Tentang Hutang dan Bagaimana Menyikapinya

Rencana Presiden Jokowi untuk relaksasi defisit APBN menjadi 5.07% dari GDP selama tiga tahun kedepan sebagai langkah untuk menghadapi pandemi Covid-19 berarti akan membuat pemerintah menambah hutang sebesar Rp 3,500 Triliun selama periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi, kira-kira seperti itu kata salah satu tokoh politik melalui twitternya. Saya sendiri tidak tahu angka tersebut darimana, meskipun memang logis jika pada akhirnya nanti pemerintah akan menambah hutang untuk menambal defisitnya.

Logis, iya, dan memang wajar jika ada yang mengkritisi, tapi apakah masyarakat akan mudah memahami konteks secara luas jika narasi yang dibangun dimulai dari kata “hutang”? Kira-kira begini, “Pemerintah akan memberikan stimulus sebesar Rp 405.1 Triliun sebagai langkah penanganan pandemi Covid-19 yang sebagian sumber dananya dari hutang”. Saya rasa tidak semudah itu, dari segi jumlah stimulusnya saja sudah muncul berbagai macam tanggapan, apalagi jika ditambah dengan informasi setengah-setengah seperti “hutang” yang disebutkan tokoh politik tadi secara gelondongan tanpa menjelaskan detail dari stimulus itu sendiri, let alone hasil yang diharapkan dari stimulusnya.

Continue reading “Tentang Hutang dan Bagaimana Menyikapinya”