I See What You Did There, International Program FE UII!

Semalem aku baca kultwitnya Handry Satriago (CEO General Electric Indonesia) tentang Indonesia dan Global Talent yang isinya membahas Global Competitiveness Index berkaitan dengan daya saing SDM Indonesia untuk menghadapi persaingan global khusunya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), ringkasannya bisa dibaca via chirpstory disini atau langsung dari webnya beliau disini.

Sedikit banyak, bahasan didalamnya mengingatkanku pada almamaterku sendiri: International Program FE UII. Bagaimana mereka berusaha berbeda dengan fakultas yang lain melalui program-program yang dibentuk guna mencetak lulusan yang nggak hanya dipersiapkan untuk menjadi karyawan atau pengusaha kelas cetek.

Pada kultwit pak Handry Satriago tersebut sebagian menjelaskan bahwa dengan banyaknya sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia belum tentu akan mudah bersaing dengan negara tetangga, simply because competitiveness index measure its quality not quantity.

Nah, karena sebab itu lah aku mulai mau ngomongin tentang International Program Faculty of Economic. Terutama dari yang aku bilang tadi: IPFE UII tidak hanya mencetak lulusan berpola pikir karyawan dan wirausahawan, lebih pentingnya mereka mencetak lulusan berkarakter yang mempunyai quality. Pemimpin yang berkualitas.

Bahkan kalau boleh jujur, apa yang aku rasakan selama kuliah disini berasa banget jika karakter itu yang paling penting untuk ditanamkan. Lebih penting daripada proses belajar-mengajar mata kuliahnya sekalipun, terbukti masih ada beberapa dosen dari IPFE UII yang menurutku masih sangat dibawah standar untuk level International Program. Yah tapi setidaknya program-program untuk membentuk karakter tersebut paid off lah ya dibanding sama kekurangannya yang satu itu tadi. Iya, anggap aja begitu.

Beberapa progam (diluar kelas kuliah) khususnya tentang leadership training menjadi andalan utama IPFE UII untuk membentuk karakter tersebut. Setiap mahasiswa IPFE UII diwajibkan untuk mengikuti kegiatan itu mulai dari yang sifatnya hanya teori dan motivasi seperti Islamic Leadership Training dengan tiga level yaitu basic, intermediete, advance. Juga yang berbentuk field training yaitu Outbound Management Training 1 dan 2, dari yang isinya hanya sekedar games sampai ke level survival ditengah hutan.

Meskipun pada angkatanku banyak yang mempertanyakan sistem dari program tersebut, termasuk aku, karena memang faktanya pada saat itu beberapa kegiatan ada yang kesannya mendadak dan belum matang (Pelatihan sebagai Dapur Umum) juga yang dianggap nggak terlalu berdampak besar dibanding dengan usahanya (Outbound Management Training 2), tapi secara garis besar dengan adanya beberapa training tersebut mampu membuat kita menjadi “berbeda” dengan mahasiswa fakultas lain.

Well, entah hanya aku atau semua temenku juga merasakan tapi dari banyaknya training khususnya untuk Islamic Leadership Training bisa menjadikanku lebih fokus dalam hal goal setting atau kurang lebih tentang apa yang sebenarnya aku inginkan untuk masa depan. Disini karakter yang paling dibentuk menurutku adalah idealisme kepada pola pikir masing-masing. Melalui contoh-contoh dari beberapa mentor, kita dituntut untuk menumbuhkan mind set yang benar-benar dari dalam diri kita sendiri, bukan bentukan orang lain.

Untuk field training sendiri seperti Outbound Management Training yang dilakukan di hutan, nilai-nilai yang diajarkan fokus kepada bagaimana cara kita berfikir dalam menghadapi situasi yang serba terbatas. Tuntutan untuk kreatif menggunakan bahan seadanya untuk bertahan hidup seperti makan dan tidur cukup dituntut dalam program ini. Selain itu, teamwork juga dilatih melalui beberapa grup yang dibentuk guna berjalan bersama menyusuri hutan yang menurutku cukup berbahaya untuk kalangan awam. Aku paham maksudnya, mungkin kita diajarkan untuk membiasakan diri saling memperhatikan sekitar baik itu manusia dan lingkungan. Well done, then.

Aku jadi inget tagline Generasi UII “Harmonizing Heart, Head, & Hand”, menurutku jika dilihat dari beberapa leadership training yang diberikan oleh IPFE UII maka akan sangat masuk akal jika aku bilang International Program itu lah yang paling mewakili Generasi UII tersebut. Heart: Peka terhadap lingkungan. Head: Idealis dan kritis dalam berfikir. Hand: Saling menggenggam dalam teamwork. Just like what we have learnt at leadership training held by IPFE UII

Ada satu lagi yang nggak boleh dilupakan, yaitu mata kuliah Bridging Program. Mata kuliah wajib pada setahun pertama kuliah di IPFE UII, dengan jadwal full Senin sampai Kamis, masing-masing 2 sks selama dua semester dengan dosen yang hampir nggak pernah kosong. Bridging Program ini menurutku justru yang paling penting dalam pembentukan karakter mahasiswa IPFE UII, ibarat pohon maka Bridging Program adalah akarnya.

Mungkin tujuannya adalah untuk “menjembatani” kultur pembelajaran yang sebelumnya kebanyakan mahasiswa menggunakan Bahasa Indonesia dan beralih pada full English selama kuliah di IPFE, tapi disitu aku juga merasa bahwa kita sekaligus diajarkan untuk berfikir terbuka secara global. Jadi nggak hanya seputar local issues yang ada di Indonesia, tapi lebih ke global environment. Ini yang paling penting, dengan hal ini seharusnya mahasiswa IPFE udah paham dan memiliki bekal dengan adanya persaingan global yang dikata kebanyakan orang sebagai ancaman.

Kembali lagi, entah hanya aku yang merasakan atau semua teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Namun jika aku melihat beberapa mahasiswa dari fakultas lain khususnya pada saat KKN, memang jelas terlihat perbedaan karakternya. How if I say that we are actually one step forward in front of them? Belum tentu, tergantung masing-masing juga but at least we knew what kind of person we want to be.

Meskipun pada awal tulisan ini tadi aku menyebut jika kelemahan IPFE UII adalah kurangnya dosen yang kompeten (khususnya konsentrasi Finance), namun positioning sebagai fakultas yang fokus pada pembentukan karakter sangat mampu menutupi lubang tersebut. Tentu saja ini bukan sarkasme. Jika kembali dikaitkan dengan competitiveness index, karakter hasil bentukan dari IPFE UII cukup memberikan nilai tambah sebagai bekal untuk persaingan MEA mendatang. I feel safe and confidence about it.

Itu lah yang membuatku dulu pernah bilang kalau aku percaya setiap temen-temenku khususnya International Program Management 2010 punya kelebihan untuk sukses pada setiap cita-cita yang mereka inginkan, entah itu sebagai pejuang karir kantoran atau membentuk startup company. I know who they are, I know their capability. We are made to be Global Talent.

So, Thanks for keluarga besar Fakultas International Program. You are really nurturing innovative global leader!

Mungkinkah Sarjana di Indonesia Sudah Mencapai Level Bubble?

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Prof Edy Suandi Hamid menandaskan saat ini terdapat 600 ribu pengangguran intelektual. Jika tidak ada perbaikan kuallitas tenaga kerja intelektal dikhawatirkan terjadi booming pengangguran terdidik, dikutip dari Republika Online bulan November 2014 lalu.

Sungguh ngeri banget dibacanya sebagai seorang yang baru lulus dan belum dapat kerjaan. Sebenarnya pengen nulis ini dari dulu tapi akhirnya baru kesampean sekarang setelah dapat kerjaan, alhamdulillah. Tetep aja sih rasanya agak megkhawatirkan, tapi seperti biasa let me bring you to the other point of view. Instead of talking about unemployment, let’s discuss about the root of it.

Sakjane yo podo wae sih heuheuheu.

Masalah pengangguran emang jadi masalah bagi setiap negara bahkan sampai negara maju sekalipun. Namun disini yang perlu digarisbawahi adalah seperti yang dibicarakan Bapak Edy Suandi Hamid tadi, meningkatnya jumlah pengangguran dari kalangan sarjana.

Jelas kalo pengangguran karena pendidikannya rendah itu masih bisa dimaklumi, tapi kalau banyaknya pengangguran dari kalangan yang berpendidikan kira-kira apa yang salah?

Hal pertama yang muncul dipikiran kita biasanya; Karena jumlah lapangan kerja tidak sebanding. Karena lebih banyak yang pengen nyari kerja daripada membuat lapangan kerja. Well, gitu-gitu aja alasannya. Ya emang bener sih, nggak salah sama sekali. Tapi apakah kamu pernah mencoba berfikir lebih dari itu?

Oke, sekarang saatnya memberikan sudut pandangku terhadap masalah naiknya pengangguran terdidik ini. Mencoba berbeda, beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang masalah tersebut adalah;

  1. Banyaknya adek-adek lulusan SMA terfokus pengen masuk jurusan itu-itu aja.
  2. Banyaknya adek-adek yang menghabiskan masa kuliah hanya untuk belajar mengejar cumlaude dan gelar aja tanpa mempertimbangkan skill yang lain.

Duh ya, adek-adek ini emang polos. Apakah seperti itu? Ya nggak sepenuhnya salah mereka juga sih.

Banyak lulusan SMA yang tujuan masuk kuliahnya itu kalo nggak bidang teknik, kesehatan, teknologi, akuntansi, ya matematika. Karena jurusan tersebut diyakini mampu memberikan pendapatan yang lebih tinggi daripada yang lain, ya memang benar sih kalo menurut tulisanku sebelumnya. Beberapa yang lain memilih jurusan yang diyakini masih sangat sedikit saingannya dalam perburuan mencari kerja nanti. Ada juga yang pokoknya harus masuk jurusan pendidikan biar kalo lulus terus jadi guru biar nantinya jadi PNS.

Terdengar semacam generalisasi memang, tapi aku tetep percaya kok pasti ada yang mau masuk kedokteran karena betul-betul ikhlas dan pengen jadi dokter, aku percaya nggak semua yang masuk jurusan teknik itu semata-mata memikirkan pendapatannya nanti, aku juga percaya nggak semua yang pengen jadi PNS itu cuma sekedar karena memikirkan tunjangannya aja.

Namun faktanya sebagian orang yang lulus SMA emang begitu kan? Beberapa forum memperlihatkan kebingungan mereka untuk menentukan jurusan kuliah apa yang cocok dengan cita-citanya. Lah, masalahnya lagi mereka itu punya cita-cita karena keinginannya sendiri atau cita-cita yang dibentuk karena orang lain? “Aku pengen kerja di oil & gas company karena banyak orang yang kerja disana duitnya banyak”. Padahal yang bilang gitu nggak tau apakah dirinya emang bener-bener berbakat untuk kerja diindustri perminyakan atau tidak, cuma tertarik orang lain aja. Come on!

Aku jadi inget gujoyonan masa SMA dulu, ada seorang temen cerita kalo temennya pengen masuk jurusan kehutanan karena berfikir bahwa Indonesia termasuk negara yang mempunyai sumber daya alam hayati cukup banyak. Dengan entengnya temenku menjawab, “Iyo bener sih, lha sesok nek koe lulus tapi hutan neng kene wes entek koe meh piye?”. “Iya bener sih, lha besok kalo kamu lulus tapi hutan disini udah habis kamu mau gimana?” Haha! Mungkin sekedar guyonan tapi jika dipikirkan mendalam, punya arti yang cukup serius lho.

Kebanyakan orang terlalu polos dengan keadaan sekitarnya sehingga menutupi apa yang sebenarnya cocok untuk dia sendiri. Banyak masyarakat kita yang dianggap sukses dan berhasil meningkatkan status sosialnya sebagai dokter, enjinir, sampai PNS. Akhirnya profesi-profesi semacam itu dijadikan acuan seseorang untuk mencapai kesuksesan juga. Ada temenku yang sebenarnya nggak mau masuk fakultas kedokteran tapi dipaksa oleh ayahnya untuk masuk kesitu. Mungkin banyak cerita seperti ini, seseorang mengambil jurusan tertentu karena orang tuanya. Simply because those are part of the prestige in nowadays society.

Tidak sampai disitu saja, bahkan setelah mereka kuliah pun nantinya juga akan muncul kebingunan lagi. Misalnya aku yang kuliah di Ekonomi dan Bisnis, karena ilmunya yang terlalu universal dan bisa masuk ke semua industri, banyak temen-temenku yang bingung pengen kerja di bank, consulting firm, fmcg, oil & gas, sampai cuma yang pengen jadi PNS aja. Lah, sebenarnya cita-citanya apa sih? Bahkan yang paling parah, ada yang pengen ngambil CFP (Certified Financial Planner) tapi nggak tau sertifikasi itu gunanya buat kerja dimana, aduuuuh! Intinya, masih banyak orang yang terlalu fokus pada tujuan tanpa tau apa sebenernya tujuan tersebut. Hanya karena gengsi itu tadi, gengsi yang terbentuk oleh status sosial orang lain.

Yes, exactly! Ini sebenernya masalah culture. Kebudayaan. Kebiasaan. Ketika status sosial masyarakat mengalahkan dan mematikan bakat sarja-sarjana kita. Pola pikir seperti ini yang membuat ketimpangan jumlah sarjana. Jadi, masalah yang paling utama itu bukan karena lapangan pekerjaan yang terlalu sedikit melainkan lebih ke terfokusnya sarjana pada cita-cita tertentu yang sifatnya homogen. Anak ekonomi pengen ke oil & gas company, anak matematika pengen ke oil & gas company, anak sastra pengen ke oil & gas company. Apa lah, padahal selain itu kan masih banyak yang benar-benar lowooong…

Profesi di pasar modal misalnya, masih sangat sedikit orang-orang yang berkarir di pasar modal. Bahkan beberapa perusahaan investasi mengaku merasa kesulitan mendapatkan calon-calon penerus pegawai mereka. Lah, kok bisa sampai seperti itu? Mungkin karena sarjana jaman sekarang taunya cuma PNS dan BUMN. Padahal mau masuk kesitu nggak bisa, akhirnya nganggur juga. Lol

Itu baru poin pertama, poin kedua aku kira nggak ada sesuatu yang mencolok tentang masalah tersebut. Biasanya karena alasan dari poin pertama, makanya banyak mahasiswa yang pengen kuliah untuk mendapatkan gelar aja, dan cumlaude. Dalam artian, mereka hanya fokus pada belajar di mata kuliahnya aja. Padahal ada yang lebih penting dari itu; pengalaman organisasi dan softskill. Trust me, jika kamu seorang sarjana bergelar sarjana teknik yang bangga punya IPK 3.75, masih banyak sarjana di Indonesia yang punya gelar sama denganmu dan lebih layak untuk masuk ke perusahaan yang kamu pengen meski dengan IPK yang lebih rendah.

Jadi, apakah bisa dikatakan bahwa sarjana di Indonesia ada di level bubble? Istilah ekonomi yang menggambarkan jika harga sesuatu jauh melambung tinggi tanpa diimbangi dengan nilai yang sebenarnya. Apakah jumlah sarjana kita sudah benar-benar jauh diatas tapi tidak mampu memenuhi skill yang dibutuhkan perusahaan? Ya dalam hal karir sebagai karyawan, mungkin bisa saja dikatakan seperti itu.

Misalnya dalam kasusku sebagai sarjana ekonomi, otomatis jika kita melamar pada perusahaan tertentu maka mereka akan berekspektasi bahwa setidaknya kita mampu menguasai beberapa teori yang dapat diterapkan pada strategi bisnis mereka sehingga minimal bisa mengatasi beberapa masalah atau lebih bagusnya membuat alur keuangan lebih efisien. Namun faktanya? Ditanya bank reconciliation aja nggak paham. Ditanya dasar-dasar risk management aja lupa. Haha! That’s just me though.

Itu contoh aja dari sarjana ekonomi, toh kalau misalnya lupa sama teori kuliah mau mengejar ketetinggalannya pun nggak terlalu susah. Lha gimana kalau jurusan exacta lainnya yang jadi primadona anak jaman sekarang, kalau udah jadi sarjana terus lupa sama apa yang diajarkan dikampus dulu apa ya nggak susah buat belajar lagi?

Ini yang aku maksud sebagai bubble sarjana. Dalam hal kuliah yang mencetak sarjana yang siap berkarir di dunia pekerjaan maka di Indonesia banyak sarjana yang lulus tapi kemampuannya masih jauh dari apa yang diharapkan perusahaan. Sehingga hanya sebagian kecil aja yang benar-benar menguasai dan tahu betul tentang latar belakang jurusan kuliahnya sehingga mampu memaksimalkan kemampuannya dan berhasil menemukan pekerjaan impiannya.

Kira-kira seperti itu lah, sebenarnya aku nulis ini sekarang bukan karena sok-sokan udah dapat kerja terus bicara pengangguran tapi lebih bertujuan pada mengingatkan ke semua yang seusiaku baik itu yang sarjana atau yang bukan sarjana bahwa jika kita pengen menjadi sesuatu itu setidaknya kita tau bahwa itu adalah sesuatu yang benar-benar kita inginkan bukan hanya karena dipengaruhi oleh keadaan sekitar sehingga kamu bisa memaksimalkan kemampuanmu sebenarnya.

Sampai sekarang pun aku nggak pernah menyesali keputusanku masuk jurusan ekonomi dan bisnis meski banyak orang bilang bahwa ilmu disini bisa dipelajari tanpa kuliah. Kenapa? Karena aku emang menginginkannya, tanpa mempedulikan orang lain yang mereka pikir mereka tau segalanya. Toh pada akhirnya dengan beberapa teori kuliah, bisa diterapkan dalam segala bentuk kehidupan dalam hal karir sampai ke percintaan sekalipun. Intinya, aku menikmatinya hingga sampai pada akhirnya aku semacam menemukan diriku kembali pada bidang investasi. Cool? Because I decide something base on what I really want.

Dulu pernah ngetwit kurang lebih seperti ini, “Seorang Bambang Pamungkas tidak akan sukses dan terkenal menjadi legenda sepak bola di Indonesia jika orang tuanya memaksa dia untuk jadi dokter”. I do really mean something here.

Nggak usah lah memaksakan diri untuk masuk ke perusahaan tertentu yang menurut banyak orang itu keren. Nggak usah lah memaksakan diri untuk menjadi sesuatu yang sebenarnya nggak cocok dan jauh dari bakat aslimu. Your future is yours to decide!

The Value of Honesty: It’s All About Trust

Dengan modal kepercayaan atas janji-janji yang telah terucap, aku melepas kepergian salah satu partner terbaikku (kebanyakan orang nyebutnya pacar) pergi memulai karirnya terlebih dahulu. Akhirnya kita berpisah secara fisik setelah selama empat tahun terakhir selalu bekerja bersama. Tentu saja, satu tingkat kedewasaan yang lebih tinggi dituntut demi partnership tetap terjaga.

Nothing special on that moment, maksudnya itu wajar ketika harus berpisah sementara demi urusan pekerjaan.

Ada satu cerita yang menurutku bisa diambil sebagai pelajaran untuk kehidupan secara general. Dua minggu berselang ketika udah diperbolehkan berkomunikasi dengan dunia luar, tiba-tiba dengan jujur dia bilang sama aku via chat, “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Mau minta maaf”. Jelas pikiran yang jelek muncul dipikiranku, karena aku sama sekali nggak tau kesehariannya ngapain aja selama kita berjauhan. Dia lalu melanjutkan, “Maaf ya foto beginian” sambil kemudian muncul foto dia sedang dirangkul oleh salah satu pelatih cowok tanpa ada jarak sama sekali diantara mereka.

Ya, cuma itu. Terdengar biasa aja dan mendramatisir, tapi karena aku sama sekali nggak menganggap kalau dia hanya cewek biasa (faktanya emang dia adalah partner paling spesial yang pernah aku temui), hal semacam itu akan terlihat aneh dan sedikit mengganggu buat kita khususnya aku sendiri . Kode etik dalam bergaul dengan orang lain sangat dijaga dalam lingkungan sebelumnya, makanya nggak heran kalo foto macam begitu cukup membuat khawatir.

Marah? Ya, tentu saja tapi kembali lagi ketika satu tingkat kedewasaan lebih tinggi itu dibutuhkan dalam menghadapi hubungan yang kita sama sekali nggak bisa jadi saksi mata atas apa yang dilakukan partner kita, harusnya perlu sesuatu yang lebih menenangkan dan solutif dari sekedar marah.

Aku mulai bertanya sama diri sendiri, kenapa dia berani bilang tentang foto itu kalau efeknya bisa bikin aku nggak tenang? Padahal bisa aja dia diem dan langsung melupakan seakan nggak ada apa-apa.

Well, kejujuran. Berdasarkan ceritanya aku tau dia jujur, semua juga setuju, tapi yang aku cari disini lebih dari itu. Ini lebih ke alasan kenapa sampai dia berani ngomong jujur padahal dari apa yang disampaikan itu bisa bikin kepercayaan kita memudar.

I figure it out. Disini pada akhirnya aku semakin yakin kalau ‘she is really the one’. Sadar atau tidak, secara tidak langsung dia mengajariku untuk naik level menuju kedewasaan yang diperlukan untuk saling menghargai jarak dan kesibukan. Dengan memberikan informasi apa aja yang terjadi selama aku jauh darinya, entah itu baik atau buruk, dia sebenarnya telah mempercayai aku lebih dulu. Dia percaya terhadap sikap apa yang akan aku ambil. Dia percaya bahwa sikapku nggak akan merugikan kita berdua. Bermodalkan kepercayaan yang diberikan itu, kabar seburuk apa pun akan selalu terus tersampaikan. Ya, karena dia percaya aku dewasa.

Thus I realize, kenapa aku harus marah dengan seseorang yang telah memberikan kepercayaan penuh sama aku? Kenapa aku nggak membalas kepercayaannya? Well right, I find it. Akhirnya aku menemukan sesuatu yang menenangkan dan ini lebih penting dari sekedar memikirkan ego masing-masing untuk saling menyalahkan. Justru aku harus berterimakasih atas kejujurannya, thanks to her to make me a bit more mature. Akhirnya aku tau kejujuran itu lebih layak dihargai balik dengan kepercayaan yang lebih daripada dengan hukuman.

Apa yang terjadi kalo aku marah dan menyalahkan dia? The worst scenario, dia nggak akan berani mengatakan kejujuran lagi karena takut aku marah dan hubungan jadi berantakan. Padahal seperti ini yang berbahaya, fakta yang disembunyikan atau dibohongkan itu nggak akan pernah menghasilkan kebaikan, kecuali ada privasi urusan pribadi. Come on, kita bukan agen badan intelijen.

If I’m allowed to quote mine, “We have to value someone honesty by giving them even more trust, no matter what”

Sounds like just another teenager story, though. Yet, I mean more than this.

Coba sekarang bayangkan, ada seorang anak kecil merusak taman bunga di depan rumahnya. Ketika ibu menemukan bahwa tamannya rusak dan bertanya siapa, anak itu dengan polosnya mengaku kalo dia lah yang merusaknya. Akhirnya, sang ibu marah dan menghukum anak tersebut dengan mencambuk tangannya sampai menangis.

Apa yang terjadi kemudian? Luka. Iya, akan sangat mungkin jika anak tersebut kemudian merasa kapok untuk berkata jujur lagi. Hanya karena hukuman yang berlebihan itu tadi akan membuat kejujuran sang anak sama sekali nggak dihargai dan merasa, ‘buat apa aku jujur kalau akhirnya malah tidak disukai?’

Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita bersikap terhadap seseorang yang jelas benar-benar salah tapi setidaknya dia mengatakan dan mengakui dengan jujur kesalahannya, seperti anak tadi. Kembali lagi, kedewasaan memerankan peran penting.

Berkaca dari ceritaku, seseorang yang jujur secara tidak langsung memberi kepercayaan pada kita dalam bersikap. Jadi, menurutku, cara terbaik membalas kepercayaan orang lain adalah dengan memberinya kepercayaan juga, dalam bentuk janji.

Kamu melakukan kesalahan? Aku nggak akan marah tapi berjanjilah kalau kamu tau dimana kesalahanmu, memperbaiki kesalahanmu, dan nggak mengulangi lagi. Aku rasa ini hukuman yang lebih pantas, karena kepercayaan orang lain itu amanah yang harus dipegang.

Dari sini lah aku mulai berfikir juga, bahwa awal dari sifat kebohongan adalah karena orang-orang kurang menghargai kejujuran itu sendiri. Aku percaya semua orang itu terlahir polos dan jujur. Hanya saja mereka lah yang menciptakan monster pembohong itu. Iya, kita semua. Kita yang nggak pernah tau caranya menghadapi orang jujur.

Berkata bohong demi kebaikan? No, Islam mengajarkan ‘katakan lah walau itu pahit’. Something that I’m trying hard to do.

IMG_20140915_141149Well then, all story told. Akhirnya aku sadar betapa banyak hal berharga yang tanpa sadar aku pelajari dari dia, seseorang yang aku temukan sejak empat tahun lalu. I don’t know that she was this important to me, she’s my precious diamond. Bahkan masalah yang dia bikin adalah anugerah tersendiri buat aku. Dia lah Anny Mukminati, perempuan pejuang. Wait me there, my little lady!