Analysis

First Step In Fundamental Analysis

kol-first-step-analysisWeekend lalu saya diajak teman ke Gramedia di Grand Indonesia yang tujuan sebenarnya hanya untuk membeli merchandise. Tak mau membuang waktu saya berkeliling di bagian rak buku investasi dan keuangan, seperti ritual biasanya saat mengunjungi gramedia, akhirnya saya menemukan buku ini. First Step In Fundamental Analysis, Memahami Investasi Saham Melalui Laporan Keuangan.

Bukan pertama kali saya mendengar tentang buku ini, karena sebelumnya Pak Parahita melalui forumnya mengatakan bahwa ini buku unik yang layak dibaca sebelum menganalisa saham lebih jauh lagi. Well, akhirnya saya putuskan untuk membelinya. Meskipun sedikit diketawain sama temen karena mungkin dari judulnya terkesan untuk yang masih newbie. Lah, emang saya bukan newbie apa? Hehehe.

[Kompilasi] Market Outlook Indonesia 2016

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan ikut free seminar yang diadakan oleh KDB Daewoo Securities tentang Market Outlook 2016, meskipun hanya bertahan beberapa menit karena penyampaiannya yang membosankan dan membuat lapar, setidaknya materi presentasi sudah dikirim via email. Oke lah, it doesn’t matter.

Berawal dari situ lah, saya mencoba mengumpulkan beberapa Market Outlook 2016 dari berbagai macam sekuritas. Ya, saya salah satu orang yang menganggap Market Outlook itu penting sebagai peta dan petunjuk berinvestasi dalam setahun kedepan, dan harusnya anda pun seperti itu.

Dikutip dari beberapa grup chatting dan ada pula sumbangan dari broker saya juga, saya berhasil mengumpulkan kurang lebih belasan Market Outlook 2016 yang isinya pun sebenarnya macam-macam dari sisi pasar modal atau ada juga yang membahas makro ekonomi secara global.

Selebihnya bisa download satu-satu, berikut daftarnya:

Konspirasi Wahyudi itu Bernama Analisa Teknikal

Pagi-pagi sekitar jam 7.30 setelah selesai sarapan aku biasanya lanjut duduk di teras rumah menikmati kopi yang udah disediakan istri sambil sesekali membagi fokus kepada koran langganan bulanan dan Twitter untuk sekedar update berita kondisi bursa saham lokal dan dunia khususnya stock pick pada hari itu.

Ya, seperti itu pagi yang selalu aku dambakan, meski saat ini masih jauh dari kondisi seperti itu. Memang begitu lah seharusnya kehidupan sebagai full time investor yang, kata motivator, udah mencapai kebebasan finansial dengan passive income yang mereka dapatkan.

Meskipun sebenarnya seorang investor sungguhan akan cenderung mengabaikan stock pick yang muncul dengan liarnya di Twitter dan juga grup chatting, atau lebih tepatnya, tersenyum sinis terhadap rekomendasi-rekomendasi harian tersebut.

Rekomendasi saham harian, berarti jelas bahwa itu adalah

How to Read an Annual Report

Percayalah, tulisanku kali ini nggak akan menjawab pertanyaan pada judul. Jadi jangan berharap banyak. How to read an annual report? Lah aku kan sebenernya nanya beneran, bukannya mau ngasih tau hehehe. Soalnya ini ilmu dasar bagi semua yang pengen jadi investor, entah investor di pasar modal atau investor riil sekalipun. Ilmu yang sebenarnya simpel tapi bisa jadi teramat kompleks tergantung industri dan perkembangan bisnis jaman sekarang. Jadi, bukan aku yang bakal jelasin.

Aku ngerasa masih harus membahas tentang annual report ini karena pada tulisan sebelumnya yang sok-sokan pengen jadi investment analyst menyebutkan bahwa kita sebagai investor ditantang untuk bisa membuat angka-angka yang terdapat pada financial statement, bagian penting dari annual report, berbicara. Ya, kita harus bisa membuat setiap data yang terdapat pada laporan tahunan tersebut menceritakan semua kondisi bisnis pada perusahaan pada periode tersebut.

Beruntung lah aku menemukan seseorang bernama Jane Bryant Quinn, seorang financial journalist yang sering membahas dunia keuangan entah itu marko ekonomi, mikro ekonomi, hingga personal finance. Kebetulan Ibu Jane ini pernah menulis artikel yang berjudul “How to Read Annual Report” pada tahun 1980 lalu dan cukup viral saat itu.

Pura-Pura Menjadi Investment Analyst

Setelah beberapa bulan lalu aku nulis sedikit ulasan tentang PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, sejak saat itu juga lah aku merasa nggak lebih pinter dari anak TK yang mau nukerin selembar uang Rp 5,000 dengan recehan Rp 500 dengan alasan uang koin Rp 500 nggak bisa sobek. Pokonya ngerasa polos dan too fast to make conclusions. Ya gitu deh.

Meski begitu, dengan menjunjung semangat ala trader pemula yang nggak pernah kapok ngikutin kemana arah bandar saham, aku mencoba kembali ke pokok permasalahan awal. Apa sih? Pertanyaan yang mendasar sekali. Apa sih yang perlu diperhatikan ketika kita mau menganalisa sebuah perusahaan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita berpura-pura menjadi seorang investment analyst.