First Step In Fundamental Analysis

kol-first-step-analysisWeekend lalu saya diajak teman ke Gramedia di Grand Indonesia yang tujuan sebenarnya hanya untuk membeli merchandise. Tak mau membuang waktu saya berkeliling di bagian rak buku investasi dan keuangan, seperti ritual biasanya saat mengunjungi gramedia, akhirnya saya menemukan buku ini. First Step In Fundamental Analysis, Memahami Investasi Saham Melalui Laporan Keuangan.

Bukan pertama kali saya mendengar tentang buku ini, karena sebelumnya Pak Parahita melalui forumnya mengatakan bahwa ini buku unik yang layak dibaca sebelum menganalisa saham lebih jauh lagi. Well, akhirnya saya putuskan untuk membelinya. Meskipun sedikit diketawain sama temen karena mungkin dari judulnya terkesan untuk yang masih newbie. Lah, emang saya bukan newbie apa? Hehehe.

Jika kamu berfikir bahwa buku ini sama dengan buku lain yang mengajarkanmu tentang detail dan konten yang ada di laporan keuangan secara menyeluruh, nampaknya kamu akan menyesal. Karena seperti yang Pak Parahita bilang tadi, buku ini unik. Sama sekali berbeda dengan buku fundamental analysis yang lain. Buku ini hanya fokus ke beberapa bagian dasar yang tentu saja sangat krusial.

Sesuatu yang membuat buku ini menarik dibaca adalah, Jun Yamamoto dan Atsumu Ogawa sebagai penulis menuangkan gagasan mereka dengan berbentuk cerita khas komik-komik dari Jepang. Iya, komik.

Dengan penyampaian berbentuk komik ini, kamu sebagai pembaca akan dibawa oleh penulis mengikuti cerita dua orang investor yang kebingungan karena saham yang mereka pilih ternyata turun terus-menerus, padahal nilai fundamental bagus. Apa yang salah?

Nah, akhirnya dua orang investor ini menemui seorang analis sekuritas bernama Atsushi Yamashita. Dari sini petualangan pembelajaran mereka, dan kita sebagai pembaca, mengenai analisa laporan keuangan dimulai. Yamashita mulai menjelaskan satu per satu bagian dari laporan keuangan yang dianggap harus diperhatikan secara lebih detail dibanding dengan yang lain.

Dalam buku ini kamu akan menemukan beberapa istilah yang cukup teknis mengenai laporan keuangan, namun meski begitu masih under control lah, dalam arti masih bisa dipahami kaum awam.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, buku ini sama sekali tidak bertujuan untuk mengupas seluruh isi laporan keuangan. Namun lebih fokus kepada bagian penting yang biasanya terlihat bagus namun rawan untuk dimanipulasi seperti pada bagian revenue dan cost-cost yang ada di income statement. Penulis juga menjelaskan jika sebagai investor kita harus menganalisa revenue mereka apakah perusahaan sedang menggelembungkan pendapatan atau justru menunda pendapatan.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh perbedaan standar pencatatan akuntasi yang besar pengaruhnya terhadap performa bisnis perusahaan.

Pada dasarnya Atsushi Yamashita sebagai tokoh analis sekuritas di ‘komik’ ini ingin menjelaskan bahwa kita nggak boleh menelan mentah-mentah angka yang tercatat dari laporan keuangan perusahaan. Kita harus mengetahui apa dasar yang digunakan mengapa bisa menghasilkan angka tersebut.

Menurut saya buku ini cukup bagus untuk mereka yang ingin mengambil keputusan investasi berdasarkan laporan keuangan perusahaan, supaya bisa menghindari ‘tipuan’ catatan pertumbuhan performa yang bagus dari perusahaan itu sendiri.

Meski begitu, penulis buku ini nampaknya hanya berfokus kepada contoh-contoh perusahaan yang terlihat bagus namun bermasalah. Sama sekali tidak ada contoh perusahaan yang terlihat jelek namun sebenarnya bagus. Jadi bisa dibilang, buku ini adalah buku defensive, sebagai pengetahuan untuk menghindari resiko bukan untuk mencari keuntungan dibalik saham yang meragukan.

Dengan harga Rp 42,000 di Gramedia yang isinya sekitar 150 halaman, buku ini bisa selesai dibaca dalam beberapa jam saja mengingat isinya berupa cerita komik yang menarik dan menghibur untuk dibaca sampai akhir.

Saya memberikan rating 7.1/10 untuk kreativitas penulis dalam menyajikan penyamapaian yang menyenangkan untuk dibaca.

Mengenal Metode Investasi Walter Schloss Sang Super Investor

w5Jika kita bicara mengenai value investor, pasti sosok yang langsung muncul di kepala adalah Warren Buffet. Bukan tanpa alasan, hingga saat ini reputasi beliau sebagai value investor memang belum ada yang menandingi. Prinsip dan gaya investasinya pun seakan nggak termakan jaman meski gaya bisnis perusahaan selalu berevolusi. Meski begitu, ada sosok lain yang sebenarnya nggak kalah saktinya sebagai value investor, dia lah Walter Schloss.

Hal yang menarik dari Walter Schloss adalah dia tidak pernah merasakan bangku kuliah sama sekali. Saat usianya 18 tahun, dia mulai terjun ke Wallstreet dan bekerja di Carl M. Loeb & Co. Berangkat dari guru yang sama dengan Warren Buffet yaitu Benjamin Graham, Walter Schloss tumbuh sebagai value investor dengan mengamalkan buku “Security Analysis” karangan Graham dan Doddsville. Hingga akhirnya Schloss juga sempat merasakan bekerja di bawah Ben Graham sendiri lewat Graham-Newton Partnership sebelum pada 1955 dia meluncurkan dana kelolaannya sendiri.

Sejak pertama kali meluncurkan dana kelolaannya sendiri hingga tahun 2002, Schloss berhasil mencatatkan return tahunan rata-rata sebesar 16% bersih setelah dikurangin biaya-biaya. Jauh diatas indeks S&P yang hanya mencatatkan rata-rata 10% setiap tahun dengan periode yang sama.

Schloss-returns
Source: Valuewalk

Tabel diatas adalah hisotorical return dari dana kelolaan Walter Schloss hingga 1984. Jika dibandingkan dengan return S&P maka grafik yang tergambar dari performa investasi Schloss nampak mirip dengan yang ada di postingan saya sebelumnya mengenai Mencoba Bermain-Main Dengan Hasil InvestasiTampak eksponensial.

Schloss-v-SP
Source: Valuewalk

Dengan pencapaian yang diatas rata-rata tersebut, membuat Warren Buffet mencatatkan nama Walter Schloss dalam salah satu Super Investor di tulisannya yang berjudul The Superinvestors of Graham-and-Doddsville. Bahkan Warren Buffet menghormati Walter Schloss sebagai “One of Good Guys of Wallstreet” di annual letter Berkshire Hathaway tahun 2006 lalu.

Filosofi Investasi Walter Schloss

Sebagai value investor, tentunya Walter Schloss juga menganut filosofi yang sama dengan Warren Buffet. Namun setiap investor pasti mempunyai preferensinya tersendiri dalam memilih saham yang akan ditempatkan di portofolio investasinya. Berikut adalah kriteria Walter Schloss dalam pemilihan saham:

  1. Perusahaan harus sudah mempunyai track record selama minimal 10 tahun
  2. Mempunyai sedikit (atau tidak sama sekali) long term debt
  3. Melilih perusahaan dengan book value yang terdiskon minimal 20%
  4. Menyukai saham yang mayoritas sahamnya dimiliki manajemen sendiri

Kalau diperhatikan, keempat kriteria tersebut bisa dibilang standarnya seorang value investor dalam memilih saham. Mereka menyukai saham yang murah, Schloss sendiri mendefinisikan saham murah dari book value yang dihitung berdasarkan tangible assets seperti cash dan fixed assets.

Meski begitu, tetap ada satu hal yang membedakan antara Schloss dan value investor yang lain. Bahkan cenderung berkebalikan dengan Warren Buffet, perbedaan ini muncul dalam portfolio construction mereka.

Jika Warren Buffet cenderung fokus membeli beberapa perusahaan yang dia yakin dengan kemampuan manajemennya, Walter Schloss lebih berusaha mengamankan portofolio investasinya dengan memilih puluhan saham bahkan bisa sampai 100 saham dalam satu portofolio karena dia merasa ‘tak sebagus Warren Buffet dalam menganalisa manajemen perusahaa’. Sehingga diversifikasi penuh menjadi pilihan guna mengurangi kesalahan judgement terhadap saham perusahaan tertentu.

Dengan banyaknya saham yang ada di keranjang investasi itu pun Walter Schloss membatasi proporsi satu saham tidak boleh melebihi 20% dari total keseluruhan portofolio.

Walter-Schloss-approach-summary
Source: AAII

Sekarang pertanyaannya adalah, bisa kah metode pemilihan saham dan penyusunan portofolio investasi versi Walter Schloss diterapkan di pasar modal Indonesia? Well, menurut saya pribadi, jika kita bicara mengenai pemilihan saham murah secara value mungkin masih sangat possible untuk menemukan saham berkualitas di pasar modal Indonesia saat ini.

Terlepas dari dominasi UNVR dan HMSP di bursa karena solidnya perusahaan tersebut sudah termasuk ‘jaminan mutu’, saham seperti PWON, JRPT, ACES, BBRI, KLBF merupakan contoh saham berkualitas yang akan masuk portofolio Schloss, meski memang dengan catatan menunggu saat harga dikatakan murah dulu.

Tantangannya adalah, jika kita harus mencari puluhan hingga ratusan saham untuk dimasukan ke dalam satu keranjang portfolio itu termasuk pekerjaan yang tidak mudah tentunya. Bahkan untuk menilai satu saham pun cukup memerlukan banyak waktu dan usaha. Selain itu dengan total ‘hanya’ 500an perusahaan yang tercatat di bursa saat ini, akan cukup sulit menemukan perusahaan yang benar-benar berkualitas dengan jumlah yang banyak. Percayalah, 10 dari 500 itu sudah cukup banyak jika kita bicara kualitas.

Berikut ada video Walter Schloss menjelaskan perjalanan karir investasi dan filosofinya.

https://www.youtube.com/watch?v=9OHNPqls838

Jadi, apakah anda tertarik mengikuti gaya beliau?

Salah satu yang saya sukai dari Walter Schloss adalah lebih ke personality dan gaya hidupnya. Dia termasuk orang yang frugal atau berhati-hati dalam hal pengeluaran. Ketika dia menghasilkan net profit sebesar $19,000,000, pengeluaran kantor Schloss hanya sebesar $11,000.

Mencoba Bermain-Main Dengan Hasil Investasi

Sebagai anak muda yang sedang berusaha menyiapkan banyak hal demi membangun rumah tangga yang aduhay, urusan money management tentu nggak bisa dilewatkan. Kamu yang usianya kurang lebih sama dengan saya pun harusnya juga mulai memikirkan hal yang sama. Beruntungnya, saya barusaja menemukan sesuatu yang mungkin akan berguna juga bagi yang lain. Masih tentang investasi tentunya.

Saya mencoba membuat simulasi sederhana mengenai hasil dari investasi atau tabungan atau apalah itu terserah kamu menyebutnya bagaimana, dengan beberapa kondisi seperti return yang diharapkan per tahunnya dan mulai kapan untuk serius dalam berinvestasi.

Hasilnya cukup mengejutkan, ternyata semakin dini kamu memulai hasilnya akan berbeda jauh dengan mereka yang menunda untuk berinvestasi.

Supaya mudah membayangkannya, berikut saya coba untuk menjelaskan dengan contoh teman-teman saya dibawah ini. Hanya contoh lho ya.

Mega, seorang lelaki yang giat dan rajin bekerja mencoba mulai berinvestasi pada usia 25 tahun dengan nominal awal sebesar Rp 1 juta dan dilanjutkan auto debet Rp 500 ribu setiap bulannya. Mega memilih produk investasi dengan return 13% per tahun.

Anty, wanita karir yang selalu sibuk baru akan mulai berinvestasi pada usia 30 tahun dengan nominal awal sebesar Rp 5 juta yang kemudian akan ditambah sebesar Rp 500 ribu setiap bulannya. Anty memilih produk investasi dengan return 15% per tahun.

Chintamy, ibu rumah tangga yang sadar betul tidak bisa terus-terusan menggantungkan penghasilan dari suaminya baru berinvestasi pada usia 35 tahun dengan nominal awal sebesar Rp 10 juta yang kemudian juga menyisihkan Rp 500 ribu setiap bulannya guna menambah nilai investasinya. Chintamy memilih produk investasi dengan return 17% per tahun.

Anny, memulai investasi dengan usia yang sama seperti Mega yaitu saat 25 tahun dengan modal awal sebesar Rp 1 juta juga. Namun karena lebih memilih boros belanja, Anny hanya menyisihkan Rp 200 ribu untuk investasi setiap bulannya. Meski begitu dia memilih produk investasi dengan return 20% per tahun.

Name Age Initial Investment Monthly Saving Return
Mega 25 Rp1,000,000 Rp500,000 13%
Anty 30 Rp5,000,000 Rp500,000 15%
Chintamy 35 Rp10,000,000 Rp500,000 17%
Anny 25 Rp1,000,000 Rp200,000 20%

Keempat orang tersebut memiliki tujuan investasi yang digunakan untuk hari tua, maka dari itu hasi investasi akan terus compounded setiap tahunnya hingga mereka sama-sama berumur 55 tahun.

Seperti yang saya bilang tadi, semakin muda dalam memulai investasi, semakin tinggi jumlah yang dihasilkan di masa mendatang.

Tabel diatas menjelaskan bahwa Mega yang mulai investasi sejak dini menghasilkan return yang paling besar dibandingkan tiga orang lainnya hingga mencapai Rp 1.75 miliyar pada usia 55 tahun atau 30 tahun masa investasi.

Berbeda dengan Chintamy, meskipun memulai investasi dengan nominal awal dan return tahunannya  lebih besar dari Mega tapi dia hanya mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 1.00 miliyar dalam jangka waktu 20 tahun. Hal ini juga berlaku pada Anty dengan kondisi yang sama, selisih memulai investasi berjarak 5 tahun lebih telat dari Mega namun hasil investasinya ‘hanya’ Rp 1.42 miliyar atau Rp 300 juta dibawah pencapain Mega.

Sekarang coba kita lihat hasil investasinya Anny, meski uang bulanan yang disisihkan hanya sebesar Rp 200 ribu dan nominal awal sebesar Rp 1 juta, pada saat usia yang sama, 55 tahun, nilai investasinya justru diatas dari Anty dan Chintamy yaitu sebesar Rp 1.68 miliyar.

See? Bisa ditarik kesimpulan bahwa semakin muda kamu memulai investasi, maka semakin besar pula return yang akan di dapatkan dimasa mendatang.

Kenapa hal ini bisa demikian? Compound interest, it is. Ketika return investasi yang diperoleh setiap tahunnya kembali diinvestasikan, dan berulang setiap tahunnya, maka akan berlaku yang namanya ‘bunga berbunga’ atau seperti yang saya bilang tadi, compound interest. Jika kembali melihat pada grafik diatas, chart menunjukan pertumbuhan yang eksponensial berarti semakin lama jangka waktu investasimu semakin tinggi pula nilai kalinya.

Alright, Mr Smartass. It’s hard to argue with Albert Einstein when it comes to numeric, calculation, and the other complicated hell.

Jadi, kembali ke hasil investasi diatas, masih kah kamu mau menunda untuk menabung dan berinvestasi?

Disclosure: Hasil Kalkulasi Investment Return