Saham

PWON: Menjaga Keseimbangan Sumber Pendapatan

preview-pt_pakuwon_jati_tbkKetika salah satu sektor inti pendorong perekonomian seperti properti mulai menunjukan kelesuannya sejak tahun lalu, ada satu perusahaan yang menurut saya masih mampu menjaga performa bisnisnya yaitu PT Pakuwon Jati Tbk (PWON). Pada laporan Q1 2016, PWON mencatatkan penjualan sebesar Rp 1.24 triliyun atau naik 6.9% dari periode yang sama pada tahun 2015. Kenaikan tersebut juga dibarengi oleh tingginya kenaikan laba bersih yaitu tumbuh 65.3% menjadi Rp 543.22 miliyar.

Meskipun masih ada juga beberapa emiten lain yang mencatatkan kenaikan pendapatan, namun PWON dinilai masih unggul dalam menjaga stabilitas pertumbuhannya. Tercatat sejak tahun 2010, PWON mampu menjaga pertumbuhan penjualan diatas 10% termasuk pada saat industri properti sedang kurang bergairah.

Menyikapi Hasil Valuasi Saham

Pada tulisan sebelumnya saya berbagi mengenai brief result of my valuation spreadsheet yang mengabil PT ACE Hardware sebagai contohnya. Sebenarnya ada banyak data yang mau saya share juga sekaligus, namun saat itu saya hanya fokus pada fair value saham tersebut.

Berdasarkan hitungan yang saya buat dengan data terakhir tanggal 13 April 2016, ACES mempunyai fair value sebesar Rp 724 per saham atau sedikit overvalued dibandingkan dengan harga pasar pada saat itu.

Mudah untuk menyimpulkan bahwa harga ACES sudah cukup mahal untuk dibeli. Meski begitu, apakah semua keputusan investasi hanya berdasarkan penghitungan fair value?

ACES: Earning Growth Menarik, Tapi…

Seakan tidak mau ketinggalan memanfaatkan momen jadwal rilis laporan keuangan audited FY 2015, kali ini saya mencoba berpartisipasi juga dalam mencari-cari perusahaan mana yang memiliki performa diatas rata-rata selama setahun kemarin. Disini saya mencoba untuk membuat spreadsheet valuasi saham untuk menentukan berapa nilai harga saham itu sebenarnya terlepas dari harga pasar.

Akhirnya pilihan saya jatuh pada PT Ace Hardware Tbk. Perusahan berkode ACES ini bergerak di industri ritel yang menjual peralatan rumah tangga, semua orang pasti tau lah ya.

Kalau ditanya alasan saya kenapa memilih saham ini, sebenarnya bukan karena yakin bahwa ACES mempunyai performa diatas rata-rata atau mempunyai prospek cerah. Saya belum tau. Bukan juga karena termasuk dalam The BEI Super Companies versi Pak Parahita. Saya milih ACES karena bisnisnya cukup mudah untuk dimengerti; mereka menjual peralatan rumah tangga, itu saja. Dengan bisnis yang fokus tersebut akan lebih mudah untuk membaca laporan keuangannya.

Misconception Antara Investor dan Trader

Ada satu tulisan yang nggak sengaja saya temukan di timeline Twitter dan itu bisa membuat saya benar-benar pissed off. Tulisan ini membahas tentang beberapa tipe trader saham, dipublish oleh salah satu forum perkumpulan trader saham di Indonesia yang cukup terkenal. Sayangnya, sebagian besar dari isi tulisannya sangat tidak bisa digunakan untuk pembelajaran bagi para awam yang baru mengenal saham. Ini bahaya. Bisa menyesatkan.

Pada tulisan tersebut menjelaskan tentang tipe trader yang dibagi berdasarkan timeframe dalam transaksi. Sudah bisa ditebak sebenarnya. Mulai dari scalper, day trader, swing trader, position trader. Dari keempat tipe trader tersebut dibedakan oleh seberapa lama mereka melakukan jual beli saham, mulai dari scalper yang rentangnya hanya dalam hitungan jam hingga position trader yang memanfaatkan trend harga (bullish atau bearish).

Tidak sampai disitu saja, penulisnya melengkapi beberapa macam trader pada tulisan tersebut dengan rentang yang lebih lama lagi dan dia menyebutnya sebagai investor. Iya, investor. Jadi menurut penulis, investor adalah trader dengan jangka waktu paling lama. Seriously?

Alasan Kenapa Saya Tidak Tertarik Dengan Reksadana Saham

Akhir-akhir ini saya sering ditanya tentang beberapa hal mengenai reksadana oleh teman kantor saya, mulai dari caranya hingga reksadana mana yang paling menguntungkan. Bukan tanpa sebab, soalnya dia baru saja diberi tawaran beberapa macam jenis reksadana oleh salah satu asset management yang lokasinya tidak jauh dari kantor. Cukup lengkap memang, semua jenis reksadana (saham, fixed income, campuran, syariah) tersedia. Saya pun akhirnya juga ikut cek semua fund fact sheet yang ditawarkan itu.

Meskipun pada akhirnya hal itu semakin memperkuat pandangan saya tentang reksadana, khususnya reksadana saham. Harus diakui bahwa sampai saat ini saya belum menemukan sesuatu yang membuat reksadana saham itu terlihat menarik sebagai salah satu pilihan investasi untuk saya pribadi. Disclosure yang tidak terlalu ter-disclose, begitu lah yang saya rasakan.

Ketika saya mendatangi booth salah satu asset management di acara Invest Day yang diadakan Bareksa pada akhir tahun lalu, saya melihat salah satu fund fact sheet reksadana saham dan menanyakan pada petugasnya, “Mas, kenapa saham yang ditampilkan disini hanya yang mayoritas aja? Sisanya ada saham apa aja?”.