Generasi Menolak Tua

Bukan hanya menjadi tagline blog tapi ‘Generasi Menolak Tua’ juga akan menjadi semacam prinsip hidup bagi orang-orang seperti aku atau bahkan semua orang seumuranku. Yes, ini bukan hanya ditujukan kepada aku sendiri melainkan juga untuk kebanyakan anak muda yang tumbuh sebagai generasi penyebar informasi. I called us like that.

Dewasa itu pilihan, sedangkan tua itu pasti. Ada saatnya nanti wisdom seperti ini sifatnya akan menjadi sangat relatif. Ketika kondisi kebanyakan orang mulai mempunyai sifat dan pemikiran yang luas sehingga menciptakan pergaulan yang juga lebih kompleks.

Tua secara fisik emang nggak bisa dipungkiri lagi, tapi tua yang aku maksud pada ‘generasi menolak tua’ bukan menitik beratkan pada fisik, justru jauh lebih fokus ke cara berfikir. Lah, itu sama aja dengan kedewasaan kan? Beda, menurutku dewasa itu cara berfikir yang berkaitan dengan hati dan prinsip. Sedangkan tua yang aku maksud adalah cara berfikir yang itu-itu aja.

Pada dasarnya, ‘generasi menolak tua’ adalah anak-anak muda jaman sekarang yang tumbuh besar diiringi oleh banyaknya informasi atau lebih sering disebut BIG DATA.

Sebagai perbandingan, coba lihat orang tua kita sebagai contoh masjarakat tempo doeloe. Secara general, cara berfikir mereka masih mengikuti culture lama dengan pengetahuan yang masih lama juga. Disini bukan bicara masalah pintar atau bodoh, beda lagi, tapi condong ke the avaliability of information ketika mereka grew up. Orang tua kita, menerima update dari dunia luar melalui TV, atau radio, atau cuma dari omongan tetangga.

Hal itu menjadikan informasi yang mereka dapat semacam menjadi acuan utama dalam menentukan sesuatu misalnya seperti mengatakan krisis moneter tahun 1998 adalah murni salah pemerintah, karena media pada saat itu hanya menanyangkan kejelekan pemerintah aja. Terlepas dari benar tidaknya penyebab pada krisis tersebut, tapi disini pemikiran masyarakat mulai disatukan pada satu ide sehingga orang-orang pada saat itu menerima dengan gamblang kalo pemerintah lah yang harus bertanggung jawab.

Coba bandingkan dengan anak-anak muda jaman sekarang. Informasi yang mereka dapat jauh lebih banyak jika dibandingkan sama masjarakat tempo doeloe, bahkan kejadian dibelahan dunia lain langsung bisa diketahui pada layar gadget kita hanya dalam beberapa detik saja.

Terlebih, meskipun kebanyakan informasi yang tersedia jaman sekarang tetap memberitakan kejadian yang sama tetapi dengan banyaknya akses informasi bisa saja hal itu dishare melalui sudut pandang yang berbeda.

Terjadi kecelakaan antara angkutan A dan B, pada lokasi tersebut satu orang memberitakan bahwa A melaju kencang diatas rata-rata sedangkan orang lain mengatakan B dikemudikan sedikit keluar batas jalur, kecelakaan pun terjadi. Dengan adanya dua saksi yang mengatakan dari sudut pandang yang berbeda akan membuat penerima informasi mempunyai dua opsi juga untuk menyimpulkan angkutan mana yang salah. Meskipun kejadian tersebut nantinya akan diliput di media lokal seperti TV atau koran, tetapi isi berita yang dibentuk media tersebut tak lagi cukup bisa mengarahkan opini publik menuju gagasan yang mereka inginkan. Karena, satu orang dalam lokasi kejadian udah mempunyai kemampuan yang sama dalam menyebarkan berita.

Dalam satu sisi, banyaknya informasi bisa membahayakan karena membuat kebenaran akan menjadi relatif juga. Justru ini lah yang menjadi tantangan buat ‘generasi menolak tua’, banyaknya informasi yang didapat akan membuat kita semakin kritis dalam menentukan sesuatu. Itu lah yang nggak didapatkan oleh masjarakat tempo doeloe.

So, would you be a ‘generasi menolak tua’? Or is it just me, who are ready to share anything sebagai pelengkap opini netizen daripada cuma sharing keluhan-keluhan hidup.

Bagaimana jika banyaknya informasi yang tersedia itu diterapkan sebagai sumber pengetahuan? Nah, ini lah kekuatan dari generasi pemuda jaman sekarang. Big data harusnya menjadi key driver utama yang membuat anak muda jaman sekarang untuk menggali ilmu lebih dalam lagi.

Bahkan salah satu artikel yang dipublish di Elite Daily tentang bagaimana agar pikiran kita tetap terlihat muda adalah dengan banyak-banyak mempelajari sesuatu yang baru. Ini bukan hal yang sulit lagi dengan dukungan big data yang tersedia.

Social network jaman sekarang sifatnya bukan substitusi lagi seperti saat netizen beralih dari Friendster ke Facebook, tapi cenderunh komplementer seperti netizen yang sering menyampaikan pendapat mereka via Twitter juga suka membagi cerita mereka dalam bentuk foto via Instagram.

Bahkan, pengguna social network semacam itu bukan lagi hanya perorangan tapi juga media yang dulunya koran beralih menjadi e-newspaper dengan menggunakan social network tersebut. Kampus-kampus pun tak mau ketinggalan menyebar luaskan hasil riset atau jurnal mereka via social network. Jika dilihat dari usia netizen, bukan tidak mungkin anak SMP pun bisa mengakses hasil riset atau temuan penting organanisasi tertentu yang mungkin dia sendiri tidak paham maksudnya. Nggak papa, masalah paham itu terakhir karena yang paling penting adalah bagaimana menumbuhkan rasa penasaran dan ketertarikan mereka.

Ada saatnya nanti banyak orang mempelajari ilmu yang hampir nggak ada hubungannya dengan jurusan kuliah mereka. Ada saatnya nanti ketika mahasiswa ekonomi jauh lebih tertarik mempelajari astronomi. But hey, nanti? Bahkan sekarang pun udah banyak orang yang seperti itu. Kenapa? Big data membuat mereka lebih penasaran dengan sesuatu, and it absolutly not a bad thing.

So, would you be a ‘generasi menolak tua’? Or is it just me, who are ready to digg deeper the whole information yang tersedia secara cuma-cuma di internet.

We are frequently too much information. For the sake of kegaulan dan pergaulan, don’t leave it worthless. Stay young, stay learning!




Blog Reborn: The Beginning of New Journey

Boom! Akhirnya aku balik lagi menghangatkan dunia blogging di Indonesia. Seletah sejak enam tahun yang lalu sempat beberapa kali ganti-ganti alamat blog, dari yang nggak jelas sampe yang paling nggak jelas, Insya Allah untuk kali ini bisa istiqomah dengan blog dengan alamat RizanFauzi[dot]com, juga sebagai salah satu resolusi untuk tahun 2015; jadi blogger aktif.

Sebenernya udah punya Tumblr sih dari dulu, tapi aku nggak pernah menganggap itu sebagai blog. Lagian itu isinya cuma singkat-singkat, cukup private juga. Banyak opini pribadi atau lebih tepatnya cuhat yang aku tulis disitu. Meskipun most of my tought was already shared on there (and Twitter) tapi rasanya tetep kurang greget kalo nggak punya blog dengan domain sendiri.

Udah lama juga aku memikirkan mau gimana konsep blogku nanti, bahkan sempat kepikiran pengen nulis yang agak serius tentang dunia financial literacy menggandeng temen-temen kuliahku. Rencananya mencoba membuat wadah sebagai tempat temen-temenku yang juga anak finance menyampaikan pemikiran mereka tentang dunia keuangan dari segi perkembangannya atau bahkan karir. Intinya mencoba membuat mereka eksis lewat opininya sendiri. Tapi aku pikir nggak semuanya concern tentang financial literacy, walaupun anak finance sekalipun. Mereka punya karir yang luas nggak cuma di industri finance juga tentunya. Terlebih, yang paling membuatku nggak jadi membuat blog dalam konsep seperti ini, nggak semua dari mereka punya waktu untuk menulis. Yaudah, bye. Nggak bisa memaksa juga.

Padahal kalo aku emang bener mau buat blog kayak gitu bakal tak kasih nama FauziCo[dot]com. Fauzi&Co, atau Fauzi and Company. Cukup ambisius hahaha.

Sempat juga kepikiran buat blog yang isinya fokus di analisa saham. Ini konsep pertama yang aku pikirin sebenernya, tiap minggu membahas salah satu emiten di bursa membahas bisnis juga prospeknya, semacam itu lah. Dilengkapi juga update wealth portfolio via stock picking yang aku susun. Sayangnya, pernah nyobain analisa PT Tempo Scan Pacific (TSPC) dan itu butuh waktu dan energi yang cukup banyak ternyata. Sangat kesulitan untuk mengerjakan sendiri.

Kalo konsep diatas bakal tak kasih nama Elfauzi[dot]com, sampe sekarang masih belum tau sih maksudnya nama itu apaan. Keren aja kayaknya haha.

Apa lah daya, banyaknya pertimbangan membuat semuanya makin suram. Akhirnya domain yang dibeli pake namaku sendiri, RizanFauzi[dot]com, sekalian aja itung-itung personal branding alias …ehm… pencitraan (Yakali!).

Yaudah sih nyantai aja mendingan ngeblognya, tapi ini bukan berarti aku akan mengeliminasi dua konsep blog seperti diatas. Ada waktunya nanti aku bakal nulis serius tentang analisa saham atau semuanya yang berkaitan tentang financial industry, atau mengomentari pernyataan seseorang, atau bahkan nyinyir sekalian. Terserah, yang penting ngeblog kali ini maunya bebas. Asal punya blog yang bisa frequently update udah seneng. Masa IT Guys nggak punya rumah online kan malu-maluin. Lol!

PS: Akhirnya aku sadar juga, bertahun-tahun nggak ngeblog, ternyata kualitas tulisanku emang nggak pernah ter-upgrade. Sama datarnya dari dulu, emotionless. Anggap aja buat perbaikan diri sama disclaimer buat pembaca yang terlalu berekspektasi lebih sama blogku. Lol.