Misconception Antara Investor dan Trader

Ada satu tulisan yang nggak sengaja saya temukan di timeline Twitter dan itu bisa membuat saya benar-benar pissed off. Tulisan ini membahas tentang beberapa tipe trader saham, dipublish oleh salah satu forum perkumpulan trader saham di Indonesia yang cukup terkenal. Sayangnya, sebagian besar dari isi tulisannya sangat tidak bisa digunakan untuk pembelajaran bagi para awam yang baru mengenal saham. Ini bahaya. Bisa menyesatkan.

Pada tulisan tersebut menjelaskan tentang tipe trader yang dibagi berdasarkan timeframe dalam transaksi. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Mulai dari scalper, day trader, swing trader, position trader. Dari keempat tipe trader tersebut dibedakan oleh seberapa lama mereka melakukan jual beli saham, mulai dari scalper yang rentangnya hanya dalam hitungan jam hingga position trader yang memanfaatkan trend harga (bullish atau bearish).

Tidak sampai disitu saja, penulisnya melengkapi beberapa macam trader pada tulisan tersebut dengan rentang yang lebih lama lagi dan dia menyebutnya sebagai investor. Iya, investor. Jadi menurut penulis, investor adalah trader dengan jangka waktu paling lama. Seriously?

Alasan Kenapa Saya Tidak Tertarik Dengan Reksadana Saham

Akhir-akhir ini saya sering ditanya tentang beberapa hal mengenai reksadana oleh teman kantor saya, mulai dari caranya hingga reksadana mana yang paling menguntungkan. Bukan tanpa sebab, soalnya dia baru saja diberi tawaran beberapa macam jenis reksadana oleh salah satu asset management yang lokasinya tidak jauh dari kantor. Cukup lengkap memang, semua jenis reksadana (saham, fixed income, campuran, syariah) tersedia. Saya pun akhirnya juga ikut cek semua fund fact sheet yang ditawarkan itu.

Meskipun pada akhirnya hal itu semakin memperkuat pandangan saya tentang reksadana, khususnya reksadana saham. Harus diakui bahwa sampai saat ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat reksadana saham itu terlihat menarik sebagai salah satu pilihan investasi untuk saya pribadi. Disclosure yang tidak terlalu ter-disclose, begitu lah yang saya rasakan.

Ketika saya mendatangi booth salah satu asset management di acara Invest Day yang diadakan Bareksa pada akhir tahun lalu, saya melihat salah satu fund fact sheet reksadana saham dan menanyakan pada petugasnya, “Mas, kenapa saham yang ditampilkan disini hanya yang mayoritas aja? Sisanya ada saham apa aja?”.

Belajar Melihat Resiko Dari Film The Big Short

movieposterSatu lagi film baru tentang dunia keuangan rilis pada akhir tahun 2015 lalu yaitu The Big Short, meski baru tayang di Indonesia sekitar akhir Januari 2016. Film ini melengkapi jejeran film yang menceritakan tentang krisis subprime mortgage tahun 2008 di US, menyusul Too Big Too Fail dan Inside Job.

Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Too Big Too Fail menceritakan tentang jatuhnya bank-bank besar di Amerika, sedangkan Inside Job mengambil sudut pandang lebih luas dari sisi pakar ekonomi hingga akademisi yang dikemas dalam bentuk film dokumenter, The Big Short lebih fokus kepada cerita bagaimana hedge fund manager menemukan sumber krisis hingga bertaruh dengan keadaan yang akan terjadi demi tetap mendapatkan gain dalam situasi tersebut.

[Kompilasi] Market Outlook Indonesia 2016

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan ikut free seminar yang diadakan oleh KDB Daewoo Securities tentang Market Outlook 2016, meskipun hanya bertahan beberapa menit karena penyampaiannya yang membosankan dan membuat lapar, setidaknya materi presentasi sudah dikirim via email. Oke lah, it doesn’t matter.

Berawal dari situ lah, saya mencoba mengumpulkan beberapa Market Outlook 2016 dari berbagai macam sekuritas. Ya, saya salah satu orang yang menganggap Market Outlook itu penting sebagai peta dan petunjuk berinvestasi dalam setahun kedepan, dan harusnya anda pun seperti itu.

Dikutip dari beberapa grup chatting dan ada pula sumbangan dari broker saya juga, saya berhasil mengumpulkan kurang lebih belasan Market Outlook 2016 yang isinya pun sebenarnya macam-macam dari sisi pasar modal atau ada juga yang membahas makro ekonomi secara global.

Selebihnya bisa download satu-satu, berikut daftarnya:

AISA: Blunder Fatal Dari Salah Satu Primadona BEI

Minggu ini saya dikejutkan oleh pergerakan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) yang dua hari berturut-turut turun lebih dari 9%, bahkan pada tanggal 20 Januari kemarin sempat auto reject kiri yang berarti penurunan harga saham sudah mencapai batas maksimal. Sudah mentok. Nggak bisa turun lagi.

Sebenarnya sejak pertengahan tahun lalu harga saham AISA secara perlahan sudah mulai menunjukan penurunan dari harga tertingginya di level 2,125 yang berlanjut hingga penutupan akhir tahun 2015 harganya jatuh pada angka 1,120. Sampai pada akhirnya menarik banyak perhatian investor pada tanggal 20 dan 21 Januari lalu yang harganya menyentuh level terendah pada angka 935. Sesuatu yang sangat mengherankan ketika harga saham turun hingga separuh harga dalam rentang kurang dari satu tahun.

Perlu diketahui bahwa diantara 500an perusahaan yang listed di BEI, AISA merupakan salah satu saham yang mempunyai nilai fundamental diatas rata-rata. Bahkan pada semester kedua tahun 2013 lalu