Investment

Membaca Perekonomian Indonesia dari Komponen Penyusun PDB

Bulan Februari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2017 dengan pencapaian 5.07%, naik tipis dari tahun lalu yaitu 5.02%. Meski begitu angka tersebut masih dibawah target pemerintah yang dituangkan dalam asumsi dasar ekonomi makro pada anggaran dasar APBN 2017 sebesar 5.10%, bahkan beberapa institusi international seperti ADB dan IMF pun punya prediksi yang lebih tinggi yaitu 5.20%. Jadi, secara pribadi tentunya saya kurang puas dengan pencapaian tersebut.

PDB sendiri sampai saat ini masih menjadi indikator utama untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika dilihat dari beberapa tahun terakhir memang pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu dibawah ekspektasi. Berbagai macam spekulasi

Mencoba Bermain-Main Dengan Hasil Investasi

Sebagai anak muda yang sedang berusaha menyiapkan banyak hal demi membangun rumah tangga yang aduhay, urusan money management tentu nggak bisa dilewatkan. Kamu yang usianya kurang lebih sama dengan saya pun harusnya juga mulai memikirkan hal yang sama. Beruntungnya, saya barusaja menemukan sesuatu yang mungkin akan berguna juga bagi yang lain. Masih tentang investasi tentunya.

Saya mencoba membuat simulasi sederhana mengenai hasil dari investasi atau tabungan atau apalah itu terserah kamu menyebutnya bagaimana, dengan beberapa kondisi seperti return yang diharapkan per tahunnya dan mulai kapan untuk serius dalam berinvestasi.

Hasilnya cukup mengejutkan, ternyata semakin dini kamu memulai hasilnya akan berbeda jauh dengan mereka yang menunda untuk berinvestasi.

Menilai Kinerja Saham Defensive Tahun 2015

Hari ini secara resmi menjadi hari terakhir perdagangan di bursa saham Indonesia untuk tahun 2015, IHSG ditutup pada level 4,593.01 naik 0.51% atau 23.65 poin. Meski begitu return IHSG tahun 2015 ini secara menyedihkan membukukan penurunan sebesar -12.13% YoY setelah melewati gejolak perekonomian yang cukup menghantam performa emiten.

Gejolak perekonomian global memang menjadi kambing hitam utama dalam merosotnya performa indeks tahun ini. Mulai dari tarik-ulur The Fed dengan suku bunganya, kondisi ekonomi China yang mulai slowing down, sampai nilai Rupiah yang sempat nyentuh 15,000 per Dollar.

Disisi lain, aku kepikiran bagaimana dengan performa saham-saham defensive ketika kondisi ekonomi sedang nggak terlalu menguntungkan. Saham-saham yang katanya cukup bandel daya tahannya dengan keadaan ekonomi makro. Cukup beralasan memang, karena saham defensive ini mengandalkan kekuatan daya beli masyarakat lewat kebutuhan primer mereka. Jadi, nggak peduli hujan angin atau bumi kejatuhan meteor sekalipun orang-orang tetep butuh makanan dan pakaian kan?

Nah, lewat tulisan kali ini aku pengen coba membuktikan ketahanan saham defensive tersebut selama tahun 2015.

Pura-Pura Menjadi Investment Analyst

Setelah beberapa bulan lalu aku nulis sedikit ulasan tentang PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, sejak saat itu juga lah aku merasa nggak lebih pinter dari anak TK yang mau nukerin selembar uang Rp 5,000 dengan recehan Rp 500 dengan alasan uang koin Rp 500 nggak bisa sobek. Pokonya ngerasa polos dan too fast to make conclusions. Ya gitu deh.

Meski begitu, dengan menjunjung semangat ala trader pemula yang nggak pernah kapok ngikutin kemana arah bandar saham, aku mencoba kembali ke pokok permasalahan awal. Apa sih? Pertanyaan yang mendasar sekali. Apa sih yang perlu diperhatikan ketika kita mau menganalisa sebuah perusahaan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita berpura-pura menjadi seorang investment analyst.