Emiten

AISA: Blunder Fatal Dari Salah Satu Primadona BEI

Minggu ini saya dikejutkan oleh pergerakan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) yang dua hari berturut-turut turun lebih dari 9%, bahkan pada tanggal 20 Januari kemarin sempat auto reject kiri yang berarti penurunan harga saham sudah mencapai batas maksimal. Sudah mentok. Nggak bisa turun lagi.

Sebenarnya sejak pertengahan tahun lalu harga saham AISA secara perlahan sudah mulai menunjukan penurunan dari harga tertingginya di level 2,125 yang berlanjut hingga penutupan akhir tahun 2015 harganya jatuh pada angka 1,120. Sampai pada akhirnya menarik banyak perhatian investor pada tanggal 20 dan 21 Januari lalu yang harganya menyentuh level terendah pada angka 935. Sesuatu yang sangat mengherankan ketika harga saham turun hingga separuh harga dalam rentang kurang dari satu tahun.

Perlu diketahui bahwa diantara 500an perusahaan yang listed di BEI, AISA merupakan salah satu saham yang mempunyai nilai fundamental diatas rata-rata. Bahkan pada semester kedua tahun 2013 lalu

Menilai Kinerja Saham Defensive Tahun 2015

Hari ini secara resmi menjadi hari terakhir perdagangan di bursa saham Indonesia untuk tahun 2015, IHSG ditutup pada level 4,593.01 naik 0.51% atau 23.65 poin. Meski begitu return IHSG tahun 2015 ini secara menyedihkan membukukan penurunan sebesar -12.13% YoY setelah melewati gejolak perekonomian yang cukup menghantam performa emiten.

Gejolak perekonomian global memang menjadi kambing hitam utama dalam merosotnya performa indeks tahun ini. Mulai dari tarik-ulur The Fed dengan suku bunganya, kondisi ekonomi China yang mulai slowing down, sampai nilai Rupiah yang sempat nyentuh 15,000 per Dollar.

Disisi lain, aku kepikiran bagaimana dengan performa saham-saham defensive ketika kondisi ekonomi sedang nggak terlalu menguntungkan. Saham-saham yang katanya cukup bandel daya tahannya dengan keadaan ekonomi makro. Cukup beralasan memang, karena saham defensive ini mengandalkan kekuatan daya beli masyarakat lewat kebutuhan primer mereka. Jadi, nggak peduli hujan angin atau bumi kejatuhan meteor sekalipun orang-orang tetep butuh makanan dan pakaian kan?

Nah, lewat tulisan kali ini aku pengen coba membuktikan ketahanan saham defensive tersebut selama tahun 2015.

Pura-Pura Menjadi Investment Analyst

Setelah beberapa bulan lalu aku nulis sedikit ulasan tentang PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, sejak saat itu juga lah aku merasa nggak lebih pinter dari anak TK yang mau nukerin selembar uang Rp 5,000 dengan recehan Rp 500 dengan alasan uang koin Rp 500 nggak bisa sobek. Pokonya ngerasa polos dan too fast to make conclusions. Ya gitu deh.

Meski begitu, dengan menjunjung semangat ala trader pemula yang nggak pernah kapok ngikutin kemana arah bandar saham, aku mencoba kembali ke pokok permasalahan awal. Apa sih? Pertanyaan yang mendasar sekali. Apa sih yang perlu diperhatikan ketika kita mau menganalisa sebuah perusahaan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita berpura-pura menjadi seorang investment analyst.