Investor Behavior

Berita Hoax dan Cognitive Bias

Bersamaan dengan deklarasi pemilu damai yang diadakan di Tugu Proklamasi hari Minggu lalu (23/9), maka rangkaian acara pesta demokrasi terbesar di Indonesia telah resmi dibuka yang juga ditandai dengan mulai berlakunya jadwal kampanye bagi masing-masing pasangan Capres-Cawapres. Para elit partai mulai menyusun strategi, masyarakat pun siap bereaksi. Berita politik siap membanjiri setiap media yang tersedia.

Selain visi-misi setiap pasangan Capres-Cawapres, banyaknya model pemberitaan mengenai pemilu ini layak untuk dibahas. Mengingat informasi dan berita mengenai pemilu saat ini justru jauh lebih mudah menyebar melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga grup Whatsapp. Media sosial yang di era sekarang ini pun sifatnya bukan hanya untuk menyebarkan berita namun juga difungsikan sebagai alat politik guna menggiring opini (dalam konteks positif maupun negatif) netizen. Menanggapi hal ini, beberapa waktu lalu pun salah satu stasiun televisi mulai membahas, apakah kita bisa menjalani periode pemilu dari masa kampanye hingga hari pencoblosan tanpa informasi-informasi hoax yang cenderung mengintimidasi? Well…,

Misconception Antara Investor dan Trader

Ada satu tulisan yang nggak sengaja saya temukan di timeline Twitter dan itu bisa membuat saya benar-benar pissed off. Tulisan ini membahas tentang beberapa tipe trader saham, dipublish oleh salah satu forum perkumpulan trader saham di Indonesia yang cukup terkenal. Sayangnya, sebagian besar dari isi tulisannya sangat tidak bisa digunakan untuk pembelajaran bagi para awam yang baru mengenal saham. Ini bahaya. Bisa menyesatkan.

Pada tulisan tersebut menjelaskan tentang tipe trader yang dibagi berdasarkan timeframe dalam transaksi. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Mulai dari scalper, day trader, swing trader, position trader. Dari keempat tipe trader tersebut dibedakan oleh seberapa lama mereka melakukan jual beli saham, mulai dari scalper yang rentangnya hanya dalam hitungan jam hingga position trader yang memanfaatkan trend harga (bullish atau bearish).

Tidak sampai disitu saja, penulisnya melengkapi beberapa macam trader pada tulisan tersebut dengan rentang yang lebih lama lagi dan dia menyebutnya sebagai investor. Iya, investor. Jadi menurut penulis, investor adalah trader dengan jangka waktu paling lama. Seriously?

Rasionalitas Investor: Benarkah Lebih Takut Mendapat Keuntungan?

Saya masih ingat ketika dulu ikut The 12th ICMSS, salah satu event terbesar tentang pasar modal untuk mahasiswa, yang diadakan oleh Universitas Indonesia, ada satu topik seminar yang berjudul “Being Rational Investor in Facing the Expanding Market” yang dibawakan (kalau nggak salah) oleh President Direrctor dari AXA Asset Management. Meskipun sebenarnya udah banyak materi yang terlupakan, namun masih ada satu hal yang cukup terpaku dalam ingatan; yaitu bagaimana cara menilai rasionalitas investor dalam mengambil keputusan investasi.

Pada saat itu, pembicara melempar dua pertanyaan simpel kepada audience yang ternyata digunakan untuk menyimpulkan seberapa rasional kah audience disitu ketika menjadi investor. Hasilnya, kebanyakan nggak rasional dalam mengambil keputusan. Bagaimana bisa?

Nah, dalam beberapa hari terakhir ini saya mencoba menduplikat simple testing tersebut dalam sebuah survey iseng-iseng berhadiah. Itung-itung juga sebagai bukti bahwa saya masih belum puas dengan pekerjaan utama saya saat ini hehehe.