai di Bursa

Hari Rabu, 8 Januari 2019 menjadi salah satu hari bersejarah di BEI dimana perusahaan pertama akhirnya melantai di bursa melalui Papan Akselerasi. Adalah PT Tourindo Guide Indonesia Tbk, bergerak dalam bisnis penyedia layanan pariwisata, yang mencatatkan sahamnya dengan kode PGJO. Emiten ini melepas 48.98% kepemilikannya atau setara 150 juta lembar saham pada masyarakat dengan harga 80 rupiah per lembarnya.

Pencatatan saham ini menjadi menarik karena jika kita melihat perusahaan yang memiliki website dengan nama brand Pigijo masih tergolong sebagai perusahaan rintisan. Dengan kata lain, Pigijo adalah perusahaan kecil yang baru memulai operasinya. Tercatat pada rangkuman laporan laba rugi mereka, Pigijo baru membukukan penjualan sebesar Rp 36 juta selama enam bulan pertama di tahun 2019. Kecil kan? Kecil banget. Mungkin mbak-mbak pedagang skin care di Shopee pun bisa mendapatkan omzet yang setara.

Continue reading “Papan Akselerasi, Upaya BEI Membantu UMKM Melantai di Bursa”

Alasan Kenapa Saya Tidak Tertarik Dengan Reksadana Saham

Akhir-akhir ini saya sering ditanya tentang beberapa hal mengenai reksadana oleh teman kantor saya, mulai dari caranya hingga reksadana mana yang paling menguntungkan. Bukan tanpa sebab, soalnya dia baru saja diberi tawaran beberapa macam jenis reksadana oleh salah satu asset management yang lokasinya tidak jauh dari kantor. Cukup lengkap memang, semua jenis reksadana (saham, fixed income, campuran, syariah) tersedia. Saya pun akhirnya juga ikut cek semua fund fact sheet yang ditawarkan itu.

Meskipun pada akhirnya hal itu semakin memperkuat pandangan saya tentang reksadana, khususnya reksadana saham. Harus diakui bahwa sampai saat ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat reksadana saham itu terlihat menarik sebagai salah satu pilihan investasi untuk saya pribadi. Disclosure yang tidak terlalu ter-disclose, begitu lah yang saya rasakan.

Ketika saya mendatangi booth salah satu asset management di acara Invest Day yang diadakan Bareksa pada akhir tahun lalu, saya melihat salah satu fund fact sheet reksadana saham dan menanyakan pada petugasnya, “Mas, kenapa saham yang ditampilkan disini hanya yang mayoritas aja? Sisanya ada saham apa aja?”. Continue reading “Alasan Kenapa Saya Tidak Tertarik Dengan Reksadana Saham”

Belajar Melihat Resiko Dari Film The Big Short

movieposterSatu lagi film baru tentang dunia keuangan rilis pada akhir tahun 2015 lalu yaitu The Big Short, meski baru tayang di Indonesia sekitar akhir Januari 2016. Film ini melengkapi jejeran film yang menceritakan tentang krisis subprime mortgage tahun 2008 di US, menyusul Too Big Too Fail dan Inside Job.

Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Too Big Too Fail menceritakan tentang jatuhnya bank-bank besar di Amerika, sedangkan Inside Job mengambil sudut pandang lebih luas dari sisi pakar ekonomi hingga akademisi yang dikemas dalam bentuk film dokumenter, The Big Short lebih fokus kepada cerita bagaimana hedge fund manager menemukan sumber krisis hingga bertaruh dengan keadaan yang akan terjadi demi tetap mendapatkan gain dalam situasi tersebut. Continue reading “Belajar Melihat Resiko Dari Film The Big Short”