Investment Stories

Alasan Kenapa Saya Tidak Tertarik Dengan Reksadana Saham

Akhir-akhir ini saya sering ditanya tentang beberapa hal mengenai reksadana oleh teman kantor saya, mulai dari caranya hingga reksadana mana yang paling menguntungkan. Bukan tanpa sebab, soalnya dia baru saja diberi tawaran beberapa macam jenis reksadana oleh salah satu asset management yang lokasinya tidak jauh dari kantor. Cukup lengkap memang, semua jenis reksadana (saham, fixed income, campuran, syariah) tersedia. Saya pun akhirnya juga ikut cek semua fund fact sheet yang ditawarkan itu.

Meskipun pada akhirnya hal itu semakin memperkuat pandangan saya tentang reksadana, khususnya reksadana saham. Harus diakui bahwa sampai saat ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat reksadana saham itu terlihat menarik sebagai salah satu pilihan investasi untuk saya pribadi. Disclosure yang tidak terlalu ter-disclose, begitu lah yang saya rasakan.

Ketika saya mendatangi booth salah satu asset management di acara Invest Day yang diadakan Bareksa pada akhir tahun lalu, saya melihat salah satu fund fact sheet reksadana saham dan menanyakan pada petugasnya, “Mas, kenapa saham yang ditampilkan disini hanya yang mayoritas aja? Sisanya ada saham apa aja?”.

Belajar Melihat Resiko Dari Film The Big Short

movieposterSatu lagi film baru tentang dunia keuangan rilis pada akhir tahun 2015 lalu yaitu The Big Short, meski baru tayang di Indonesia sekitar akhir Januari 2016. Film ini melengkapi jejeran film yang menceritakan tentang krisis subprime mortgage tahun 2008 di US, menyusul Too Big Too Fail dan Inside Job.

Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Too Big Too Fail menceritakan tentang jatuhnya bank-bank besar di Amerika, sedangkan Inside Job mengambil sudut pandang lebih luas dari sisi pakar ekonomi hingga akademisi yang dikemas dalam bentuk film dokumenter, The Big Short lebih fokus kepada cerita bagaimana hedge fund manager menemukan sumber krisis hingga bertaruh dengan keadaan yang akan terjadi demi tetap mendapatkan gain dalam situasi tersebut.

Konspirasi Wahyudi itu Bernama Analisa Teknikal

Pagi-pagi sekitar jam 7.30 setelah selesai sarapan aku biasanya lanjut duduk di teras rumah menikmati kopi yang udah disediakan istri sambil sesekali membagi fokus kepada koran langganan bulanan dan Twitter untuk sekedar update berita kondisi bursa saham lokal dan dunia khususnya stock pick pada hari itu.

Ya, seperti itu pagi yang selalu aku dambakan, meski saat ini masih jauh dari kondisi seperti itu. Memang begitu lah seharusnya kehidupan sebagai full time investor yang, kata motivator, udah mencapai kebebasan finansial dengan passive income yang mereka dapatkan.

Meskipun sebenarnya seorang investor sungguhan akan cenderung mengabaikan stock pick yang muncul dengan liarnya di Twitter dan juga grup chatting, atau lebih tepatnya, tersenyum sinis terhadap rekomendasi-rekomendasi harian tersebut.

Rekomendasi saham harian, berarti jelas bahwa itu adalah