Outlook

Membaca Perekonomian Indonesia dari Komponen Penyusun PDB

Bulan Februari lalu Badan Pusat Statistik (BPS) resmi mengumumkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2017 dengan pencapaian 5.07%, naik tipis dari tahun lalu yaitu 5.02%. Meski begitu angka tersebut masih dibawah target pemerintah yang dituangkan dalam asumsi dasar ekonomi makro pada anggaran dasar APBN 2017 sebesar 5.10%, bahkan beberapa institusi international seperti ADB dan IMF pun punya prediksi yang lebih tinggi yaitu 5.20%. Jadi, secara pribadi tentunya saya kurang puas dengan pencapaian tersebut.

PDB sendiri sampai saat ini masih menjadi indikator utama untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika dilihat dari beberapa tahun terakhir memang pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu dibawah ekspektasi. Berbagai macam spekulasi

[Kompilasi] Market Outlook Indonesia 2016

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan ikut free seminar yang diadakan oleh KDB Daewoo Securities tentang Market Outlook 2016, meskipun hanya bertahan beberapa menit karena penyampaiannya yang membosankan dan membuat lapar, setidaknya materi presentasi sudah dikirim via email. Oke lah, it doesn’t matter.

Berawal dari situ lah, saya mencoba mengumpulkan beberapa Market Outlook 2016 dari berbagai macam sekuritas. Ya, saya salah satu orang yang menganggap Market Outlook itu penting sebagai peta dan petunjuk berinvestasi dalam setahun kedepan, dan harusnya anda pun seperti itu.

Dikutip dari beberapa grup chatting dan ada pula sumbangan dari broker saya juga, saya berhasil mengumpulkan kurang lebih belasan Market Outlook 2016 yang isinya pun sebenarnya macam-macam dari sisi pasar modal atau ada juga yang membahas makro ekonomi secara global.

Selebihnya bisa download satu-satu, berikut daftarnya:

AISA: Blunder Fatal Dari Salah Satu Primadona BEI

Minggu ini saya dikejutkan oleh pergerakan saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) yang dua hari berturut-turut turun lebih dari 9%, bahkan pada tanggal 20 Januari kemarin sempat auto reject kiri yang berarti penurunan harga saham sudah mencapai batas maksimal. Sudah mentok. Nggak bisa turun lagi.

Sebenarnya sejak pertengahan tahun lalu harga saham AISA secara perlahan sudah mulai menunjukan penurunan dari harga tertingginya di level 2,125 yang berlanjut hingga penutupan akhir tahun 2015 harganya jatuh pada angka 1,120. Sampai pada akhirnya menarik banyak perhatian investor pada tanggal 20 dan 21 Januari lalu yang harganya menyentuh level terendah pada angka 935. Sesuatu yang sangat mengherankan ketika harga saham turun hingga separuh harga dalam rentang kurang dari satu tahun.

Perlu diketahui bahwa diantara 500an perusahaan yang listed di BEI, AISA merupakan salah satu saham yang mempunyai nilai fundamental diatas rata-rata. Bahkan pada semester kedua tahun 2013 lalu